Tinggalkan komentar

(puisi) Curahan Hati

CURAHAN HATI 

Malam hari. Sudah buat kopi. Tenangkan hati. Duduk sendiri. Di hadapan meja Jati. Tapi bukan hasil mencuri. Jadi jangan panggil polisi.

Ini kali. Rencana hati. Mau menulis puisi.

Tentang sebuah negeri. Sekarang tambah ngeri. Membuat bulu kuduk berdiri. Orang-orang beranjak pergi. Ah, jangan yang ini. Sudah banyak orang mati. Jangan tambah membuat sakit hati.

Tentang sebuah bangsa. Masyarakatnya hidup bahagia. Baik sekali para penguasa. Juga para pengusahanya. Buruh ceria. Dibayar mahal tenaga. Petani suka. Lahan dibuka. Dibagi rata. Tapi dimana? Apakah bukan mimpi belaka?

Tentang cinta. Tak berbalut dusta. Seia-sekata. Hidup berdua. Seakan memiliki isi dunia. Soal mati, sendiri saja. Tapi dengan diksi terbata. Pastilah tak akan tercipta. Apalagi bila diri kehilangan cinta. Pastilah tak bisa. Penuh rasa. Menggoda jiwa. Ah…

Semakin malam. Semakin kelam. Mata memejam. Panggil ilham. Tak jua menghujam. Di luar malah hujan.

Kopi mendingin. Hati masih ingin. Menulis puisi. Tak juga terinspirasi. Hingga jemari, kaku menari. Malam semakin sepi. Tetap sendiri. Layar mati.

21 April 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: