Tinggalkan komentar

Berbicara Tanpa Bahasa Asing

Oleh  :  Odi Shalahuddin

Tiba-tiba saja, di tengah menyelesaikan sebuah tulisan, pikiran saya nyantol kepada kisah yang pernah diungkapkan seorang kawan. Seperti biasanya, bila ada ide yang berkelebat, saya akan menghentikan pekerjaan lain (termasuk ketika tengah menulis, dengan pandangan bisa dilanjutkan nanti), dan mencoba menuliskan kelebatan ide itu agar tidak hilang dari ingatan.

Sebelum masuk pada kisah yang diceritakan oleh kawan itu, saya ungkapkan sedikit tentangnya. Saya dan kawan-kawan dekat biasanya memanggilnya “Guging”. Idaman nama aslinya. Ia orang yang unik menurut kami. Orang lain yang melihat tanpa mengenalnya, mungkin malah menyebutnya “gila”. Saya bertemu dengannya sekitar akhir tahun 80-an.

Rambutnya selalu berantakan, kumis, jenggot dan brewok-nya juga tidak pernah rapi. Ia orang yang malas mandi. Setiap hari, paling cuci-muka dianggapnya cukup. Gosok gigi, tampaknya seringkali terabaikan deh. Berpakaian apa adanya, alas kaki sandal jepit yang ia suka. Wataknya cenderung ”semau gue”. Bila ada pelatihan di mana alas kaki harus dilepas dalam ruang pertemuan, maka bisa dipastikan ia akan membuat kekacauan sehingga alas kaki bisa berpindah-pindah pasangannya. Bila itu terjadi, semua orang tanpa bertanya sudah mahfum siapa pelakunya.

Bila ia tengah memegang gitar, maka orang akan kagum kepadanya. Lagu-lagu klasik atau lagu-lagunya Leo Kristi akan sangat enak didengar. Bicara teknologi, kita bisa terpana pula dibuatnya. Metode untuk membangun kesadaran baru bagi orang? Ia akan sangat kaya dengan berbagai pengalaman dan temuan yang sering mengejutkan. Selanjutnya, aku juga dikejutkan dengan hobi-nya menulis puisi yang menurutku sangat bagus. Ide-ide gilanya mengenai puisi dan cerpen pada akhirnya kulihat coba dibangun dan dipraktekkan sendiri.

Kawan satu ini, pada saat SMA pernah memenangkan pertaruhan dengan dua orang kawannya, agar bisa dianggap gila oleh keluarganya sehingga dimasukkan ke rumah sakit jiwa, memang benar-benar ”gila”. ”Hidup itu adalah sebuah pertunjukan teater. Setiap saat saya harus mengambil peranan sebagai aktor,” katanya suatu kali kepadaku. Entah bercanda, entah serius. Tapi yang jelas, kehadirannya pastilah akan menjadi fokus perhatian.

Sedikit perubahan tentangnya adalah ketika ia mendapat tanggung jawab mengelola (bila tidak salah) pusat dokumentasi dan informasi di sebuah universitas di Yogyakarta. Ia mengenakan baju yang dimasukkan, menggunakan sandal kulit atau sepatu. Lainnya tidak berubah. Ketika bekerja di tempat ini, ia tinggal di ruang kantornya tanpa ada yang tahu (kecuali Pak Bon) selama beberapa tahun. Pagi-pagi ia sudah bangun, keluar, dan mendekati jam kerja, ia akan masuk seolah-olah baru datang. Sorenya, ketika jam kerja usai, ia akan keluar, nongkrong di sembarang tempat, ketika dirasa sudah tidak ada orang ia akan mengendap memasuki ruang kerjanya lagi. Soal pakaian? Ia mencuci di kantornya. Setelah itu digulung dengan kertas koran. Pagi, menurut pengakuannya, sudah kering. ”Kertas koran kompas yang paling bagus. Cucian cepat kering,” katanya ketika bercerita padaku.

Wah, kok malah jadi menceritakan tentang dia. Padahal yang ingin kutulis adalah sepenggal kisahnya yang hadir tiba-tiba di kepala.

Pada suatu hari, lebih dari sepuluh tahun yang lalu kukira, kami tengah asyik berdiskusi tentang masalah perubahan sosial. Tiba-tiba saja ia nyeletuk, kira-kira begini. ”Janganlah bicara tentang perubahan sosial dulu. Kita sendiri sebenarnya tidak memiliki kesadaran tentang diri dan lingkungan kita. Kita harus mulai dari diri kita dulu. Menjadikan diri kita benar-benar memiliki kesadaran, kritis dan analitis. Barulah kita berbicara tentang bagaimana membangun kesadaran masyarakat untuk membangun perubahan sosial,”

Ramailah diskusi kami. Satu sama lain saling bersahutan. Padahal diskusi bermula dari kongkow-kongkow saja.

”Kita sudah asing dengan bahasa kita sendiri,” katanya, ”coba, selama kita berdiskusi, banyak kata-kata asing yang digunakan,”.

Selanjutnya ia menceritakan tentang pengalamannya ketika diminta menjadi fasilitator mengenai perubahan sosial bagi satu kelompok mahasiswa. Panitia mengatakan bahwa dananya sangat terbatas dan tidak mungkin membayarnya. Kawan kita ini tersenyum menanggapi. ”tenang saja. Tapi alur dan metodenya dipercayakan penuh kepada saya,”

Lalu berlangsunglah pelatihan selama tiga hari. Pada saat dimulai, kawan kita membuat aturan yang kemudian disepakai seluruh peserta bahwa selama dalam pelatihan tidak boleh menggunakan istilah asing. Bila menggunakan istilah asing, maka yang bersangkutan terkena denda lima ratus rupiah setiap istilah, dan dimasukkan ke dalam kotak yang telah disediakan oleh panitia.

Hasilnya? Di hari terakhir, uang yang terkumpul lebih dari cukup untuk membiayai penginapan dan konsumsi seluruh peserta!

Ia tidak melanjutkan ceritanya. Tidak ada satu kawan-pun yang bertanya. Aku sendiri, terpesona oleh ceritanya dan pikiran menerawang jauh.

Kini, kembali pikiranku menerawang jauh.

Yogyakarta, 17 Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: