Tinggalkan komentar

Cerpen: Aku Tak Pernah Pergi

AKU TAK PERNAH PERGI
Cerpen Odi Shalahuddin

Biarkan. Biarkan aku di sini. Biar sendiri, janganlah kau perduli. Aku masih ingin di sini. Masih ingin lekat dengan tanah, air dan udara yang pertama kali menyambut kedatanganku di muka bumi, sampai kini.

Percayalah. Aku belum punya keinginan sedikit pun untuk bergegas. Pergilah. Pergilah bila kau ingin pergi. Jangan bujuk aku. Jangan rayu aku. Jangan paksa aku.

Bersama jutaan tetes air yang tumpah dari langit, aku bergulingan  di tanah lapang, menyelimuti tubuhku dengan lumpur, menangkap  kilat  yang menyambar, dan aku berdiri dengan tangan terentang ke atas, membuat kesaksian. Bukankah itu kau lihat sendiri? Ya, kau telah melihatnya. Telah mendengarnya. Dan kutahu hatimu menangis, merutuk, mengutuk, sekaligus iba. Perasaan yang berkecamuk  sebagai  jawaban isi kepala yang telah menganggapku gila. Tidak. Aku tidak gila. Teramat wajar. Kewajaran yang tidak biasa  pada  jaman ini. Menimbulkan keanehan. Menimbulkan tanda tanya. Menimbulkan prasangka. Menimbulkan sikap waspada.

Ingatkah olehmu tentang kisah orang-orang sebrang? Orang-orang yang siap berlapar-lapar entah sampai kapan saat sekelilingnya telah terisolasi tanpa adanya kemungkinan bahan-bahan makanan dapat masuk secara terbuka lantaran sekelilingnya moncong senjata siap meledakkan isi kepala. Mereka telah siap menghadapi apa pun juga. Siap mati! Bukan karena keberanian luar biasa. Bukan itu masalahnya. Namun karena ketakutan pun sudah tiada berguna.

Mereka bertahan. Inilah sikap! Lantaran kesadaran daya hidupnya menyatu tanah. Lantaran di situlah ia mampu menganggap dirinya manusia. Ketika terusir, matilah daya hidupnya. Mereka tak mau. Sama sekali tak mau mati akibat pembunuhan modern. Lebih baik mati dengan sikap. Dengan keyakinan bertahan. Salahkah mereka? Matamu memakai kaca mata apa? Itu jua yang akan melahirkan perbedaan pandangan. Aku sendiri masihlah wajar. Kau bisa mengerti. Ya, kau bisa mengerti. Kau bukanlah orang bodoh.

Sudahlah. Aku tak akan menyalahkan bila kau hendak  pergi. Tapi kumohon jangan salahkan pula bila aku tetap di sini.

Biarkan. Biarkan aku di sini. Menyatu dengan alam.

Bila itu semua menjadi kenangan. Kenanglah semuanya. Bila kau rasa anak-cucu harus mengerti, ceritakanlah  sejujurnya kepada mereka tentang arti “pergi“, “pulang” dan arti “mencintai“. Pengalaman hidup di sini sangat membantu penjelasan.

Ceritakanlah tentang dirimu sendiri. Tentang aku. Tentang kawan-kawan kita. Tentang saudara-saudara kita. Tentang orang-orang yang memusuhi kita. Ceritakanlah sejujurnya. Jangan beri kesimpulan. Biar anak-cucu kita sendiri yang menyimpulkannya. Biar mereka menemukan arti kepahlawanan yang sesungguhnya. Biar mereka menemukan arti pengkhianatan.Ini penting agar mereka dapat menentukan nasib mereka sendiri dalam perjuangan hidup.

Kutahu, kau tentu mau melakukannya. Janganlah meragu. Tanamkan kuat di kepala. Tak perlu berpikir tentang ketakutan. Tak  perlu berpikir tentang keuntungan. Ceritakan saja. Barulah kepergianmu memiliki arti.

Sudahlah, kau tahu sendiri bagaimana sikapku sejak kanak-kanak. Ketika aku memutuskan sesuatu, maka itu harus kulakukan. Tanpa perlu pertimbangan banyak lagi sebab keputusan lahir sudah dari pertimbangan. Aku tidak ingin menjadi boneka bisu. Aku tidak ingin menjadi mesin yang dipacu tapi bergerak monoton. Aku tidak ingin menjadi bola yang ditendang ke sana ke mari. Aku tidak  mau menjadi  tikus  yang terus bersembunyi di lubangnya.  Tidak! Aku tidak  mau semua itu! Aku ingin mengikuti kata  hatiku.

Bergerak sesuai kehendak. Diamlah kau. Jangan terus membujuk. Jangan beri cerita menakutkan. Percuma.  Pergilah saja bila kau telah memutuskan pergi.  Pesanku, jangan lupakan aku dan tanah ini.

Ya, ya, ya. Akhirnya kau pergi juga. Pergi bersama ratusan orang-orang yang sangat kita  kenal. Kepergian yang  tragis. Berpijak dari tempat yang sama, beranjak ke segenap penjuru yang berbeda. Bagai anak ayam kehilangan induk. Mencari ibu baru. Mencari bapak baru. Mencari pijakan baru. Satu hal yang menyulitkan sekaligus menyakitkan. Aku tak tahu bagaimana perasaanmu dan perasaan saudara-saudara yang lain.

Sepilah kini. Tidak ada suara-suara seperti dulu.  Seringkali rindu  nongkrong  di hati. Dalam  kesepian,  telingaku   seakan menangkap   suara  ratusan saudara-saudara yang  telah   pergi. Pandangan  mata  seakan-akan  melihat  semua kembali  ke   sini, memulihkan kehidupan seperti dulu. Anak-anak bermain bola. Anak-anak  bertengkar, berkelahi, dan menangis.  Orang  tua memanjat pohon kelapa. Semua itu hadir sejenak. Setelah itu lenyap.  Kulihat hanyalah tanah kosong yang tengah diratakan.

Terkadang datang kembali. Aku jadi merasa bahwa sesungguhnya hanya badan kalian saja yang pergi. Jiwa kalian tetap di sini menemani  aku. Terima kasih. Terima  kasih. Aku merasa tidak sendirian lagi.

Aku sampaikan padamu. Sejak hati kita selalu diliputi kegelisahan terus menerus lantaran orang-orang kota mengincar tanah kita dan melakukan teror-teror sehingga kita merasa perlu  bersatu, mengoceh tentang makna persatuan, belajar  berpikir, bicara dan bertindak bersama, betapa aku rasakan diri ini berada  dalam ruang kebebasan, menjadi manusia yang aktif. Kita bicara tentang hakekat. Kita bicara tentang hak. Kita bicara tentang manipulasi kewajiban. Kita bicara tentang kebersamaan. Kita bicara tentang pengkhianatan.  Kita bicara tentang keberanian, ketakutan, kekejaman,  kekuasaan, kekuatan, hukum, dan sebagainya. Bagaikan jiwa ini melambung rasanya. Jiwa yang benar-benar berjiwa. Duhai, dapat kurasakan dan kualami dalam kehidupan nyata. Sungguh suatu anugrah tak terkira.

Namun itu cepat berlalu. Dunia begitu banyak menjanjikan. Menggoda,dan menggoyahkan diri. Siapakah memulai? Mr. X, Mr. Y, Big boss L, Boss Muda, Kang H, Mbah S, Pakde M,  Lik  Z, atau siapa? Ketika serangan dari luar begitu gencar menghantam secara terbuka, dengan lihai mereka juga menyelinap ke dalam melambaikan janji-janji sorga. Perlahan kita mengalami penggerogotan yang berjalan mulus tanpa kita sadari. Menumbangkan kebersamaan. Terbangun pengkhianatan-pengkhianatan. Lantas kita berkelahi sendiri. Duhai, itulah pengalaman terpahit dalam hidup.

Satu per satu orang pergi. Membawa kekayaan berlimpah. Membawa derita. Membawa kegilaan. Membawa luka-luka. Bencana! Hai, begitu cepat orang berkemas. Dan tinggallah aku sendiri.

Kuceritakan padamu, tapi sebelumnya tenttu kau tahu awalnya, karena kepergianmu adalah kepergian yang  terakhir. Kau masih sempat melihat traktor-traktor menggasak rumah-rumah yang telah ditinggal penghuninya. Menggasak pohon-pohon. Meratakan seluruh desa ini. Ya, kau tahu itu. Kau tahu pasti karena pada saat itu kau ludahi mukaku lantaran aku tak mau mengikuti jejakmu. Ya, begitulah. Aku hanya mampu menontonnya. Terkena dampratan seorang pekerja. Pernah kena pukulan dan tendangan mereka. Aku dianggap terlalu dekat dengan alat-alat mereka. Bisa membahayakan jiwa, katanya. Padahal aku memang sengaja mendekat. Ingin meluapkan rasa kepenasaran. Begitu perkasanya traktor itu. Mengapa harus diciptakan sehingga kemanusiaan pun turut tergasak?

Begitulah. Setelah itu. Setelah segalanya rata dengan tanah. Tanah-tanah digali. Lubang besar bagaikan liang lahat untuk ribuan jenazah. Terkadang aku bermain dalam lubang itu. Itu juga membuat para pekerja marah. “Kamu ingin  terkubur  hidup-hidup?” begitu bentak seseorang.

Aku ingin terbahak mendengar kalimatnya yang begitu janggal. Lha, mana ada orang yang mau terkubur hidup-hidup, bukan? Akhirnya aku memang melepaskan tawa. Segera bergegas sebelum mereka makin marah.

Ratusan orang lebih berdatangan ke tempat ini menjual tenaganya. Banyak sekali. Seringkali aku  jahili  mereka. Menyembunyikan alat-alatnya. Dan bila mereka tahu, mereka akan marah. Aku hanya tersenyum. “Dasar orang gila!”  gerutu  mereka kesal.

Lantas aku menari-nari sambil meninggalkan mereka.

Janganlah kau bertanya di mana aku melewatkan malam-malam. Aku tidak pernah perduli dengan itu. Di mana pun tak ada ganjalan. Asal masih tetap di sekitar sini. Ya, terkadang aku tidur di atas tanah dengan udara terbuka. Di atas mesin traktor, di dekat barak para pekerja. Inilah duniaku. Inilah nafas hidupku.

Kuceritakan pula padamu. Banyak warung-warung bermunculan. Entah orang dari mana. Sepanjang malam akhirnya  suasana selalu riuh. Irama dangdut. Perempuan-perempuan dengan make up tebal melemparkan mata dan senyum genitnya. Goyang pantat menggoyahkan dada lelaki. Bau minuman keras. Desah nafas. Rintih manja. Ruang-ruang jadi mesum. Ingin aku menangis. Ingin aku  menjerit.  Tapi selalu  saja aku dianggap pengacau. Pun belum berbuat apa-apa. Tanah kelahiran seakan mengasingkanku.

Aku berjalan hanya sampai batas-batas. Kesaksianku, sumpahku. Aku tetap di sini. Tetap bertahan. Tak mencoba untuk menjauh. Berjalan. Berjalan. Berputar-putar.

Suatu  malam. Tanpa sengaja, telingaku menangkap suara-suara dari sebuah ruang.

“Orang gila itu saja,”

“Yang mana?”

“Yang biasa berkeliaran di sini,”

“Apakah ada yang merasa kehilangan atasnya?”

“Kukira  tidak. Ia hanya sendiri. Tidak ada yang perduli padanya,”

“Ya, itu saja.Daripada susah-susah mencari dengan segala resiko,”

“Kapan?”

“Malam ini,”

Kudengar langkah-langkah berat. Orang-orang itu bergegas. Keluar dari ruangan. Lalu berpencar. Aku menggigil. Menyelinap perlahan menjauh. Sampai batas pula. Di sana aku berdiri menyambut angin malam, menangkap cahaya rembulan dan mengejar bintang-bintang.

Tiba-tiba terdengar teriakan; “Itu dia! Itu dia! Cepat, jangan sampai lolos!” Beberapa orang kelihatan berlari ke arahku. Aku diam. Tak beranjak. Sampai mereka  dekat. Sampai beberapa orang menelikung pergelangan tangan.

Kalau kau masih ingat padaku, masih ingat pada tanah kelahiran ini, datanglah sesekali. Aku masih di sini. Menyatu.

Sapalah aku. Aku pasti dengar meski jawabanku tak mampu kau dengar

Janganlah kau cari aku. Yakinkan saja dirimu bahwa aku ada di sini. Benar-benar di sini. Dan yakinkan bahwa aku tengah melihat dan menjamu kedatanganmu.

Aku, kepalaku, ada di salah satu tiang utama bangunan megah ini. Sedang tubuhku, entah dibuang ke mana.

Sekali lagi, janganlah lupa, sapa aku  bila kau datang. Aku pasti dengar meski jawabanku tak mampu kau dengar!.

Yogyakarta, 1994

______________________

Catatan: Cerpen ini pernah dimuat di SKH Jayakarta, Minggu ke II September 1994

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: