Tinggalkan komentar

Cerpen: Aku Ingin Bertemu Alina

AKU INGIN BERTEMU ALINA
Cerpen:  Odi Shalahuddin

Siapakah engkau Alina[1]?

Alina, siapakah engkau? Sungguh. Aku ingin mengenalmu. Mengenal dari pandangan mataku sendiri, pada sosokmu yang berada di hadapanku. Menyimpulkan tentang dirimu dari dialog antar kita. Biarkan aku memberi penilaian tentang dirimu, berdasarkan rasa yang lahir dari perjumpaan nyata.

Alina, siapa?

Sungguh aku ingin tahu. Bila hanya mendengar apa kata orang, sesungguhnya aku masih meragu. Apalagi bila aku juga tak tahu, orang ke berapa yang pada akhirnya menyampaikan tentangmu padaku. Bisakah setiap kata yang terlontar dari mulut lepas dari imajinasi, sehingga menyatakan apa yang sesungguhnya? Tidak membuat pengurangan, tidak membuat penambahan, apalagi bila disertai berbagai kepentingan di dalamnya.

Oh, Alina, bisakah kita berjumpa sejenak? Entahlah dimana, engkau yang menentukan. Biar hilang rasa kepenasaranku. Biar mati-pun aku bisa tersenyum.

Sejauh ini, aku tidak bisa meyakinkan diri sendiri untuk memberikan gambaran tentang dirimu. Mencoba mereka wajah-mu-pun aku tak mampu. Di kepala, setiap terbangun imaji, terbangun wajah, terbangun bentuk tubuh, selalu saja aku terjerumus ke dalam jurang kefrustasian. Selalu sempurna aku menggambarkan dirimu. Sedang aku tahu, dan kau pun pasti setuju, bahwa dirimu tentu bukan sosok yang sempurna pula.

Ah, engkau pasti akan tertawa, tanpa menjawab tanya, mendengar bagaimana kegalauan dan kepenasaranku. Tapi, tak mengapa, biarlah, yang penting kita bisa berjumpa. Bukankah begitu, Alina?

Alina. Kau misteri. Sangat mistri. Setidaknya buat diriku. Selalu saja kudengar dirimu dari pekabaran. Pekabaran yang selalu saja berubah. Bila saja engkau adalah artis film, maka akan kuburu film-film-mu. Demikian pula bila engkau seorang model atau politisi, yang tentunya akan tersebar banyak foto wajahmu dan mungkin juga film dokumentasinya.

Alina. Pertama kali kudengar namamu, sekitar tahun 1985. Bukankah kau bertanya tentang ketakutan? Ya, ya, ya. Juru cerita menceritakanmu tentang Sawitri[2], bukan? Sawitri yang menanti Pamuji, kekasihnya. Pamuji yang memiliki tato di dadanya yang bertuliskan Sawitri yang dilingkari gambar jantung hari yang dibuat Sawitri selama dua hari. Pamuji yang memiliki tato lukisan mawar di lengan kirinya. Ada nama Nungki. Ada nama Asih. Nama-nama pacar Pamuji sebelum mendapatkan Sawitri. Ya, Sawitri yang menanti dengan ketegangan tinggi.

Bagaimana tidak? Setiap pagi, lewat jendela kamar menyaksikan mayat-mayat bertato satu persatu mati. Beberapa adalah kawan Pamuji. Terkadang ia dengar semacam letupan dan suara mesin kendaraan menjauh. Alina, benarkah kau yang bertanya dan mendengarkan cerita juru cerita itu? Ya, Alina. Itulah pertama kali kudengar tentang namamu.

Bukankah Engkau pula yang bertanya tentang kepunahan? Tentang Rambo dan becak kencana-nya[3]  yang merupakan becak terakhir di dunia yang dikejar-kejar hampir seluruh polisi kota ketika mengantarkan seorang pelacur ke ujung dunia. Rambo yang berada dalam gubuk bersama pelacur itu sedang anggota pasukan tentara merayap perlahan dengan senapan M 16 di luar. Rambo yang dipaksa menyerah. Rambo yang akhirnya menyerah. Komandan yang tersenyum dan akhirnya berseru: ”Tembaaaaakkkk” dan kau-pun ikut berseru menyetop kisah dari juru cerita. Kau telah memperoleh bayangan satu kengerian sebelum juru cerita menyelesaikannya. Itukah engkau, Alina? Ya, itulah, pasti engkau, Alina.

Engkau pula yang tekun mendengarkan kisah tentang Dewi[4] yang mendapatkan kiriman berlimpah telinga dan kepala dari pacarnya yang sedang bertuga di medan perang. Cerita tentang kekejaman. Kau mendengarnya sampai tuntas. Kau tidak berusaha menyetop juru bicara. Kau sudah mempunyai kekutan untuk mendengarkan realitas seburuk apapun. Bukankah aku benar, bahwa itulah Engkau Alina?

Alina, Alina, Alina. Siapakah sesungguhnya Engkau? Mari kita buat janji bertemu. Tak perlu lama, satu jam saja, kukira sudah memuaskan hatiku. Bersediakah engkau Alina? Kita bisa saling bercerita, meski aku sangsi bahwa aku bisa. Mungkin justru aku yang lebih banyak bertanya pada engkau, Alina. Biar tenang hati ini, biar tak termakan misteri tentang engkau Alina.

Alina, sungguh, engkau telah membayang-bayangi hidupku. Namamu terlalu lekat. Tak bisa disingkirkan dari benakku. Sungguh mati, aku frustasi. Benar-benar frustasi. Mereka wajahmu pun tak sanggup. Ah, Alina.. Entahlah, apakah ini yang dinamakan cinta penasaran?

Tanpa tahu, wajah dan rupa, juga suara engkau, Alina, bagaimana aku bisa jatuh cinta? Apakah lantaran aku terpesona dengan segenap pertanyaanmu pada sang juru cerita? Pertanyaan yang sederhana namun tak umum dikata? Ya, pada saat-saat dimana orang-orang menerka, siapa presiden Indonesia, tentang pejabat yang akan terganti, tentang lingkaran kekuasaan yang berupaya meningkatkan bargaining position-nya dengan membuat kerusuhan, tentang para dalang atas sebuah permainan yang berujung derita pada rakyat jelata, tentang pencarian kambing-kambing hitam yang menjadi sejarah negeri. Pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang pastilah spekulatif lantaran kenyataan sesungguhnya sangat jauh dari kehidupan kita. Nah, pertanyaan-pertanyaanmu, kurasa sangat mengena, sederhana, tapi sering luput dari kepala. Ya, engkaulah Alina, yang tiba-tiba kurasakan diriku jatuh cinta.

Engkau, Alina, tentulah sosok yang beruntung bisa bertemu dengan juru cerita yang mau banyak berkisah. Juru cerita yang bijak. Juru cerita yang menyampaikan kisahnya secara sederhana, berasal dari fakta nyata, namun bisa membuka mata hati kita.

Ah, Alina. Sungguh aku ingin bertemu. Kita berdua, berbincang tentang dunia. Tenang sajalah, aku tak akan menghumbarkan kata-kata rayuan dan bujukan. Apalagi akan memaksa dengan todongan senjata, agar engkau membalas cinta. Walaupun aku merasa jatuh cinta, tapi aku manusia yang masih bisa menjaga. Aku tahu, engkau telah memiliki kekasih. Kekasih yang sangat mencintaimu. Kekasih yang memiliki keberanian. Ia telah mempertaruhkan nyawa untuk menyekap sepotong senja yang dicurinya di saku dan mengirimkan buatmu[5]

(Maafkan, aku harus membuka rahasiaku sendiri, telah mencuri baca surat kekasihmu. Tapi sumpah mati, tak ada yang disengaja. Aku membaca dari lembaran salinan yang telah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Surat kekasihmu yang bisa menjadi referensi tentang perjuangan cinta. Maafkan aku, ya, Alina)

Alina, ayolah Alina, sudikah engkau bertemu dengan diriku? Oh, kuralat kataku itu. Aku berharap, aku memintamu. Jawablah Alina, kapan saat itu bisa kudapatkan. Apakah Engkau sudah menikah dengan kekasihmu itu? Sehingga engkau takut membuat janji, takut dianggap mengingkari dan dianggap mengkhianati? Aku percaya, kekasihmu, atau mungkin sekarang sudah jadi suamimu, akan paham dan memaklumi.

Alina, harapan tentang sebuah penantian, seringkali terselip kejenuhan. Untukku kukira tidak. Hasrat untuk bertemu, tak pernah lenyap kesabaran untuk menanti saatnya tiba. Percayalah padaku, Alina, aku tidak akan segila Sarman[vi] yang mendapati dirinya bekerja puluhan tahun hanya mendapat lembaran-lembaran uang yang telah meracuni umat manusia. Ketika kejenuhan itu datang , setelah Sarman menandatangani kuitansi penerimaan gaji, dan ia mengacung-acungkan amplop hasil kerjanya, memaki-maki, menyebarkan lembaran uang yang dilahap dengan rakus oleh kawan-kawannya, lalu terjun dari tingkat tujuh belas. Percayalah, Alina, aku tidak akan segila itu. Bilapun, kelak akan datang kejenuhan, pada titik aku merasa bahwa harapan adalah kosong, aku tidak akan memaki atau berubah sikap membenci dirimu. Sama sekali tidak. Aku tidak akan melompat dari menara. Tidak akan terjun ke jurang. Sama sekai tidak. Percayalah, Alina.

Alina, sampaikanlah padaku bahwa engkau bersedia menerima permintaanku untuk bertemu. Sejenak saja, tanpa kata-kata. Biar aku bisa menyaksikan wajahmu, bersalaman, setelah itu engkau pergi lagi, tak mengapa. Biar lepas harapanku. Biar sempurna hidupku. Tidak ada yang menyeret kepenasaran hingga liang lahat menantikan mayatku. Aku hanya ingin tahu, bahwa engkau benar ada. Ya, bagaimana Alina?

Alina, bilapun cara seperti itu engkau tidak mau. Biarlah kita tidak usah bertemu. Biarlah engkau tak perlu mengenalku. Tapi, biarkan aku melihat dirimu. Melintaslah engkau dari pandangan mataku. Melintas sejenak. Tanpa kata-kata. Engkau hanya perlu menyampaikan ciri-cirimu, jalur perjalananmu, dan aku akan menanti engkau melintas. Bagaimana Alina?

Atau begini. Bawalah melati dalam pot[vii] untukku dan letakkan di tempat yang kita sepakati. Aku akan memandangimu dari kejauhan dengan seksama. Menggunakan teropong biar jelas terlihat dari pandang matamu, tanpa engkau tahu kehadiranku. Percayalah, aku tidak akan mengingkari. Aku tidak akan menghamburkan diriku mendekat dan memaksa memelukmu. Aku juga tidak akan menguntit kepulanganmu. Percayalah padaku, Alina.

Setelah engkau berlalu, aku akan mengambil pot itu dan merawat melati di dalamnya. Aku akan menyirami setiap pagi dan sore. Aku akan selalu mengingatmu. Biarpun mungkin engkau lupa telah memberi melati dalam pot itu kepadaku. Atau tidak mau tahu tentang siapa diriku. Dengan bukti Melati dalam pot itu, aku bisa mengatakan kepada para sahabat, kepada keluarga, kepada para kenalan, kepada istriku, kepada anak-anakku, dan juga cucu-cucuku kelak, bahwa melati dalam pot ini adalah pemberian dari Engkau, Alina.

Setujukah engkau, Alina? Atau apapun bentuknya, biarlah engkau menetapkannya. Kutahu, engkau pasti akan bertanya kepada sang juru cerita: Apakah itu cinta dan kepenasaran?

Baiklah Alina. Kutunggu kabarmu. Kapan kita bisa bertemu

Yogyakarta 1994-2011

Catatan: Ditulis ulang dengan banyak perubahan atas cerpen yang terbuat di April 1994.

Ilustrasi Gambar dari SINI


[1] Alina, tokoh dalam beberapa cerpen Seno Gumira Ajidarma (SGA)

[2] Cerpen SGA: Bunyi Hujan di Atas Genting

[3] Cerpen SGA: Becak Terakhir di Dunia (Atawa Rambo)

[4] Cerpen SGA: Telinga

[5] Cerpen SGA: Sepotong Senja untuk Pacarku

[vi] Cerpen SGA: Sarman

[vii] Cerpen SGA: Melati dalam Pot

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: