Tinggalkan komentar

Video Porno yang Tidak Lagi Menghebohkan

oleh: Odi Shalahuddin

Semalam, saya membaca dua berita di Kompas.com (11/07). Pertama mengenai nasib dua bocah SD yang dikeluarkan dari sekolah karena orangtuanya dianggap memprovokasi orangtua lain untuk mengadukan tentang pungutan yang ada di sekolah tersebut ke Bupati, yang ditandatangani oleh 39 orangtua murid. Kedua mengenai   pemberitaan yang ditayangkan pukul 21.35 mengenai hebohnya penyebaran video porno yang dilakukan oleh seorang siswi SMK di Garut. Kedua berita yang menyangkut persoalan anak yang segera saja menarik perhatian saya.

Semalam saya sudah berniat untuk menuliskan tentang pemberitaan yang menyangkut penyebaran video porno itu. Mengenai berita tentang dua bocah yang dikeluarkan, sudah banyak pemberitaan dan opini yang menuliskannya.

Jemari tangan sudah memainkan kata-kata untuk dituangkan dalam bentuk opini atas berita tersebut. Baru dua alenia, saya menghentikannya. Ah, pasti akan ada yang menuliskan tentang masalah ini.

Sesiang ini, tampaknya belum ada tulisan di kompasiana yang menyinggung pemberitaan tersebut. Semoga saya tidak salah. Tapi, terlintas pula pikiran iseng, jangan-jangan masalah video porno yang melibatkan pelajar yang notabene masih anak-anak di bawah umur, bukan lagi dianggap sebagai sebuah persoalan yang layak mendapat perhatian serius. Bukankah sudah terlalu banyak peristiwa semacam mengemuka dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk juga dari pelosok-pelosok pedesaan? Mendapatkan bahan-bahan pornografi (walau sudah ada kontrol) juga masih mudah dilakukan dengan penyebaran melalui HP ataupun diakses di situs-situs tertentu. Sehingga ini menjadi peristiwa biasa. Peristiwa yang tidak lagi menggigit. Tidak layak untuk menjadi bahan pembicaraan. Bukankah ini jaman modern, dan seseorang karena situasinya bisa menjadi lebih cepat dewasa? Ah, semoga saja untuk hal ini, pikiran iseng saya, salah.

Teknologi untuk merekam suatu peristiwa, memang bukanlah menjadi barang mewah lagi. Beragam jenis handphone, yang sudah menjadi bagian hidup sebagian besar orang, pun sampai daerah pelosok, memiliki fasilitas rekaman audio-visual, dengan harga yang bisa terjangkau. Keisengan, kesengajaan bersama dengan tujuan sebagai dokumentasi pribadi, merekam diam-diam yang dilakukan salah satu pihak, merekam diam-diam oleh pihak lain yang (sengaja) mengintip, ataupun perekaman yang terpaksa dilakukan dibawah tekanan, atau apapun motifnya, bisa sangat beresiko terhadap para pelaku yang melakukan adegan syur.

Resiko yang mungkin terjadi adalah menjadi korban pemerasan. Tentang hal ini saya jadi teringat ketika bertemu dengan beberapa siswi SMA yang mendekam sebagai tahanan di sebuah Lembaga Pemasyarakatan, karena mencoba melakukan pemerasan terhadap seorang kawannya, yang mereka ambil gambarnya ketika berhubungan seksual dengan pacarnya.  Resiko lainnya adalah mendapatkan malu yang berkepanjangan sepanjang hidupnya, ketika rekaman gambar itu disebarluaskan. Apalagi, saat ini penyebaran sangat mudah dilakukan melalui HP. Atau bisa juga tersangkut dalam kasus hukum.

Kalau kita mencermati berbagai pemberitaan beberapa tahun belakangan, ”keisengan” mengabadikan” hal yang bersifat pribadi ini bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak perduli umur, status sosial ataupun profesi. Kita pernah mendengar (atau mungkin bahkan menonton) video porno seorang pejabat, artis atau selebriti, pegawai negeri sipil, guru, mahasiswa, dan juga pelajar.

Situasi saat ini, tentu berbeda dengan situasi sepuluh tahun yang lalu dan periode-periode sebelumnya. Video porno memang sengaja diproduksi, untuk kemudian menjadi bisnis gelap yang diperjualbelikan secara tersembunyi, namun mudah didapatkan misalnya di para pedagang kaki-lima. Situasi kali ini, penyebarannya bersifat masif dan kecenderungannya (walau mungkin saja ada) jauh dari kepentingan bisnis.

Maraknya video porno yang beredar, ini sesungguhnya juga menunjukkan telah berkembangannya seks bebas, termasuk di kalangan pelajar, yang bersifat lebih terbuka. Beberapa survey ataupun penelitian di tahun 2010, misalnya survey yang dilakukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang mengungkapkan bahwa 66% pelajar SMP dan SMA sudah tidak perawan yang artinya pada usia tersebut mereka sudah mengenal seks bebas (lihat Republika.co.id 17 Oktober 2010).

Tentang hal ini saya jadi teringat kembali ketika melakukan observasi di beberapa kota untuk melihat dan mengetahui prostitusi anak, ucapan hampir senada dikatakan oleh anak-anak yang dijumpai. ”kalau gak ngesek gak gaul,” Di satu kota, anak-anak bahkan menyatakan, ”kalau mau mencari pelajar yang masih perawan di kota ini, susah, Mas”

Berubahnya nilai-nilai  terhadap seksualitas, ini bisa menjadi persoalan tersendiri. Nilai kebebasan yang dianut membuat anak-anak menjadi rentan untuk dijerumuskan ke prostitusi. Seorang anak perempuan berwajah cantik berumur 16 tahun, dengan terbuka menyatakan kepada saya, ”Daripada gratisan terus, lebih baik cari uang, bisa untuk happy-happy, Mas”

Pada situasi semacam ini, seringkali dalam perbincangan informal, banyak kawan menyatakan, ”Dunia sudah berubah, anak-anak sudah lebih cepat menjadi dewasa,”. Sebuah komentar yang saya kira bisa mentolerir situasi yang terjadi.

Nah, bila video porno terus lahir dan tersebar, sehingga kita kemudian kita menjadi biasa menerimanya dan tidak menganggap lagi sebagai sesuatu yang berbahaya khususnya bagi anak-anak, apakah akan ditolerir sebagai satu perkembangan jaman yang tidak bisa dihindari?

Saya kira, kita tetap saja memposisikan anak (dalam pengertian ini saya mengacu kepada Konvensi Hak Anak yang juga sudah diadopsi oleh berbagai peraturan perundangan di Indonesia, yaitu seseorang yang belum berumur 18 tahun) sebagai anak, yang memiliki hak untuk dilindungi dari berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi seksual. Anak karena posisi dan kapasitasnya sebagai anak yang belum bisa memberikan persetujuan sadar ”informed consent” untuk diajak atau mengajak berhubungan seksual, maka apabila dilakukan bersama orang dewasa, orang dewasa ditempatkan sebagai pelaku kejahatan seksual, anak sebagai korban. Apabila dilakukan oleh sesama anak, maka keduanya juga ditempatkan sebagai korban.  Untuk itu, diperlukan langkah-langkah untuk memberikan perlindungan, pemulihan psiko-sosial, sehingga anak bisa terintegrasikan lagi ke dalam keluarga dan komunitasnya.

Pada kasus video porno, seperti disinggung di atas, ketika pihak sekolah mengembalikan anak ke orangtuanya atau dengan bahasa lain dikeluarkan, maka anak yang telah menjadi korban, menjadi korban untuk kedua kalinya. Belum lagi ketika anak berhadapan dengan keluarga dan masyarakatnya, anak akan terus berulang mengalami kejadian yang semakin menyudutkan dan juga mendapatkan stigmatisasi.

Pencegahan tampaknya hal yang perlu dilakukan secara terus menerus agar anak bisa terhindar dari seks bebas dan ”keisengan membuat rekaman video porno” yang bisa berakibat fatal terhadap dirinya. Peranan orangtua di rumah dan segenap guru di sekolah, serta komunikasi dari kedua belah pihak, termasuk juga dialog-dialog bersama anak, menjadi sangat penting. Bagi anak sendiri, mengutip sebuah kampanya yang beberapa tahun ini aktif dilakukan adalah memegang teguh ”Jangan bugil di depan kamera

Yogyakarta, 12 Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: