1 Komentar

Cerpen: Aku Baru Saja Membunuh

AKU BARU SAJA MEMBUNUH
Cerpen Odi Shalahuddin 

Kepalanya telah kupegang, belati kutempelkan di lehernya, dan cressss….Darah muncrat. Aku tersenyum puas. Tak peduli dengan bintik-bintik merah yang meramaikan pakaianku.

Usai sudah segala rencana. Kebanggaan menyelinap di dada. Aku bisa buktikan bahwa aku laki-laki!

Kulepaskan peganganku. Ia terjatuh. Matanya jelajatan. Tubuhnya menggelepar-gelepar. Suara jerit kesakitan  mengusik pendengaran. Aku mencoba bertahan  agar tidak  memalingkan muka, agar tidak muncul ibaku. Itu kelemahan! Teriakku dalam hati, mencoba menjaga ketegaran. Mataku terus mengawasi dirinya yang tengah berada di ambang maut. Kulihat ia mencoba bangkit, merangkak, hendak berlari. Aku tak berusaha mencegahnya. Kuyakin ia tak akan sanggup. Ia pasti mati!

Aku berdiri tegak, dengan kaki terentang. Angin senja berhembus kencang seakan merobohkanku. Aku tak tergoyahkan. Tegak bagai tembok beton. Sedangkan di belahan barat, matahari dengan lemah menghujamkan cahayanya ke wajahku. Langit kuning kemerah-merahan di sekelilingnya.

Aku masih saja berdiri tegak. Belati di tangan kananku masih tergenggam. Tetesan darah segar, membentuk bulatan-bulatan  kecil, menetes perlahan ke tanah. Tatapan mataku terus saja mengikuti geraknya.

Ia berhasil melangkah beberapa kaki. Darahnya terus mengalir dari leher. Sesekali ia menoleh kepadaku, menghujamkan sorot mata kebencian, mengeluarkan suara yang tak jelas. Kujawab dengan senyum kemenangan. Seandainya ia bisa bicara, tentu beragam kutukan akan ditumpahkan buatku.

Jalannya oleng, keseimbangan tubuhnya hampir habis. Ia terjatuh, mencoba bangkit lagi, jalan seperti orang  mabuk, ingin rasanya aku tertawa. Tak lama kemudian, kakinya terpeleset di pinggiran comberan. Tak kuasa ia mencegah. Tubuhnya ambruk ke dalam comberan. Air hitam membasahi tubuhnya.

Ia menggelepar. Jeritan panjang. Yang terakhir. Setelah itu tak ada suara, tak ada gerak. Tubuhnya terbujur  kaku. Air comberan  masih saja terus mengalir meninggalkan beberapa kotoran yang melekat ke tubuhnya.

Kuamati diriku sendiri. Sungguh kagum aku. Tubuh tidak gemetaran, dada yang semula bergejolak telah tenang, denyut jantung berirama normal, wajahku – seandainya saja aku  bisa berkaca – tentu tidak menunjukkan rasa takut, bahkan  bisa dikatakan  berseri-seri. Dapat kurasakan dari kepalaku yang tidak merasa terbebani.

Lengan kiriku, kugerakkan, dan menyeka keringat di dahi. Ingin rasanya aku bersorak. Meneriakkan kemenangan. Melonjak-lonjak bagaikan anak kecil yang terpenuhi keinginannya. Terbersit rasa malu untuk melakukannya. Biarlah begini saja.

Akulaki-laki. Laki-laki sejati. Lihatlah percikan darah di pakaianku. Lihatlah belati yang masih tergenggam di tanganku, masih meneteskan darah ke tanah. Aku tak gemetaran lagi, tak menggigil, tak berkeringat, tak pucat wajahku, tak berdegup kencang jantungku, dan aku masih berdiri tegak di sini, tak ambruk seperti biasa kau lihat, lantaran melihat darah. Sekarang, darah justru melekat! Kau lihat itu?

Jangan kau katakan aku sebagai banci lagi. Kejadian ini telah menepiskan  omongan kalian selama ini. Aku laki-laki. Laki-laki sejati yang tak takut senjata tajam dan darah!

“Kemenangan ini harus segera dirayakan,” kataku dalam hati.

Aku membayangkan banyak orang tak akan percaya. Perubahan yang drastis sekali. Luar biasa. Pasti beberapa orang diantaranya  akan mencoba menguji kebenaran dengan perlakuan yang selama ini mereka perbuat kepadaku. Biarkan saja. Bila itu terjadi, aku siap untuk menghadapinya.

Entah apa sebabnya, selama ini aku paling takut melihat senjata tajam dan darah. Jangankan senapan, pisau dapur saja telah membuatku menggigil. Aku selalu menghindar dari dapur.

Bila melihat seseorang mengiris buah-buahan, yang terbayang adalah manusia yang tengah diiris-iris. Mengerikan! Lantas aku merasa darah muncrat ke mana-mana. Wajahku berubah pucat, keringat dingin mengalir deras, keseimbangan tubuh hilang, lantas ambruk.

Aku berusaha keras menghindari pandangan mataku. Namun teramat sulit. Hal itu ada di mana-mana. Dapat kau bayangkan betapa tersiksanya aku ini.

Berkali-kali ambruk, orang-orang jadi tahu apa penyebabnya. Mulailah aku dikebiri dengan berbagai permainan untuk menteror mentalku. Terkadang ada pisau dapur di tasku, terkadang ada silet di selipan bukuku, terkadang ada cairan merah di pakaianku. Akhirnya, kurasa dunia sadarku lebih sedikit daripada ketidaksadaran.

Mulut orang-orang ramai mencemooh. Orang-orang dekatku juga begitu. Bapak, ibu, kakak, adik, Oom, tante, kakek, nenek, dan sebagainya. Aku dikatakan sebagai pengecut. Aku dikatakan sebagai orang kurang normal. Aku dikatakan  sebagai banci. Banyak lagi pernyataan-pernyataan buruk buatku. Membuatku minder, rendah diri, sakit hati, dan memunculkan dendam. Aku jadi merasa lebih merdeka bila menyendiri. Itu yang banyak kulakukan.

Dalam kesendirian aku mencoba menguasai diri. Membiarkan imajinasi bermain bebas membangun rencana-rencana. Aku harus membebaskan diriku dari ketakutan. Ketakutan tak akan  hilang bila  menghindar.  Aku harus berani menghadapi semua  itu. Keberanian  yang berlipat ganda. Sampai akhirnya terkumpul satu rencana. Aku harus membunuh! Aku harus membunuh!

Kucuri sebilah belati tajam milik Bapak dari lemarinya. Ku kuasai diriku agar tak mengalami hal seperti biasanya. Kugenggam, kupandangi dengan tajam, menenangkan  gejolak di dada, menolak kengerian di kepala, menjaga keseimbangan tubuh. Aku berhasil. Aku berhasil menggenggam senjata tajam dengan sukses.

Pikiranku menerawang. Aku harus putuskan siapa yang akan menjadi korban sebagai pelampiasan dendamku, sebagai bukti bahwa aku laki-laki sejati. Satu persatu wajah-wajah bermunculan. Sampai aku mendapatkan korban yang layak.

Kuselipkan belati di pinggang. Lalu melangkah ke luar rumah mencari sang korban. Begitulah ceritanya.

Sesosok mayat terbujur kaku di comberan dengan leher hampir putus. Tubuhnya terlekati beragam  kotoran. Aku tersenyum, lalu terbahak.

Senja yang terus saja merangkak, mendekati malam. Suara adzan bergema. Aku seakan tersadarkan. Oh, apa yang kualami? Belati dalam genggaman tangan kuhempaskan ke tanah. Kulihat pakaianku banyak noda merah. Aku menggigil. Menggigil. Oh, Tuhan!

“Oalah, Gusti….Gusti…!” jeritan seorang perempuan. Aku menoleh ke sumber suara. Aku terpaku. Perempuan itu, ibuku.  Wajahnya kelihatan tegang. Matanya tajam menatapku. Aku merunduk. Kegelisahan menggelayut manja.

“Mengapa Haris?! Mengapa Haris?! Mengapa?!” ibuku menghujamkan pertanyaan tajam. “Blorok itu kesayangan Bapakmu. Bisa marah besar ia, bila mengetahuinya.”

Wajahku semakin pucat. Tapi, mengapa perasaan sangat berbahagia sekali? Ah, aku telah berhasil membunuh. Meski cuma si blorok. Namun itu telah membunuh ketakutan-ketakutanku.

“Sudahlah, masuk sana! Sudah Magrib. Mandi, lalu shalat,” perintah ibuku. Ia lalu mengambil belati yang ada di tanah, dan mengambil blorok dari comberan. Untuk hal ini, dengan senang hati kupatuhi perintahnya, sambil bernyanyi-nyanyi kecil.

Yogyakarta, November 1994

_________________________

Gambarnya dari SINI

Iklan

One comment on “Cerpen: Aku Baru Saja Membunuh

  1. nice blog gan
    kalo berkenan mampir ke blog ane yuk sekalian tukeran link.

    salam,
    muslimshares
    http://muslimshares.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: