Tinggalkan komentar

Cerpen: Pesakitan

PESAKITAN
Cerpen Odi Shalahuddin

“Ayo, bangkitlah kau!” teriaknya sambil memukul meja.

Aku diam.

Aku  masih saja tergeletak di atas tempat  tidur  sambil memandang langit-langit kamar.

“Cih! Di mana semangatmu? Di mana kekuatanmu? Mengapa jadi loyo seperti itu? Apa yang telah kau kerjakan? Kau belum  melakukan  apa-apa! Ayo, bangkitlah  kau!” teriaknya makin keras menyodok emosiku. Aku berusaha untuk menguasai diri. Aku tidak bermaksud menanggapinya. Biarlah dia terus bicara; memaki, mengutuk, menyemangati atau apa sajalah. Aku tak akan perduli!

Dia terus bicara. Tidak hanya mulutnya; tangannya, kakinya, ikut pula bicara. membuatku tak sanggup lagi untuk mendiamkan perlakuannya.

“Tutuplah mulutmu!” bentakku keras.

“Kita harus bicara!”

“Taik! Keluarlah kau dari kamarku!”

Ia menatapku tertegun.

Tanpa  bicara apa-apa lagi, ia keluar dari kamarku. Aku bisa bernafas lega sekarang. Aku bisa istirahat tanpa gangguan suara yang memekakkan. Otakku sangat  lelah. Aku ingin  ia  berhenti  sejenak. mencapai titik nol. Titik bebas.Kehidupan  sehari-hari  sangat melelahkan. Begitu mata terbuka, kaki melangkah keluar rumah, terbentang luas jeruji besi yang menjadi pagar sikap, pikiran dan tindakan.  Langkah perjalanan adalah sebuah penjara. Ranjau-ranjau terpasang  di mana-mana  siap  memangsa dan melumatkan diri kita. Siapa sanggup menjalani hidup demikian?

Aku muak dengan segala bentuk retorika! Tapi ia terus tumbuh subur. Diterbangkan dari segala  penjuru. Ditebarkan pupuk-pupuk dan disebarkan iklan-iklan. Mata telah dibutakan. Telinga telah ditulikan. Nurani telah disihir jadi batu. Hitam bisa dikatakan putih, putih bisa dikatakan  hitam. Tinggal pembenaran macam apa yang akan dilakukan? Siapa yang melakukan? Berapa besar kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya?

Arus besar telah menghanyutkan diriku. Aku merasa tak mempunyai daya. Tak bisa lagi bicara, tak bisa lagi bergerak, dan yang teramat menakutkan, aku tak bisa  lagi  berfikir. Kemerdekaanku telah terampas oleh makhluk yang tak kuketahui dengan pasti.

Gemerlap  lampu sepanjang jalan, sesungguhnya  tak  bisa kulihat  apa-apa. Aku merasakan begitu gelap. Aku merasakan berada di sebuah kotak. Aku meringkuk kedinginan.

Ya, aku ingin istirahat. Berhenti sejenak. Mencapai titik nol. Titik bebas.

Inilah  titik  awal untuk berpijak  kembali.  Aku  harus membahasakan  kembali kekuatan  kata.  Kembali  pada  makna. Minimal ke dalam otakku. Kupejamkan mata dan membiarkan kesadaran melayangkan aku pada  kesadaran-kesadaran lainnya.  Aku mengangkasa  menyaksikan  aku yang  masih terlentang di atas tempat tidur. Di sebuah  kamar berukuran 3 X 3 m.

Awan putih berarak. Sinar matahari terasa hangat. Melayang-layang, menembus ruang  dan   waktu.  Keheningan semesta, getar arus galaksi, gemerisik angin, membuatku makin melayang-layang.

Aku ingin menikmati selamanya keadaan ini. Aku ingin kedalaman murni. Kekuatan dan kesucian jiwa. Akulah roh.

Tapi, tidak! Berjuta tangan telah menarik dan mencampakkan. Aku mengaduh, memberikan perlawanan. Kukerahkan segenap kekuatan. Tapi terasa tak bertenaga. Aku tak  berdaya melawan kekuatan besar. Seperti anjing kudisan, aku dilemparkan, kembali ke dalam kamar.

“Ayo, bangunlah, Kau!” teriaknya keras.

Astaga! Dia lagi!

“Kau ini kayak pengusaha saja!”

“Biar! Keluarlah kau dari kamarku!”

“Tidak bisa!”

“Keluaaaar!” teriakku keras mengusirnya.

Tangannya melayang di pipiku. Sangat keras. Teramat sakit. Lalu ia menarikku dan menghempaskan ke lantai. Menjadi teramat sakit. Aku diam. Tidak berani berbuat apa-apa.

“Cepat cuci muka, ganti pakaian, siapkan senjata! Kita harus cari makan biar tidak mampus!” katanya dengan nada memerintah. Dan aku lakukan.

Keluar dari kamar, keluar dari rumah, kuhirup udara beracun. Selangkah kaki menginjak di luar halaman, telah terbentang racun-racun lainnya. Racun yang sangat indah dan memabukkan. Sangat gemerlap. Menggoda nafsu untuk meraihnya.

Teramat  banyak  orang  yang  telah  teracuni  dan  merasakansebagai kenikmatan luar biasa. Padahal sebenarnya menjerat kita pada kematian. Kematian rasa.

Entah bagaimana rupa wajahku. Tubuhku telah diselimuti oleh celana jeans ketat, kaos yang tertutupi jaket hitam yang sekaligus  menutupi senjata yang terselip di pinggang, kaca mata hitam pekat dan topi koboi lusuh di kepala.

“Siap?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Dengan keyakinan yang mantap kami berjalan. Entah ke mana.  Menjadi racun, kata kebanyakan orang. Kami butuh makan. sebuah pembelaan yang kuharap dapat kau mengerti.

6 Mei 1995

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: