Tinggalkan komentar

Jangan Lagi Ada Pegang Bokong

Oleh:  Odi Shalahuddin

Berbeda dengan draft sebelumnya, yang diusulkan sejak tahun 2006, mendapatkan tentangan hebat dari Ornop dan kelompok-kelompok anak jalanan, sehingga oleh DPRD dimentahkan dan diminta untuk disusun ulang. Penyusunan ulang yang menghasilkan sesuatu yang menurut saya luar biasa.

Perubahan paradigma, memang menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda. Istilah perlindungan yang digunakan, telah menempatkan anak jalanan sebagai anak yang harus dilindungi dan dipenuhi hak-haknya.

Ada tiga tujuan dari perlindungan anak yang dirumuskan, yaitu:

  1. mengentaskan anak dari kehidupan di jalan;
  2. menjamin pemenuhan hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaaan; dan
  3. memberikan perlindungan dari diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan, demi terwujudnya anak yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera

Prinsip-prinsip perlindungan, mengadopsi prinsip-prinsip dari Konvensi Hak Anak, yaitu;

  1. non-diskriminasi;
  2. kepentingan yang terbaik bagi anak;
  3. hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan; dan
  4. penghargaan terhadap pendapat anak

Di dalam mencapai tujuan yang ditetapkan ada empat komponen program utama yang dilakukan, yaitu:

  1. Pencegahan
  2. Penjangkauan
  3. Pemenuhan hak anak
  4. re-integrasi sosial

Dari komponen utama ini terlihat bahwa upaya yang dilakukan adalah melakukan berbagai upaya agar anak-anak, terutama kelompok yang dianggap rentan, agar tidak tergoda atau dijerumuskan ke dunia anak jalanan, dan anak-anak yang sudah berada di jalanan bagaimana bisa dijangkau dan ditarik keluar dari situasinya hingga dapat berkumpul bersama keluarga dan komunitasnya.

Persoalan yang selama ini mengemuka di dalam kehidupan anak jalanan di dalam hubungan dengan pengelola negara, ini terkait dengan penjangkauan. Penjangkauan anak jalanan selama ini dilakukan dengan apa yang dikenal dengan istilah razia atau garukan. Banyak kisah memilukan yang terlahirkan dari tindakan razia ini, seperti perlakuan sewenang-wenang dengan menggunakan berbagai tindakan kekerasan secara fisik hingga tindakan yang bersifat pelecehan seksual. Aksi-aksi protes dari kelompok anak jalanan dan atau bersama Organisasi Non-pemerintah, banyak terkait dengan persoalan tindakan razia ini yang dinilai sering merendahkan harkat dan martabat anak jalanan.

”Selama ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan prosedural yang berperspektif penertiban. Ini sifatnya instans. Secara substansif ini bisa dikatakan gagal untuk mengatasi masalah. Dengan adanya perubahan paradigma semacam ini, kami sangat menyambut baik. Itu tidak masalah bagi Satpol PP.  Setelah ada perda ini kami ingin membentuk unit khusus yang terlibat dalam persoalan anak-anak jalanan. Semoga ini bisa terwujud.

Kami juga telah mengkomunikasikan ke pemerintah kota/kabupaten, apabila ada razia untuk gelandangan dan pengemis, kami sampaikan bila ada anak-anak, ini harus ditangani sesuai dengan prosedur yang diatur dalam perda dan diperlakukan dengan perspektif hak anak.” demikian dikatakan Aryanto Hendro dari Satuan Polisi Pamong Praja DIY menanggapi Perda tentang anak jalanan ini.

Pada Perda di DIY, penjangkauan tidak lagi  hanya dimandatkan kepada Satuan Polisi Pamong Praja, tetapi dilakukan oleh sebuah Tim yang disebut sebagai Tim Perlindungan Anak atau Tim Penjangkuan. Ini terdiri dari berbagai instansi pemerintahan dan kelompok masyarakat sipil, yaitu:

  1. Dinas yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang sosial
  2. Dinas yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kesehatan
  3. Kepolisian;
  4. Satuan Polisi Pamong Praja
  5. LKSA
  6. Pekerja Sosial; dan
  7. Tenaga Kesejahteraan Sosial Anak.

Tim ini akan ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.

Upaya penjangkauan harus dilakukan sesuai standar Operasional Prosedur (SOP) yang akan diatur dengan Peraturan Gubernur. Terkait dengan hal ini, suatu workshop untuk Penyusunan Standar Operasional Prosedur dan Rencana Aksi Propinsi atas Perda Perlindungan Anak yang Hidup di Jalan, telah dilangsungkan selama tiga hari, yaitu tanggal 18-20 Juli 2011, bertempat di ruang Sambisari, Hotel Santika Yogyakarta. Peserta acara ini terdiri dari unsur pemerintah, yaitu Dinas Sosial, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Kesehatan, Biro Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat, Biro Hukum, Kanwil Dephukham,  dan unsur masyarakat sipil yaitu: Lembaga Perlindungan Anak DIY, Sekretariat Anak Merdeka Indonesia, PKBI DIY, Ghafara, dan Rumah Singgah Anak Mandiri.

Pada workshop ditentukan tentang tujuan, arah, strategi, prinsip dan etika yang harus dijalankan dalam penjangkuan dengan mengedepankan anak sebagai subyek hak dan menghindari tindakan-tindakan represif. Juga disepakati rancangan Rencana Aksi Propinsi yang akan dibahas dan diusulkan ke pemerintah Propinsi DIY agar bisa ditetapkan.

Workshop berjalan dengan baik, dengan semangat yang sama tentang suatu perubahan yang diharapkan lebih baik bagi kehidupan anak-anak khususnya anak jalanan di DIY. Seloroh yang seringkali dimunculkan namun juga sekaligus menunjukkan adanya semangat perubahan yaitu: ”Pokoknya jangan sampai tindakan penjangkauan ada kasus lagi pegang bokong,”

”Sebagai perpanjangan tangan dari Pusat, kami memang mendorong lahirnya Perda-perda yang memiliki semangat penghargaan terhadap HAM. Perda memang harus berorientasi pada penyelesaian masalah. Kami harapkan anak jalanan bisa diatasi dengan Perda ini. Yogyakarta termasuk pioner yang bisa kami dorong ke wilayah-wilayah lain untuk menghasilkan Perda yang memiliki semangat HAM,”  tutur Septyarto P dari Kanwil Kementerian Hukum dan  Hak Asasi Manusia

Yogyakarta, 21 Juli 2011

(Odi Shalahuddin)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: