Tinggalkan komentar

(puisi) Kini Indonesia Telanjang

KINI INDONESIA TELANJANG

Ayo, jangan membuat lubang kecil, untuk mengintip, dengan hati was-was, dada berdesir, dan membangun berjuta imajinasi. Tutup saja lubang itu. Sekarang pintu dan jendela sudah terbuka. Genteng-genteng pun telah dimelorotkan. Dinding-dinding batu, telah diruntuhkan, berganti dengan kaca. Nah, sekarang bebas matamu terbuka. Memandang Indonesia yang tengah telanjang.

Loh, kok dirimu pergi dengan wajah tertunduk.Adaair mata jatuh, masih basah pipimu. Merah matamu.Adaapakah? Bukankah itu yang kau inginkan? Karena kepenasaranmu menjenguk melalui lubang kecil….

Dirimu mendongak:

”bukan, bukan itu. Semua di luar dugaku. Tak bisa lagi aku mereka-reka, semua jelas semakin nyata. Berjuta topeng berjajar, telah dilepaskan pemiliknya, Beragam senjata, telah lepas dari sarungnya. Kini adalah jaman keberanian. Atau, ah, jaman nekat mungkin. Tak yakin pula menyatakan. Terang benderang, matahari menghujam siang-malam, mengalahkan bulan penghibur malam. Namun, Aku kini kehilangan imajinasiku,”.

Yogyakarta, 3 Oktober 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: