Tinggalkan komentar

Cerpen: Kampung Margin

Cerpen  :  Odi Shalahuddin 

Sang mahasiswa itu sebenarnya tidak sengaja untuk menuliskan dan tidak pernah terpikir di kepalanya untuk menulis. Ini lantaran ketika ia berkenalan dengan salah seorang pemuda Kampung Margin di terminal, berbicara antar pribadi, dan untuk mengakrabkan diri ia berkunjung ke rumah pemuda itu. Seringnya kunjungan ke sana, ia mendapati hal-hal yang belum pernah menjadi pengalamannya.

Di hadapannya adalah realitas. Sebuah desa miskin yang gersang. Penduduknya mayoritas menjadi pekerja migran. Listrik belum ada dan jalanan sangat buruk. Dari dialog-dialognya dengan penduduk setempat, ia menemukan jenis pekerjaan mereka. Pekerjaan yang dianggap hina. Pengemis!

Ia melihat betapa jurang teramat curam antara penduduk asli dan seorang pendatang yang tiba-tiba mempunyai kekuasaan teramat besar untuk memungut upeti dari mereka dengan jaminan keamanan saat operasi di kota. Jaminan bila terjaring akan mudah lepas. Ia juga melihat aparat desa yang tidak memperhatikan penduduk Kampung Margin. Tidak tahu atau berpura-pura buta?

Itulah pertanyaan di kepalanya. Pertanyaan-pertanyaan di kepala yang menggelisahkan, pikiran-pikirannya yang beterbangan dengan beragam gagasan dan gugatan. Ia ingin melakukan sesuatu. Inilah yang mendorong ia untuk menulis bahwa dengan kesadaran tingkat minimal yang bisa ia lakukan. Dan  begitulah, tak terbayangkan respon besar masyarakat terhadap tulisannya. Namun bagaimana dengan masyarakat sendiri? Itu yang mengganjal di kepala mahasiswa itu.

Pemuda Kampung Margin, kawan barunya, teramat marah kepadanya. “Kau sengaja ingin menjual kemiskinan kami !” itu vonis yang diberikan.

Sang mahasiswa mencoba menjelaskan maksudnya. Tapi pemuda itu tak mau mendengarnya.

“Gara-gara kamu, Kampung kami justru mendapat kesulitan besar. Kepala kampung dipanggil Pak Kadus dan ditegur keras karena Pak Kadus juga ditegur keras oleh Pak Lurah yang mendapat tekanan dari Pak Camat lantaran Pak camat dipermalukan oleh Bupati pada pertemuan rutin antar camat. Dampak terbesar, kami dilarang melakukan pekerjaan itu lagi. Berapa ratus orang harus menanggung resiko lapar. Belum lagi beban mental karena mulut kami yang dipaksa harus terkunci kepada orang luar. Kamu tidak berpikir sampai ke sana,” dan pemuda itu mengusir sang Mahasiswa.

Sang mahasiswa yang merasa dibebani beban berat. Benarkah langkahnya? Terkadang ia merasa benar, terkadang ia merasa salah. Niatnya baik, namun hasilnya? Bila ia mau berpikir tentang dirinya, tentu tak akan ada persoalan didalam  dirinya.

Namanya cepat melambung, beberapa koran memintanya untuk menulis,

beberapa diskusi dan seminar sering ia mendapat undangan sebagai pembicara.Tapi tidak! Bukan itu maksud ia menulis. Dan bagaimana ia kehilangan seorang kawan, ia merasa bahwa tujuannya semula tidak tercapai. Justru hal yang terjadi kebalikan dari yang diinginkan. Ia telah memotong mata pencaharian dari ratusan orang, membuat mereka dihantam oleh teror kebisuan. Bagaimana untuk memperbaiki kesalahan ?

Sang mahasiswa merasa mendapat darah baru ketika media massa memberitakan beberapa lembaga dan perorangan banyak yang menyalurkan bantuan ke Kampung Margin. Pemerintah pusatpun sangat tanggap dengan pernyataan untuk membuat program peningkatan ekonomi masyarakat Kampung Margin dan pembinaan pengembangan manusianya.

“Mudah-mudahan sang kawan tidak melepaskan ikatan persahabatan,” kata suara batinnya berharap.

Dan sang mahasiswa itu tidak berusaha untuk ke Kampung Margin dalam waktu dekat. Meskipun dadanya bergemuruh dan kepalanya membayangkan situasi baru di kampung itu. Ia ingin datang pada saat yang ia rasa tepat. Setidaknya bila program bantuan sudah mendapatkan hasilnya. Menurut perhitungan, enam bulan adalah waktu tercepat baginya untuk berkunjung ke sana.

Dengan rajin sang mahasiswa mengikuti perkembangan kampung Margin melalui media massa. Tulisan-tulisan keberhasilan program disana membuat hatinya berbunga-bunga. Iapun mengklippingnya dengan rapi.

Pada saat penantian, sang mahasiswa telah membayangkan kemajuan-kemajuan di kampung Margin. Kerajinan bambu yang telah mendapat pasaran bagus dan ada yang telah di ekspor ke luar negeri, jalan kampung yang telah halus oleh aspal, WC-WC umum yang bertebaran di kampung, bentuk-bentuk rumah yang dindingnya sudah setengah tembok dengan atap genteng, kampung yang benderang oleh nyala listrik dan sebagainya dan sebagainya sebagaimana ia tangkap dari berita koran.

“Sesungguhnya masyarakat kita masih mempunyai keperdulian sosial yang tinggi. Bayangkan bila begitu mudahnya orang-orang merogoh saku untuk mengentaskan kemiskinan,” desisnya.

Enam bulan sudah. Sang mahasiswa merasa lega saat yang dinantikan telah kunjung datang. Penantian yang menggelisahkan batinnya. Dan ingin ia meneriakkan kegembiraan.

Sang mahasiswa mempersiapkan diri. Menenangkan desakan batinnya. Dari terminal ia naik bus ke selatan. Sepanjang jalan hamparan perbukitan yang hijau. Ke selatan, ke selatan terus  keselatan. Bus menaiki bukit. Di sebuah pasar ia turun. Ia harus berjalan kaki sekitar empat kilometer untuk mencapai daerah Kampung Margin. Sengaja ia tidak membawa motor. Ia ingin menikmati suasana baru, suasana bayangan di kepala yang teramat indah.

Penduduk desa memang teramat ramah. Dalam perjalanan sapaan-sapaan jujur menerpa dirinya. Ia tersenyum menanggapi. Ada keharuan. Berbeda jauh dari dunia kota. Semua berjalan sendiri. Individualis !

Memasuki Kampung Margin, ia henti sejenak. Memandangi gapura yang tampak baru. Gapurayang kokoh dan mapan. Ia tersenyum dan kakinya mulai melangkah. Melewati lorong di tengah tegalan sekitar dua ratus meter meteran, barulah ia akan mencapai perkampungan. Jalan yang masih tanah, masih buruk, menimbulkan pertanyaan. Anak-anak kecil menjawab sapaannya dengan malu-malu, lalu menguntitnya dari belakang.

Memasuki kampung Margin, desa tampak sepi. Suasana  khas. Hanya anak-anak dan orang tua yang masih  berdiam. Beberapa pemuda yang kebetulan tidak ke kota, yang orangnya tidak bisa dipastikan siapa-siapa setiap harinya. Itulah pengalamannya pada kunjungan terdahulu.

Beberapa mata mengiringi langkahnya. Mereka tampak acuh. Sang mahasiswa mencoba menyapa, tiada jawaban. Sang mahasiswa memasuki rumah pemuda, kawannya. Ibunya yang menerima. Si pemuda masih di kota.

“Sebentar lagi mungkin pulang,” katanya.

Lalu ibunya menemani sebentar dan berbasa-basi, setelah itu masuk  ke dalam. Di kepala pemuda banyak pertanyaan. Kampung ini tidak  berbeda jauh dengan suasana pada kunjungan terakhirnya. Atap-atap rumah masih memakai daun tebu kering, dan dindingnya masih bambu. Mana program bantuan dari sebuah perusahaan yang diberitakan di koran? Sang mahasiswa hanyut dengan pertanyaan-pertanyaan dirinya.

Tak seberapa lama, ibu si pemuda keluar membawakan segelas teh dan pocinya.

“Silahkan di minum,” lalu masuk kembali.

Satu jam sang mahasiswa berada di sana, barulah pemuda yang dinanti datang.

“Hai, bagaimana kabarmu ?” sapa akrab sang mahasiswa.

Pemuda itu menanggapi secara dingin. Mau apa datang?” sahutnya ketus, “Mau mencari ilham lagi?”

Sang  mahasiswa merasa tertampar, terusik rasa ketersinggungannya, namun cepat-cepat ia usir perasaan itu. Ia tetap bersikap ramah dan memancing dialog-dialog segar sebagai pendekatan. Sulit memang. Namun usahanya  tidak sia-sia  juga. Si pemuda mulai menghilangkan sikap dinginnya meski kata-kata yang keluar dari mulutnya  hanya sepatah dua patah. Sang mahasiswa cukup mengerti untuk tidak memulai dialog sesuai dengan maksud kedatangannya.

Dua jam pembicaraan tidak karuan, barulah sang mahasiswa menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan referensinya selama ini yang ia dapatkan dari koran.

“Sebenarnya aku tidak ingin menjawab karena itu malah akan menyakitkan. Kami tidak butuh bantuan. Yang kami minta adalah pengakuan bahwa kami juga manusia. Soal bantuan dan soal-soal lain yang kau ceritakan, kau ingin jawaban yang mana? Bila ingin sesuai dengan keinginanmu, jangan tanya masyarakat sini, sebab akan  berbeda  jauh. Tanyalah misalnya pada Pak Lurah atau Pak Camat. Tapi kalau kau ingin kenyataan sebenarnya, lihat sendiri dan tanyakan pada warga kampung.”

Sang  mahasiswa cepat tanggap dengan jawaban itu. Kepalanya terasa berputar-putar. Pertanyaan-pertanyaan kembali menggumpal di kepalanya. Pertanyaan yang harus dilontarkan kepada siapa? Pertanyaan adalah nilai tak terhingga, karena itu orang selalu takut untuk ditanya, maka diajarkan orang-orang untuk tidak banyak bertanya.

Sang mahasiswa merasa mendapat pelajaran tak ternilai yang tak  mungkin ia dapatkan di bangku pendidikan. Realitas! Serta bagaimana harus berani untuk masuk ke dunia orang lain tanpa streotipe dunia  kita, sehingga mampu untuk menangkap realitas sesungguhnya.

19 Mei 1995

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: