Tinggalkan komentar

Cerpen: Pertemuan Dua Sahabat

PERTEMUAN DUA SAHABAT
Cerpen Odi Shalahuddin

Dua orang sahabat bertemu di tempat parkir tepat di muka sebuah restoran di salah satu kawasan pusat perbelanjaan pada suatu senja, sekitar pukul setengah lima. Waktu itu lahan parkir sudah sangat penuh dan orang-orang ramai lalu-lalang.

Satu orang, berpakaian kusut dan sedikit kotor dengan mengenakan sandal jepit, saat itu kebetulan saja lewat diantara kendaraan-kendaraan yang terparkir. Sedangkan satunya lagi, berpakaian rapi dengan sepatu mengkilat bersama seorang perempuan cantik, baru turun dari sebuah mobil mewah.

“Parman! Benarkah kau?” teriak orang yang berpakian rapi itu..

Parman menoleh, matanya mengarah kepada orang itu. Keningnya

berkerut. Perasaannya ragu atas pendengarannya. Ia putuskan bahwa

ia salah dengar, lalu melanjutkan perjalanannya.

“Parman!” teriak lelaki itu lagi, kini sambil berlari kecil mendekat. Parman menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah orang itu

“Benar, kau Parman?”

Parman mengangguk.

“Lupa sama aku? Aku, Borman,”

“Oh,”  Parman tersentak. Ingatannya cepat melesat dan hadir. Iya, orang yang menyapa sangat dikenalnya. Meskipun bentuk tubuhnya sudah sangat berubah dan ditempeli perkakas bagus, suaranya tidak begitu berubah. Lagipula, ada goresan kecil di pipi yang merupakan tanda yang diketahui secara gamblang sejarahnya.

Baru ingin bicara membalas sapaan, tiba-tiba ia sadar. Terasa ada jarak yang jauh. Ia menekan keinginannya. Lantas dengan mimik yang keheranan, ia menatap Borman. “Maaf, Bapak salah. Nama saya memang Parman. Tapi rasanya saya belum kenal nama Bapak,”

 ”Asu  buntung, kau Man!,” teriak Borman. Ah, dada Parman berdebar lagi. Makian akrab yang selalu keluar pada masa lampau masih saja melekat. “Masak kau lupa dengan sahabatmu sendiri? Aku, Borman. Lihat ini, goresan di pipi, kalau tidak ada kau bukan sekedar goresan. Tapi mungkin aku sudah mati! Kau ingat itu, Man? Ya, waktu itu kita masih di Yogya, masih SMA. Waktu itu kita di sekatenan. Kau pasti masih ingat, Man,”

Parman menunduk, berusaha menguasai tubuhnya yang terguncang. Bahagia ia sebenarnya. Borman, sahabat kentalnya sejak di SMP dan SMA  masih saja ingat dan menganggapnya sebagai sahabat. Tapi dalam situasi sekarang ini? Malu rasanya berjumpa pada saat merasa gagal menempatkan posisi diri dalam putaran hidup yang ganas.

“Kau pasti ingat itu, Man. Ya, ya, kau pasti ingat,” Borman mengembangkan kedua tangannya siap memeluk. Parman bingung sekaligus haru. Dengan ragu-ragu, ia mengembangkan kedua tangannya pula. Mereka berpelukan. Borman erat sekali memeluknya sampai nafas Parman terasa sesak.

Orang-orang yang lewat memandang keduanya dengan kening berkerut.  Lalu ada yang meresponnya dengan senyum, menyalahkan sikap Borman, memuji sikap Borman, sinis dengan Parman, menganggap Parman orang yang beruntung, dan ada pula yang terharu  dan berdesis, “persahabatan yang manis,”

Borman merangkul Parman, “Ayo, aku kenalkan istriku,” katanya sambil mengajak berjalan ke arah perempuan cantik yang masih saja ditempatnya semula dengan tangan bersidekap dan wajah masam.

Perempuan itu menjatuhkan kedua tangannya, menghela nafas dan berusaha memperbaiki wajahnya ketika kedua sahabat itu mendekat.

“Ana, kenalkan. Ini Parman yang sering aku ceritakan padamu,”

Ana menjulurkan tangannya. Parman juga, meski kelihatan sekali kegugupannya. Tangan kasar bertemu dengan tangan halus. Keduanya mempunyai penilaian sendiri-sendiri yang cenderung bertolak belakang.

“Eh, sebaiknya kita ngobrol di dalam sana biar lebih enak,” Borman menunjuk restoran. Parman  menolak. Borman membujuk. “Pertemuan  ini amat berarti buatku, Man. 15  tahun lebih kita tidak pernah jumpa. Ayolah,”

Parman ragu-ragu. Memang selalu ragu-ragu  sejak pertemuan dengan Borman. Jarak terasa teramat jauh menumbuhkan minder. Minder menumbuhkan keragu-raguan dan perasaan takut salah. Sikap yang hadir jadi malah terasa aneh dan mengada-ada. Tapi itu halyang manusiawi.

“Ayolah,” Borman menarik tangan Parman. “Di sini panas. Lagipula tidak enak dilihat banyak orang. Kita bisa santai, Man,”

“Maafkan aku. Tapi ada yang harus kukerjakan cepat,” Parman mencari alasan. Ia melihat restoran di depan itu. Sebuah restoran mewah. Orang-orang berduit saja yang dapat masuk ke sana. Lagipula pakaian yang dikenakan orang-orang itu amatlah bagus dan rapi. Aku? Tak layaklah.

“Ah, kau tidak mau bersahabat denganku lagi,toh Man?,” nada suara Borman kelihatan kecewa.

Parman memandangnya. Ia benar-benar bimbang. Borman masih memandangnya sebagai sahabat. Tidak berubah. Apakah ia harus mengacaukan semua ini? Lalu katanya kepada Borman, “Baiklah, kita bisa bicara banyak. Tapi, bagaimana kalau tidak di restoran itu? Terus terang dengan pakaian seperti ini aku akan tersiksa di dalam. Kau sendiri dan istrimu, mungkin bisa mendapat malu,”

“Ah, kau terlalu berprasangka, Man. Biasa saja. Tidak usah diperdulikan kata orang. Aku sendiri yang mengajak, masak aku malu. Istriku juga. Bukankah begitu, An?”

Istrinya mengangguk datar.

“Menurut kau sendiri enaknya bagaimana?”

“Hm, bagaimana, ya? Paling santai sih di warung sana,” Parman menunjuk deretan warung pinggir jalan.

Ana melihat ke sana, wajahnya seperti tercekat.

Borman tersenyum. “Terserah kaulah, Man,” kata Borman.

Ana merutuk di dalam hatinya. Wajahnya yang cantik kelihatan sekali bersungut. Gaun biru yang dikenakan baru saja diambilnya kemarin  dari designer ternama. “Bisa rusak,” rutuknya dalam hati. Selain itu ada yang mengganjal. Seumur hidup ia belum pernah  masuk warung pinggir jalan.

“Siksaan,” desisnya. Ia menatap Parman. “Apa sih kekuatannya?”

“Ayolah kita ke sana sekarang,” lalu Borman menatap Ana, berkata dengan ceria “Mengingat masa muda dulu,”

Ana mencoba tersenyum. Malah terkesan sinis.

Parman dapat menangkap wajah Ana. Bimbang lagi ia. “Perempuan secantik ini tidak pada tempatnya duduk bersama orang-orang semacam aku di warung pinggir jalan. Tentu sama tersiksanya bila aku duduk di restauran mewah. Ya, dua dunia  berbeda,” katanya dalam hati.

Pikiran Parman berkecamuk. Pertemuan ini membahagiakan dirinya. Setidaknya ia masih merasa bahwa masih ada orang menganggapnya sebagai kawan, sebagai sahabat. Apalagi Borman orang kaya. Tidak kelihatan mencemooh. Sikapnya wajar dan cenderung sangat baik. Sama seperti dulu. Tapi istrinya? Melihat wajah dan kulitnya yang teramat halus, tentu belum pernah bersahabat dengan barang-barang kasar.

“Eh, maaf, aku rasa tidak usahlah,” kata Parman terbata-bata.

Borman melihatnya merasa aneh. “Mengapa? Ah, kau sudah berubah sama sekali, Man. Biasanya bicaramuceplas-ceplos saja,”

“Eh, maaf, aku sungguh-sungguh masih ada kerjaan yang harus kuselesaikan,”

“Ah, jangan begitulah, Man,” Borman sedikit bersungut. Lantas ia menoleh ke Ana. Ana memberikan isyarat. “Tapi, ya, sudahlah. Aku minta alamatmu saja. Kalau sempat aku akan berkunjung,”

Parman kelihatan bingung. Dengan agak  ragu ia berkata, “Rumahku baru saja tergusur. Sekarang aku numpang dengan saudara. Di daerah pemukiman padat. Masuk gang dan berkelok-kelok. Sulitlah dicari,”.

“Aku turut bersedih. Memang, ini jaman gusur-gusuran,”

“Yang tergusur selalu orang kecil,” sela Parman. “Gilanya lagi, orang berduit  selalu bisa berdalih dan bersembunyi di belakang aparat resmi sehingga penggusuran diatasnamakan demi kepentingan umum sehingga ganti ruginya sangat kecil. Padahal untuk kepentingan bisnis saja,” nada suara Parman sedikit geram.

“Masak, harga tanah di pasaran tiga ratus ribu hanya dihargai lima puluh ribu per meternya. Sedangkan tanah digunakan untuk pusat pertokoan. Edan. Itu kan namanya membuat orang makin miskin!” suara Parman makin meninggi. Tiba-tiba ia tersadar sedang bicara dengan Borman, sahabat lamanya yang telah  berpisah sekitar lima belas tahunan. “Oh, maaf, aku sedikit  emosi. Ini pengalaman buruk yang menyakitkan buatku,”

“Aku maklum. Eh, begini saja, kalau  sempat datanglah ke rumah. Tapi sebaiknya agar bisa bertemu telponlah dulu,” Borman mengeluarkan dompetnya, lalu mengeluarkan kartu  namanya. “Ini kartu namaku,”

Parman menerima, membaca dan tertegun. Ia pandangi Borman lalu ia lihat lagi kartu nama itu berulang-ulang. Borman Setiawan, presiden direktur PT. Bumi Alam. Ah, mengapa aku lupa punya sahabat bernama Borman Setiawan?

Dadanya menjadi sesak. Muncul Geram. Muncul amarah. Ia berusaha menahan agar tidak jebol. Sikap Borman sangat bersahabat seperti  yang baru dilihatnya. Tapi, jelas tidak salah. PT.  Bumi Alam inilah yang telah meratakan perkampungan tempat tinggalnya.

Ya, tidak salah lagi. Bormanlah yang seharusnya bertanggung jawab. Mengapa, ketika penggusuran itu, ia sama sekali tidak mau menemui orang-orang  yang tergusur termasuk dirinya? Sehingga menumbuhkan dendam yang terbawa terus. Kini ia berada di hadapannya sebagai sahabat lama. Apa yang harus dilakukan?

Dadanya terus bergolak. Membuat Borman heran melihatnya. “Ada apa, Man?” tanyanya penuh perhatian.

Dadanya  terus bergejolak. Bagaikan kawah gunung berapi yang siap meledak. Pandangan mata Parman tajam menghantam  Borman. “Bangsat, kau Tuan Borman!” teriaknya sambil melempar kartu nama itu dan berlalu cepat dari tempat itu.

Borman tercengang. Ia memandangi Parman yang  menjauh. Ia menoleh kepada  Ana. “Apakah ada yang salah? Kurasa aku telah berbuat ramah dan tidak meremehkannya.”

Ana hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya. Senja terus merayap mendekati malam. Lampu-lampu mulai  dinyalakan. Orang-orang masih lalu-lalang. Ana menarik tangan Borman dan mengajaknya berjalan.

Imogiri, 14 Juli 1995

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: