Tinggalkan komentar

(puisi) Bermanfaat

BERMANFAAT 

Ketika kuhujamkan huruf dan angka yang bertebaran dalam ruang monitor di kala gelisah mencekam mencengkram diri, maka tiada terbentuk kata yang terbaca. Lihatlah mereka menggigil kedinginan tak mendapatkan pelukan hangat dalam penyatuan. Satu sama lain saling membalikkan badan. Ah, kurasa bukan aku saja yang bingung, dirimupun pastilah bingung. Bagaimana cara mengeja, sudah terlupa, apalagi rangkaian hanya konsonan.

Gfmntyhlwdfr mmgdddyytnash bqwtrkm lwpqj dhyrn

Sungguh, padahal dalam kepala telah siapkan anak panah yang akan diluncurkan untuk mengucap salam dan sapa padamu di kala senja. Ketika mentari mulai menurun, bersiap dalam rebahan dan digumuli oleh gulita.

Ada yang salah, dalam kepala? Jemari yang terbuka? Atau huruf dan angka yang enggan lagi bekerjasama?

Kucari dibalik saku. Ternyata ”A” tengah bergelantung di kelaminku.

“Hei, mengapa engkau di situ. Dunia merana ketika kau bersembunyi,”

“Biarlah. Aku ingin sendiri. Aku tak akan tertawa lepas terbuka di kala derita menambah deretan catatan luka penuh duka. Biarlah ”H” saja yang bekerja,”

Kulihat ”O” mengintip dari lubang saku baju.

”Ayolah sini ”O”

Ia menggeleng.

“Mengapa “O”

“Aku tak ingin orang selalu heran dengan peristiwa. Atau hanya membebek saja. Biarlah “H” sendiri yang bekerja,”

Ah, ada apa pula.

Kulihat “I”, terselip dalam jemari. Menggulung diri, membentuk cincin.

”Hai, ”I”, ayo kemari,”

”Biarkan aku menggulung diri, aku bosan menjadi penyendiri pembawa sunyi. Sekaligus bosan penjadi suara syetan yang menakuti. Biarlah ”H” bekerja sendiri”

”E” kemarilah”

”Ogah, biarkan aku berada pada roda. Tak masalah pada roda gila. Aku ingin menjadi ”A”, tapi orang masih saja mengganduli diriku. Biar kelihatan trendi. Bilapun senang, tawa yang ada tak merekah. Bisa juga jadi suara hantu. ”H” saja yang bekerja”

Halo, ”U”, marilah mendekat, kita bercanda,”

”U” melengos.

”Aku bosan menjadi pencemburu. Juga menjadi alat untuk mencemooh. Biarkan aku menunggu, tapi tidak termangu. Irama sendu, biarlah berlalu. Menjadi satu, berpadu dalam piala perunggu. Ah, biarkan ”H” saja yang bekerja,”

Kembali aku ingin merangkai kata. Vokal-vokal itu sekarang benar-benar vokal. Tidak mau menuruti perintahku, untuk dikawinkan dengan konsonan. Tapi mengapa ”H” yang mereka hindarkan? Seakan ada kebencian, lantaran selalu irama rasa bersama ”H”?

Ah…Ah..Ah… Ha..Ha.Ha.
Eh…Eh…Eh… He..He..He..
Uh…Uh…Uh…Hu..Hu..hu..
Oh…Oh…Oh…Ho.Ho..Ho..
Ih…Ih…Ih… Hi..hi..hi..

Ah.ih.uh.eh.oh
Ha.hi.hu.he.ho

Semakin pusing, diri melayang, dalam lautan. Badai yang datang menghempaskan hingga daratan. Pulau tak berpenghuni. Kerimbunan hutan. Belalang berlompatan. Ingin aku berkata-kata. Tapi tak bisa. Para vokal sudah berpindah ruang, entah kemana, ngacir begitu saja.

Lantas apa manfaat kata yang tertuang? Tak ada kata dan angka yang bisa bermakna

Jadi, sungguh-sungguh tak bermanfaat. Tak sesuai dengan judulnya. Terlalu dipaksa. Tapi itulah penulis. Merasa berhak melakukan apa saja. Termasuk memperkosa karyanya sendiri…

Yogyakarta, 7 Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: