Tinggalkan komentar

(puisi) Sepanjang Jalan Saburai

SEPANJANG JALAN SABURAI 

hanya enam warung
tiga sisi kiri
tiga sisi kanan
di tepian tanah lapang
yang tampak kusam
letih termakan beban

sama sekali
belum tampak pembeli
padahal gerbang malam telah terbuka

pada bangunan pasar seni di ujung lapang
rerumputan berjoget dalam kerlap-kerlip merah
mengikuti hentakan genit irama dangdut
maaf, tirai cahaya menutup karya
tak ada pembacaan puisi di sini

menyusuri sepanjang Saburai jalan kaki
tenda-tenda tengah bersembunyi
tiada sosok-sosok menanti
aspal saja merasa sendiri
dirundung sepi

“rasia, berulang tiga hari,”
seorang kawan beri kabar
membuyarkan segala mimpi

”mungkin masih takut,”
bulan bermain ci-luk-ba
dilewati awan yang berlari

di depan GOR Siburai
di lahan milik TNI

“pilih mana?” tawar kawan
“tengah, biar mata bebas mencari”
kami terbahak, mengingkari dada yang sesak

berputar bola mata mencari kursi
yang dekat dengan santapan yang akan dinikmati
ah, dapatlah, mari duduk sini

mobil perlahan, berputar-putar, datang dan pergi
apakah yang hendak kau cari wahai pengemudi?

waktu, akhirnya berseru berganti hari
”memang tidak ada, masih takut kali,”

ah, tak mengapa sobat,
masih ada lain malam tuk kembali

mari pulang

Bandar Lampung, 13 Oktober 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: