Tinggalkan komentar

Cerpen: Aku Cinta Kamu, Dik

AKU CINTA KAMU, DIK
cerpen Odi Shalahuddin

 

Aku cinta kamu, Dik.

Sungguh! Biar disambar geledek, biar ditabrak kereta api, biar dicabik-cabik anjing, kalau aku  berdusta padamu. Percayalah, aku tak akan mundur selangkah pun. Maju terus, pantang mundur. Aku juga tidak perduli pergunjingan orang. Dikatakan edan-lah. Dikatakan pesakitan-lah. Dikatakan korban peradaban-lah. Pokoknya aku sama sekali tak perduli!

Kata orang Jawa, tresno jalaran soko  kulino. Cinta karena biasa bertemu. Memang benar adanya. Pengalamanku membuktikan itu. Saat kau datang pertama kali ke rumah ini sore-sore diantar oleh Harry, aku acuh-acuh  saja. Mendekat pun tidak, apalagi menyapa.

Malamnya, aku asyik bercinta dengan buku di ranjang. Sama sekali tak menoleh ke arahmu yang duduk di sudut kamar. Sampai aku tertidur pulas. Dan ketika bangun, aku hanya menoleh ke arahmu sejenak, langsung ke kamar mandi yang ada di kamar ini. Seusai mandi, dengan telanjang bulat seperti hari-hari sebelumnya, aku mengambil pakaian di lemari, memakainya, mengenakannya, bercermin, menyemprotkan parfum, sama sekali tak menghiraukanmu. Lantas berangkat ke kantor.

Pulangnya, aku hanya melirikmu sejenak. Setelah itu, kejadiannya seperti hari kemarin.

Tiga  hari, lima hari,…tujuh hari. Hari-hari setelah itu ku kira tidak bisa dikatakan  melirik lagi, melainkan telah menatap dirimu, meski tak terlampau lama, tapi sering. Agenda  bacaku sebelum tidur mulai terganggu. Pikiran terbelah. Antara buku dan dirimu. Lebih banyak dirimu.

Lama-lama, justru buku tak kusentuh lagi. Tiduran di ranjang, mata lekat ke arahmu. Kau masih duduk di kursi sudut kamar. Rambutmu terurai melewati sandaran kursi. Ah, pikiran liar bermain dalam ruang imajinasiku.

Ingin kubawa dirimu ke ranjang ini. Keraguan dan ketakutan masih  saja menahan keinginan. Kubebaskan saja pikiran liar sampai aku terlelap.

Perjalanan berikutnya, seringkali  aku  melamunkanmu. Berharap muncul keberanian menunaikan tugas yang diamanahkan oleh pikiran liarku. Ini membuat hilang konsentrasi, dan aku coba  menepiskannya. Sukar sekali. Hasilnya, beberapa  pekerjaanku selesai dengan kualitas rendah sekali sampai atasan berkali-kali menegurku.

Malam  ketiga  belas, aku tak kuat lagi menahan diri. Kudekati kamu, kutatap, lalu tanganmu kugenggam, kubimbing ke ranjangku. Kubaringkan kamu. Kutatap kamu. kukecup keningmu. Kubelai rambutmu. Lalu kujatuhkan kepalaku di dadamu. Berdesir hati ini. Tentram rasanya. Sampai tak terasa aku terlelap sampai pagi.

Ketika  aku  terbangun, aku jadi malu sendiri. Segera bergegas mandi, berpakaian, dan berangkat  kerja. Herannya, ada ketentraman sedikit di hatiku.

Pulang kerja, kulihat dirimu masih terbaring di ranjangku. Aku dekati kamu, aku cium keningmu. Lalu  berbaring  di sisimu.  Ah, aku jadi pemalas. Biasanya, copot sepatu, ganti pakaian, duduk sebentar menghabiskan satu batang  rokok, ke kamar mandi, ambil buku baca sebentar, dan pasti  ada  lagi yang kukerjakan setelah itu. Tapi kini, aku benar-benar jadi pemalas. Tak perduli dengan bau keringat yang menyengat.  Aku berbaring di sisimu, memandang buas, lalu  memelukmu dengan erat.

Amboi…. Tralala.. la.. la.. La.. la.. la.. la.. la.. amboiiiii….

Hari-hari berikutnya kurasakan kegilaan yang nikmat. Aku mulai berani meraba-raba tubuhmu, membuka kancing-kancing pakaian, mencumbu dengan giat, dan astaga!

Tak terbayang sebelumnya, gairah yang memuncak membuat orang hilang pikiran terkecuali melepaskan hasrat yang ada. Terjadilah. Terjadilah, yang  kusadari setelah terjadi.  Membuatku  tercenung. Memandang tubuh bugilmu. Pakaian kita telah berserakan di lantai. Aku tak tahu harus bersikap  bagaimana? Mengutuki diri? Mengutuki kamu? Terus-terang, ini pengalaman  pertama. Perjakaku hilang sudah. Tiada lagi yang dapat kubanggakan  di hadapan  teman-teman. Selama ini, aku jadi bahan  olok-olokan mereka karena dianggap pengecut. Olok-olok yang  sesungguhnya kuterima  dengan kebanggaan. Siapa yang mampu  mempertahankankeperjakaannya sebelum memasuki dunia perkawinan  pada  masa sekarang ini? Oh, hilang sudah…..

Sejak  kejadian itu, perlahan mulai  muncul  perhatianku padamu.  Kubeli beberapa pakaian yang pantas buatmu.  Pakaian yang  akan  aku  kenakan ke tubuhmu  dan kulepaskan  kembali setiap  muncul  hasratku. Oh, dunia gila,  berputar-putar  di kepala. Membuatku gila aja!

Bayang-bayangmu terus mengikuti langkahku. Dalam  kerja, bayanganmu  tanpa permisi menyeruduk ke otak  mengusir.  Kali ini bayangmu tidak begitu mengganggu. Justru mendorong kerjaku  semakin  giat. Agar cepat selesai, agar ada  waktu  luang yang cukup untuk istirahat biar sampai di rumah tidak  begitu

lusuh  bagai  orang kehilangan gairah hidup.  Aku  tidak  mau terlihat  begitu  di hadapanmu. Percayakah  kau,  Dik  dengan perkataanku  ini? Tidak? Ah, enggak mungkin. Seandainya  saja kamu bicara.

Aku cinta kamu, Dik. Aku cinta kamu. Cinta banget deh. I love you  very-very-super very much. Aku tresna  karo  koweTenan iki, Dik. Kok Ora percaya?

Aku merasa jadi lelaki.

*****

“Aku cinta kamu, Dik,” kuucapkan kata-kata itu  setengah berbisik di sebuah restaurant tengah kota. Berbisik  pelan. Dengan nada teramat mesra. Tiada jawaban membuatku gemetaran. Ah, kenapa,  ya?

“Benar, Dik. Aku cinta kamu,” kuulangi lagi dengan nada lebih mesra tanpa mengurangi rasa keseriusan dari hati  yang terdalam.  Jawaban  belum tiada  juga.  Tanganku  menggenggam tangan mungil, jariku iseng bermain, terasa tiada  penolakan.

Ah. Hanya tunggu waktu. Perempuan biasanya begitu.

“Aku  cinta  kamu, Dik. Kamu  bagaimana?” untuk ketiga kalinya kukatakan itu. Wajah di depanku menunduk. “Kau menolak? Kalau menolak, ya sudah,”.

Kepala itu menggeleng.

“Kamu mau menerima?” kepalanya diam. Agak kecewa juga aku. Tadi menggeleng, seharusnya kan sekarang mengangguk. Kok tidak,  sih. Aku mengambil nafas panjang. Menghela perlahan. Aku terasa mau bersorak riang. Kepala di depanku mengangguk. Tidak salah penglihatanku. Tidak salah penglihatanku! Tidak salah?

“Aku cinta kamu, Dik,” kata-kata itu hampir tak pernah terlupa kuucapkan setiap senja, di mana saja kami bertemu. Tapi maafkan aku, bila kata ini bukan untukmu. Tapi kepada Ina seorang pegawai kantor sebrang jalan yang kukenal belum lama. Maafkan aku, ya dik.

Sorry, meski kau masih boleh tidur di ranjangku, aku tak akan mengganggumu lagi setiap malam. Meraba pun tidak. Kini yang terbayang-bayang di kepala adalah wajah Ina. Tampaknya kami akan serius menjalani percintaan ini. Maaf, ya, Dik.

Maaf, lagi, lho, Dik. Kalau aku makin serius dengan Ina, terpaksa kamu tidak bisa tinggal di ranjangku lagi. Tapi, aku janji deh tidak akan membiarkanmu terlantar. Setidaknya aku akan beri ruang untukmu di lemari. Tapi, kalau sudah tunangan, maaf, ya, kamu harus segera menyingkir demi kebahagiaanku. Setidaknya dapat kukatakan kepada Harry yang membawamu dulu ke sini untuk membawanya kembali. Entah kemana, biar terserah Harry. Kalau kamu masih di sini, kan bahaya kalau ketahuan Ina.

“Aku cinta kamu, Dik Ina,” sekarang aku tambahkan nama itu dalam setiap bisikanku. Kalau tidak, aku sering  teringat saja dengan guling ajaib itu, yang entah sekarang di mana tempatnya.

Yogya, Desember 1994

_________________________

Gambarnya dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: