Tinggalkan komentar

Cerpen: Terjepit

TERJEPIT
Cerpen:  Odi Shalahuddin

Satu persatu orang-orang pergi mengikuti keluarganya pindah ke tempat yang lebih jauh dari kota. Satu persatu rumah-rumah lama di bongkar, sawah-sawah dikeringkan dan berdirilah  bangunan-bangunan rumah bagus di kampung ini sebagai penggantinya. Kampung yang akhirnya tidak bisa dibilang lagi sebagai kampung. Lihat saja, semuanya, rumah-rumah bertingkat dengan pagar besi berhias dan taman-taman indah. Dinding dan lantai marmer. Sebuah garasi yang berisi lebih dari satu mobil ditambah dengan motor.

Bisa dimengerti. Lokasi ini tidak begitu jauh dari kota. Di pinggiran. Perkembangan kota ke arah utara, menyebabkan banyak arus orang-orang datang membangun istana-istananya. Jalan kampung yang dulu masih tanah, kini telah beraspal licin dan menjadi jalan utama.

Bila anda datang dan melewati jalan utama, mulut anda akan berdecak kagum. Tapi bila tiba-tiba kening anda berkerut dan pandangan mata anda terasa terganggu, mudah kutebak apa yang ada di kepalamu. Ya, ada bangunan yang tidak enak dipandang mata. Sebuah rumah buruk yang berdinding gedek dengan halaman kecil yang banyak ditumbuhi tanaman liar. Aliran kabel listrikpun tidak terlihat tersambung ke rumah itu.

Dapat kumengerti bila di kepalamu terlintas rencana, “Alangkah baiknya bila rumah itu di bongkar dan diganti dengan bangunan yang tak kalah indahnya dengan bangunan-bangunan di sisi kanan-kirinya.” Kalau boleh berkata, akupun akan mengatakan hal yang sama. Masalahnya, itulah rumahku. Rumah yang dihuni oleh enam jiwa.

Ya, hanya satu rumah lama yang tersisa. Rumah yang tampak buram di malam hari. Rumah yang hanya diterangi lampu teplok yang tidak mampu mengimbangi cahaya-cahaya terang dari rumah di sisi kanan-kirinya.

Aku sadar, meskipun hubungan sosial antara mereka tidak terjalin dengan mulus, namun untuk persoalan ini, semua penghuni tentunya akan sepakat bahwa mereka memiliki kerisihan. Apalagi yang berada di kanan-kiri rumahku. Mereka yang paling  merasakan  bagaimana keindahan  rumah mereka sangat terganggu.

Berulang kali orang-orang yang sedang mencari tanah datang ke rumah. Ibu menolak. Tanpa alasan. Tetangga kanan-kiri kami dalam kesempatan-kesempatan kecil mendorong kami untuk menerima tawaran orang-orang itu. Sikap ibu tetap.

Akhirnya tetangga kanan-kiri kami sendiri yang sering datang secara bergantian memberikan tawaran untuk membeli tanah kami. Ibu menolak. Mereka menawar harga dua kali lipat. Ibu juga menolak. Mereka menawar harga tiga kali lipat, empat kali  lipat…sampai sepuluh kali lipat ! Ibu  tetap  menolak tanpa memberi alasan.

Dengan tawaran manis yang tidak membuahkan hasil, mereka mulai datang dengan beberapa orang berwajah tidak sedap. Sikap ibu tak tergoyahkan. Tawaran berikut ancaman mulai disodorkan. Ibu teguh memegang sikapnya.  Merekapun selalu pulang  tanpa  membawa hasil. Wajah  mereka  memerah menahan kejengkelan dan kemarahan.

Masalah tanah, aku tidak pernah berusaha untuk turut campur. Itu hak ibu. Penolakan-penolakan ibu membuatku bertanya-tanya. 10 kali lipat harga yang ditawarkan, bukankah kami dapat membeli tanah dan membangun rumah yang cukup bagus di daerah utara sana ? Lebih baik dibanding tetangga-tetangga kami dulu. Dan kukira masih ada sisa uang. Bisa dijadikan modal untuk membuka warung. Kehidupan kami akan berubah. Ibu tak perlu lagi bangun pagi-pagi untuk membuat kue-kue yang keuntungan tidak lebih dari dua ribu rupiah.

“Ini tanah warisan Bapakmu,” demikian komentar Ibu pendek ketika kutanya alasan keberatan untuk menjual tanah ini.

Lalu kuungkapkan apa yang ada di kepalaku bila tanah ini dijual sesuai tawaran dari tetangga sebelah. Aku bicara dengan lancar dan semangat menggebu untuk meyakinkannya. Ibu mendengarkan  dengan  seksama  tanpa memotong. Aku semakin bersemangat dan memuntahkan rencana-rencana panjang. Ibu tersenyum.

“Ini tanah warisan Bapakmu,” hanya komentar pendek itu lagi yang terlontar setelah mulutku  berhenti  bicara. Ibu bangkit dan meninggalkanku.

Aku ternganga.

*****

Telingaku menangkap suara ramai dari ruang depan. Aku segera keluar dari kamar. Di depan ibuku, tetangga sebelah kanan rumahku berteriak-teriak marah. Di sampingnya ada beberapa aparat setempat dan aparat keamanan. Aku mendekat

“Saya jelas melihat anak ibu di sana. Setelah itu barang saya hilang,” kata tetangga sebelah rumah.

Aku cepat menangkap adanya tuduhan buruk terhadap keluargaku. Kulihat wajah ibu yang memucat.

“Maaf, Bapak-bapak sekalian, kalau adik saya bersalah, keluarga kami juga tidak akan memaafkannya. Tapi adik  saya yang mana? kami bisa menghadirkannya sekarang juga dan kita bisa mendengarkan pengakuannya,”

Tetangga sebelah mendelik padaku.

“Pokoknya saya yakin itu anak keluarga sini!” katanya tegas.

Aku memanggil adik-adikku. “Adik saya yang mana, Pak?” tanyaku datar.

Ia mengamati sekilas wajah adik-adikku dan dengan cepat berkata, “Saya tidak tahu yang mana. Saya hanya melihatnya sekilas. Dan saya yakin anak itu adalah salah satu dari adik-adikmu,”

Aku menanyai adikku satu persatu di depan tamu-tamuku. Adik-adikku dengan gemetar mengatakan tidak pernah memasuki halaman belakang tetangga sebelah.

“Bapak mendengar sendiri,” kataku sinis.

“Tapi saya yakin anggota keluarga ini yang mencuri barang saya!” katanya masih ngotot menuduh. Lalu ia berkata kepada aparat yang hadir, “Mereka iri dengan kehidupan saya, Pak. Dasar miskin!”

Kata-katanya menumbuhkan kemarahanku. Tanganku telah bergerak namun cepat disambar oleh aparat Keamanan.

“Bapak jangan sembarangan menghina! Biar kami miskin, tapi kami tetap punya harga diri!” kata-kataku keras.

“Bapak hanya ingin mempermalukan keluarga kami,” kata ibuku ketus.

“Saya minta aparat di sini bertindak tegas. Apa guna saya punya rumah bila merasa tidak aman,” katanya tak kalah ketus sambil meninggalkan rumah kami.

Aparat setempat dan aparat Keamanan saling berpandangan. Mereka lalu pergi juga tanpa mengucap satu patah katapun.

Aku memandang ibu. Wajahnya basah. Cepat aku memeluknya. Ibuku menyuruh adik-adikku untuk mendekat, lalu dipeluknya. “Biar kita miskin, jangan sekali-kali menjual harga diri kita,” kata ibu dengan nada suara berat.

*****

Dua hari kemudian, tetangga sebelah kiri rumahku datang dengan disertai beberapa orang aparat. Ia melontarkan tuduhan yang sama dengan tetangga sebelah kanan rumahku. Nada suaranya tampak meragukan dan terkesan dibuat-buat. Aparat juga melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang penuh dengan tekanan. Mereka juga menggeledah rumahku untuk menemukan barang bukti. Tidak diketemukan apa-apa.

“Pasti sudah mereka jual. Penjual kue kok bisa menghidupi banyak anak. Kalau tidak cari uang panas, mana bisa bertahan hidup,” kata tetanggaku sambil ngeloyor pergi.

Aku mengejar, aparat telah mengunci tanganku. Setelah tetanggaku jauh baru mereka lepaskan. Tanpa berkata apa-apa mereka juga ikut pergi.

Sejak kejadian itu, mata tetangga-tetangga selalu mengikuti langkah kami dengan sorot mata curiga. Terkadang kami mendengar bisik-bisiknya yang menuduh kami sebagai keluarga pencuri.

Aku tak tahu,apa yang salah dengan keluarga kami. Masalah beruntun terus kami hadapi. Beberapa kali tetangga-tetangga yang lain berdatangan bersama aparat melontarkan tuduhan pencurian. Barang-barang yang hilang  beragam. Darisepatu, baju, celana, sepeda, tape mobil dan sebagainya.

Kedatangan mereka menteror keberadaan  kami. Mereka tidak pernah menemukan bukti, tapi tuduhan terus berlangsung. Aparat sendiri, yang aku herankan, tidak pernah jemu dengan laporan-laporan yang penuh kebohongan.

Aku sendiri jadi meragukan kebenaran adanya pencurian-pencurian. Ada kesan mengada-ada untuk menyudutkan kami.

Hampir setiap hari. Hampir setiap hari. Anda sendiri dapat membayangkan.  Kehidupan macam apa? Apakah kemiskinan dapat dihubungkan dengan sikap negatif dan ditumbalkan untuk  permainan-permainan tak berperasaan semacam ini? Aku menemui ibuku yang sejak kejadian itu banyak  termenung. Aku utarakan niatku. Ia memandangku. Lalu menggeleng.

“Tapi kita tidak bisa hidup terus-terusan begini, Bu,”

Ibu diam. Lama sekali. Ia melepas nafas perlahan. Terdengar desahannya.

“Tidak!” kata ibu pendek. Matanya membayang, wajahnya sayu.

“Kita bisa beli tanah lagi di daerah utara dan membangun rumah yang lebih baik,”

“Tapi akan kemana orang yang kita beli tanahnya? Apakah mereka akan pergi lebih ke utara lagi? Terus begitu, begitu seterusnya. Lantas akan ada keluarga terbunuh?”

Aku tercenung.

“Tapi kita tak bisa terus bertahan di sini. Tidak ada yang menghargai kita sebagai manusia. Kita dianggap sampah yang mengotori wajah mereka,” aku memberikan alasan.

“Ini tanah warisan Bapakmu. Bapakmu mendapat warisan dari Kakekmu. Tanah ini warisan dari leluhur. Mana tega ibu menjualnya,”

“Dunia sudah berubah, Bu,” sahutku cepat.

“Baiklah, kita pergi secepat mungkin,”

Mataku berbinar.

“Kita pergi. Tapi tidak menjual tanah ini,” kata ibuku.

Aku terkejut. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terkandung dalam kemauan ibu.

Pergi? Kemana? Mengembara? Menggelandang? Tubuhku lemas. Aku tak berniat untuk bertanya atau mempertanyakan kembali. Aku tahu ibu. Sekali mengambil keputusan, dia tak akan tergoyahkan meski badai mengoyak tubuhnya.

___________________

Ilustrasi gambar diambil dari SINI

Cerpen ini dimuat juga di Kompas.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: