Tinggalkan komentar

(puisi) Kuberi Puisi, Pastilah Engkau Akan Menolaknya

Kuberi puisi, pastilah engkau akan menolaknya 

ya, aku tahu itu, tahu bahwa tiada berguna, tahu, bahwa puisi itu akan engkau singkirkan dari wajahmu, dan telingapun tertutup rapat. Kutahu bahwa engkau akan melototiku, bila aku ngotot menyerahkan puisi ini padamu. walau kata-kata dalam puisiku bercerita tentang indahnya surga, engkau akan katakan bahwa itu dongengan belaka. walau kata-kata dalam puisiku bercerita tentang neraka, engkau akan katakan bahwa itu adalah kisah hantu untuk menakuti para bocah. walau kata-kata dalam puisiku bercerita tentang dirimu, engkau akan katakan ”sok tahu loe!”

”hidupku sudah menjadi puisi yang terus bernyanyi, menyatukan suka dan duka, darah dan nanah, mimpi dan nyata, tak peduli apa mau dirasa, tapi itulah fakta di depan mata yang harus kami nikmati,” engaku pernah mengatakan itu padaku. ya, aku masih ingat betul.

tapi sungguh, aku ingin memberimu puisi, membacakannya di depanmu, di tengah alunan musik dangdut dengan para perempuan yang menggelinjangkan tubuhnya dengan tangan-tangan nakal para lelaki dengan desah merayu menyelinapkan lembaran demi lembaran di balik kutang, hingga berpasangan menghilang memasuki rimbun pepohonan taman kota. ya, ingin aku memberimu puisi, membacakannya di depanmu. setelah itu, janjiku, aku akan berlalu.  ah, engkau malah memberiku sebotol bir.

Yogyakarta, 24 Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: