Tinggalkan komentar

(puisi) Tuhan Tetap Tersenyum

Telah kau ciptakan makhluk sempurna-Mu melebihi para malaikat yang senantiasa tunduk dan para iblis yang mengingkari-Mu lantaran kau ciptakan makhluk sempurna itu yang bernama MANUSIA.

Kau ciptakan dari tanah, dan kau tiupkan sebagian ruh-Muh ke dalam diri manusia, sebagai makhluk yang terpilih sebagai khalifah di muka bumi. Kebebasan penuh Kau berikan padanya untuk senantiasa membaca, belajar, berkarya dan bekerja. Karena itulah akal dilekatkan. Nurani dilekatkan. Nafsu-pun dilekatkan. Bumi disediakan, terbuka bagi para khalifah!

Perjalanan waktu. Pengalaman menempa. Belajar. Belajar. Belajar. Tentang bertahan hidup. Tentang mempertahankan kelangsungan kehidupan. Tentang kenikmatan-kenikmatan lebih dari sekedar bertahan hidup. Proses pencarian yang tak pernah henti. Walau seringkali, pertanyaan-pertanyaan bisa mempertanyakan tentang diri-Mu. Kau, pasti hanya tersenyum.

Segala penjuru. Manusia menyebar. Wajah bumi, wajah semesta, berjalan dalam iramanya, terintervensi pula atas ulah manusia. Mimpi-mimpi menjadi tidak sekedar mimpi, berupaya terus diwujudkan. Siapa sangka dalam perut bumi, tersimpan berbagai materi yang menjadi perubah wajah bumi sendiri? Sehingga irama berubah, demikian dengan semesta. Manusia sang khalifah!

Sang pencari, sang pewujud, bergerak dunia, perubahan-perubahan tercipta. Adalah kuasa, membuat mata dan kata hati buta. Penguasaan-penguasaan, ditumpuk, menumpuk, dan meraja. Siapakah tak suka, terlenakan, dalam kuasa, meraja?

Aku yakin, kau tetap tersenyum, menyaksikan manusia (yang kini patut dipertanyakan apakah telah kehilangan akal dan nuraninya), masing-masing mengaku berjuang dalam jalan-Mu. Sehingga ”benar”, menjadi pertarungan. Sehingga darah-pun dihalal-kan untuk tumpah menyirami bumi. Atas namamu. Berselimut di balik jubahmu. Mungkin saja, para Iblis tertawa tertawa-tawa…..

Ya, ketika para malaikat bertanya tentang rencana-Mu: “mengapa engkau akan menciptakan manusia yang nantinya akan menumpahkan darah dimuka bumi?”

Jawab-Mu:

“Sesungguhnya aku lebih tahu daripada engkau apa yang ada di langit dan bumi”

Aku yakin, dan selalu yakin, Engkau tetap tersenyum…..

Yogyakarta, 16 September 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: