4 Komentar

Wajah yang Membayang

Wajah yang Membayang

Membaca kembali rangkaian wawancara dengan anak-anak bernasib sial sehingga dijerumuskan ke dalam prostitusi membuatku tetap saja terpana. Wajah-wajah mereka hadir silih berganti. Wajah-wajah yang benar-benar masih menunjukkan sosok anak-anak, tapi pengalaman hidupnya bisa lebih getir dari pengalaman hidup orang dewasa.

Aku ingat, mereka tersenyum, tertawa lepas, dan bersapa dengan keramahan. Ketika ingin difoto, berusaha berpaling muka atau menghindar. Namun, ketika diserahkan tustel, mereka segera berhambur ke berbagai sudut yang dipandang menarik dengan menampilkan pose-pose diri mereka yang menunjukkan sosok sejatinya sebagai anak-anak. Ah….

Ah, engkaulah Mawar, yang kutemui masih berseragam sekolah dengan salah seorang kawanmu.  Kita berbincang setelah beberapa saat menunggu kepulanganmu. Wajah cantik dengan kerudung menutupi rambutmu, dengan rok panjang menutupi mata kaki. Sinar matamu tidak bisa membohongi tiap kata yang ragu engkau ucapkan. 15 tahun usiamu, tapi malam telah menjadi sahabat yang senantiasa mencumbui hari-harimu. Alunan musik dalam room-room di hotel berbintang yang biasa dihuni para tamu asing, yang gedungnya tampak kokoh menjulang di sebuah bukit. Tempat bisa memandang lepas lautan. Bagaimana dengan orangtuamu? Apakah tak pernah bertanya tentang hari-harimu dicumbui malam? Ah, ingin rasa bersapa kembali dengan dirimu. Bagaimana kabar hari ini? Sesekali masih kudengar suara hatimu lewat status di Facebook.

Engkaulah Melati, dengan kulit putih dan mulus tubuhmu, lepas dari sekolah sebelum genap kelulusanmu di tingkat SMP. Masih 15 tahun pula usiamu. Berkaos kuning, tampak serasi sekali dengan warna kulitmu.  Terikat dalam genggaman sang mami dengan berjuta kisah yang sulit untuk kupercayai bisa dialami oleh dirimu. Dua tahun kau jalani itu? Ayo, ingin segera kubangkitkan mimpi-mimpi-mu, tentang hidup ini, sehingga memancar energi yang akan menguatkan dirimu. Tapi ingin, belum bisa mengalahkan kekejaman dunia yang melingkupi dirimu. Teramat jauh jangkauan untuk memotong rantai-rantai itu.

”Sungguh, aku menyesal. Aku ingin menjadi orang baik-baik,” harapan yang terlontar dari dirimu, Jelita, masih saja terngiang. Aku sempat tertunduk mendengar perjalanan hidup yang kau tuturkan dengan datar. Ketika dirimu lari dari rumah di sebuah desa di Jawa Tengah yang menghantarkanmu pada sebuah kota di Jawa Barat. Ketika kau kebingungan dan terlelap di sebuah stasiun dan enam laki-laki menyergap, membawamu ke sebuah ruang, memaksa melayani hingga kau tak sadarkan diri dan ditemukan oleh penduduk. Tinggal di sebuah tempat kost, menanti orang-orang datang atau memanggilmu melalui HP. Jelita, yakinlah perubahan bisa datang.   

Engkaulah Pi, bertubuh kurus, dengan kulit putih yang tampak kusam, dengan wajah dan sorot mata yang terasa menantang dunia, mencoba meyakinkan diri tentang kebenaran atas sebuah pilihan yang telah menjebak. ”Terlanjur, daripada hanya gratisan, lebih baik sekalian mencari uang,” itulah yang kau katakan padaku. ”Tapi aku tak mau begini terus. Aku berniat pada umur 17 tahun bisa berhenti, kembali hidup normal seperti anak-anak lainnya,”

Engkaulah, engkau sekalian, anak-anak perempuan penghuni jaman yang telah dihilangkan dan menjadi bagian dari sisi kelam kehidupan. Bangkitlah dan raihlah segenap mimpi-mimpi tanpa ragu.

Kali ini, untuk kesekian kali, rasaku bercampur aduk mendengar suara-suara kalian yang terekam dalam audio, dengan catatan dan gambar-gambar yang kalian ciptakan. Ah, masih kuingat penggalan-penggalan peristiwa, saat kita bersapa.

Kusapa kalian, semoga angin bisa menghantarkannya dan sampai pula pada batinmu. Mari bangun dan bangkit. Lihatlah, matahari sudah memberikan kehangatan sinarnya.

Yogya, 11.03.11

Iklan

4 comments on “Wajah yang Membayang

  1. seluruh sisi kelamnya menjadi syahdu di tangan Mas Odi.
    dan endingnya … menyemangati bagi siapapun yang membacanya.

    • Makasih kunjungannya Bung Tjak Lan…
      Ya, di sekitar kita banyak sekali sosok-sosok demikian
      hm… di Mataram saya juga pernah bertemu beberapa anak
      terlibat dalam diskusi mengenai pengalaman hidup mereka
      bukan anak perempuan, tapi anak laki-laki…
      jadi ancaman bisa membayangi siapapun
      anak perempuan dan anak laki-laki

  2. Salam Mas, sungguh trenyuh…sepertinya ingin menyalahkan. Namun menyalahkan siapa keadaan, orang tua, takdir atau siapa?…lalu saya sadar..bukankah itu tanggung jawab kita semua…(lalu saya merasa malu karena masih belum berbuat apa-apa untuk mereka dan anak-anak seperti mereka lainnya)
    Terimakasih Mas…telah membaginya

    Salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: