Tinggalkan komentar

Bebaskan Anak dari Penjara Australia

Oleh:  Odi Shalahuddin

Bebaskan anak Indonesia dari penjara Australia, demikian diserukan oleh Yayasan Pemantau Hak Anak (YPHA) yang berbasis di Jakarta ini dalam siaran pers-nya yang disebarkan pada hari ini (22/07) menyambut peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli.

“Sampai hari ini ada sekitar 70 (tujuh puluh) anak Indonesia yang ditahan dalam pusat-pusat penahanan dan penjara di beberapa negara bagian di Australia karena dituduh melakukan tindak pidana penyelundupan orang, padahal mereka hanya bekerja sebagai tukang masak di kapal yang oleh pemiliknya digunakan untuk menyelundupkan orang, dan sampai hari ini mereka ditahan bersama-sama dengan narapidana dewasa, termasuk para penjahat seksual.” Demikian dikatakan oleh Antarini Arna, ketua YPHA.

Lebih lanjut dikatakannya “Karena penahanan dan pemenjaraan anak-anak bersama-sama narapidana dewasa membahayakan hidup anak-anak dan melanggar standar internasional perlindungan anak yang berhadapan dengan hukum”

Oleh karena itu, Yayasan Pemantau Hak Anak mendesak :

1. Pemerintah Indonesia agar meningkatkan upaya diplomatik untuk membebaskan anak-anak Indonesia yang ditahan atau dipenjara di pusat-pusat penahanan atau penjara Australia.

2. Pemerintah Australia sebagai negara yang meratifikasi Konvensi Hak-Hak Anak, untuk mematuhi standar internasional penghormatan dan pemenuhan hak-hak anak dengan membebaskan anak-anak Indonesia tersebut dari tuduhan melakukan kejahatan penyelundupan orang.

3. Pemerintah daerah terutama daerah-daerah perbatasan agar mengembangkan kebijakan dan program perlindungan anak, terutama bagi anak-anak miskin di daerah pedesaan dan pesisir agar anak-anak tidak terlibat dengan pekerjaan yang membahayakan hidupnya

4. Pemerintah daerah agar menjamin kepemilikan akta kelahiran bagi setiap anak di daerahnya, untuk menghindari kematian identitas.

Seruan ini tampaknya layak menjadi perhatian mengingat kasus-kasus yang menimpa anak-anak di Indonesia di luar negeri kerapkali luput dari perhatian. Anak-anak Indonesia yang ditahan di Australia diduga terlibat sebagai pelaku penyelundupan manusia (people smuggling). Mereka direkrut dan bekerja sebagai anak buah kapal.

Pada akhir 2010, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak telah memberikan perhatian terhadap kasus ini. Tercatat ada 387 anak Indonesia yang dipekerjakan sebagai Anak Buah Kapal (ABK) yang mengangkut penyelundupan warga Afganistan ke Negeri Kanguru ini. Mereka biasanya adalah anak-anak dari pesisir mulai dari Cilacap (Jateng) hingga NTT. (lihat Di SINI)

“Hakim pengadilan Brisbane, Hon Chris Callaghan, pada hari ini tanggal 1 Juli 2011 dalam pengadilan Magistrate Brisbane telah memvonis bebas 3 (tiga) awak kapal WNI bernama Ose Lani (15) Ako Lani (16) dan John Ndollu (17) setelah jaksa penuntut umum Brisbane memutuskan untuk tidak meneruskan tuntutan atas ketiga ABK atas tuduhan ikut terlibat dalam penyelundupan pencari suaka ke Australia,”demikian siaran pers yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta pada awal bulan Juli ini. Lebih lanjut dikatakan bahwa Kementerian Luar Negeri melalui perwakilan RI di Australia akan terus memberi prioritas tinggi terhadap upaya perlindungan ABK WNI yang masih dalam tahanan (masih terdapat sekitar 500 ABK ditahan di seluruh Australia), khususnya mereka yang diduga/mengaku diri masih berusia di bawah 19 tahun. (lihat di SINI)

Antarini Arna, atau dikalangan aktivis Organisasi Non Pemerintah dikenal dengan panggilan Rino, ketika saya hubungi melalui telpon menyatakan bahwa hal ini sangat menyedihkan. “Australia sebagai negara maju yang juga telah meratifikasi Konvensi Hak Anak, tentunya sadar adanya standar minimal bahwa anak tidak boleh dijadikan satu dengan tahanan dewasa. Kita harus mengingatkan mereka. Bagaimana kalau anak Australia misalnya diperlakukan serupa di negara lain?”

Rino juga menyatakan bahwa ia menjalin komunikasi dengan lembaga human right di Australia yang memantau dan mengetahui situasi dan kondisi anak-anak Indonesia di tahanan Australia. “Persoalannya mereka juga kesulitan untuk bisa bertemu dengan anak-anak. Tapi berdasarkan data resmi pemerintah Australia, hanya ada 29 anak yang masih berada di tahanan,”

”Beberapa anak juga sempat diadili dan dianggap mengambil keuntungan dari penyelundupan manusia. Ini sangat aneh. Seharusnya itu ditimpakan kepada pemilik kapal atau para orang dewasa. Anak-anak ini adalah anak-anak miskin yang direkrut sebagai ABK. Mereka harus segera dibebaskan,” lanjut Rino.

Ya, memang banyak persoalan yang dihadapi oleh anak-anak Indonesia, tidak sekedar di negerinya sendiri yang masih menyimpan kisah duka, tapi juga anak-anak Indonesia yang mengalami situasi buruk di luar negeri. Pada kasus ini adalah anak-anak yang ditahan di Australia.

Semoga Hari Anak Nasional yang akan diperingati besok, persoalan di atas bisa juga disuarakan oleh 330 perwakilan anak-anak dari seluruh propinsi di Indonesia yang tengah melangsungkan Kongres Anak ke X di gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat. Tapi yang terpenting lagi, agenda membacakan deklarasi Anak Indonesia tidak dibatalkan secara sepihak oleh Istana sebagaimana terjadi pada tahun 2010 yang lalu.

Selama Hari Anak, semoga kehidupan mereka menjadi lebih baik, pada hari ini dan masa depan.

Yogyakarta, 22 Juli 201

__________________________

Foto ilustrasi diambi dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: