Tinggalkan komentar

Suami dan Bapak yang Biadab

Oleh: Odi Shalahuddin

Dengan alasan, sebagai seorang pengangguran dan tidak memiliki pekerjaan tetap lantaran dipecat dari perusahaannya sejak tahun 1999, seorang lelaki berinisial Hen (41 tahun) melakukan tindakan biadab dengan menawarkan istri (45 tahun) dan anak perempuannya (12 tahun) kepada para lelaki hidung belang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Aksi Hen ini bisa terbongkar berkat laporan dari saudara korban ke kepolisian. Hen berhasil diringkus bersama seorang temannya (43 tahun) yang turut bekerjasama dalam mencari pelanggan. dikabarkan pula bahwa Hen telah menjual anaknya yang masih balita seharga Rp. 7,2 juta kepada seseorang di Kalimantan.

Demikian salah satu berita dari Kompas.com siang ini (13/07) yang bersumber dari pihak kepolisian, yaitu Kapolrestabes Surabaya dan Kapolsek Tegalsari. (Berita bisa dilihat di SINI)

Sayang tidak dijelaskan, sejak kapan Hen melakukan aksi tersebut. Apakah sejak tahun 1999 ketika ia dipecat, atau baru-baru ini? Tapi di luar hal tersebut, tindakan yang dilakukan sungguh-sungguh menunjukkan dirinya layak disebut biadab. Seorang laki-laki yang tega menjual istri dan anaknya yang masih muda belia, dengan alasan yang terlalu mengada-ngada apabila hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Membaca ini, kepala saya terasa melayang-layang. Ini merupakan peristiwa yang berangkat dari fakta. Bukan sekedar fiksi, walaupun peristiwanya sangat sulit untuk diterima oleh akal sehat kita. Ia benar-benar hadir.

Peristiwa ini semakin memperkuat fakta bahwa penjerumusan seseorang ke dalam prostitusi dilakukan oleh orang-orang terdekat, bahkan yang sangat dekat, yaitu anggota keluarga sendiri, dalam kasus ini adalah seorang suami sekaligus bapak yang selayaknya menjadi kepala keluarga yang memberikan jaminan perlindungan bagi istri dan anak-anaknya.

Dikatakan dalam berita tersebut bahwa pelaku dijerat pasal berlapis dengan menggunakan Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA) dan Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (UUPTPPO). Pada kasus ini saya melihat bahwa Penggunaan UUPA bisa dilakukan mengingat korbannya adalah anak, namun untuk bisa disebut sebagai kasus perdagangan orang, mencermati berita ini, kasus tersebut tidak memenuhi unsur-unsur perdagangan orang. Kasus ini lebih tepat dikategorikan sebagai kasus penjualan orang. Sayang, tampaknya belum ada ketentuan yang mengatur tentang penjualan orang dalam peraturan perundangan kita.

Bila pihak kepolisian bermaksud menggali lebih dalam lagi penanganan kasus ini, maka pihak kepolisian bisa melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap orang-orang terutama yang menggunakan anak Hen untuk melampiaskan nafsu seksualnya. Memanfaatkan seksualitas anak, sudah ditempatkan sebagai tindak kejahatan seksual.

Kita semua tentu berharap bahwa pelaku bisa dihukum seberat-beratnya sesuai asas keadilan. Semoga tidak ada lelaki, seorang suami dan ataupun seorang Bapak yang tega mengorbankan anggota keluarganya sendiri, demi materi.

Yogyakarta, 13 Juli 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: