Tinggalkan komentar

(puisi) Celotehan Kala Lapar

CELOTEHAN KALA LAPAR

Para tuan yang terhormat, penguasa ataupun pengusaha yang mungkin diantaranya juga mengaku Tuhan atau merasa memiliki kuasa Tuhan,  dan para nyonya yang cantik jelita yang suka berpesta pora di tengah kehidupan para jelata yang tak henti dalam derita, kusapa kalian pada saat waktu mendekati senja dan kegelapan hampir menyapa, walau kutahu, gemerlap cahaya segera akan mematikan malam, sehingga tetap benderang dunia dalam ketukan tombol-tombol.

Para tuan dan nyonya, sempurnalah sudah sejarah yang diciptakan dan diajarkan kepada kami tentang kesabaran, kepatutan, martabat, takdir, perjuangan, élan sebagai bangsa, di tengah himpitan kebutuhan hidup dalam ruang-ruang sempit yang telah sesak oleh berjuta nyawa yang senantiasa bergerak mencari remah-remah sisa, dan untuk ini, kami sering sangsi dengan kemanusiaan kami lantaran demikian mudahnya bagi kami untuk saling berkelahi dan membunuh atas nama kelangsungan kehidupan. Sedang kalian menjaring ruang-ruang nan luas menjadikannya sebagai tanah dan bangunan kosong dengan pagar-pagar kokoh yang sesekali dijenguk sebagai hiburan. Atau, mungkin terlupa…! Ah, itu kerap jadi sentilan di tengah perbincangan seolah menjadikan diri sebagai sosok “tolol” namun sesungguhnya telah menunjukkan kebanggaan, betapa tak ternilai lagi harta dipunya.

Paratuan dan nyonya, penguasa atapun pengusaha atau bahkan merangkap keduanya sekaligus yang senantiasa berbicara perjuangan atas nama keringat dan darah rakyat sedang pada saat bersamaan turut menghisapnya habis-habisan. Tentu tuan dan nyonya tidaklah bodoh untuk mengetahui bahwa di tengah keterpinggiran kami tentulah tumbuh kesadaran yang lahir bukan lantaran ajaran-ajaran yang dicekokkan ke dalam batok kepala melainkan terus lahir dari rahim kehidupan yang sudah dan tengah berjalan. Pada suatu titik kesadaran yang akan menggeser nilai-nilai tentang kesabaran dan mempersoalkan takdir. Ketika kami mulai mengerang, menyeringai, dan menggemakan suara-suara yang bergema dalam semesta menjadi badai dalam tiap detik nafasmu, tentu telah kau sadari pula. Maka…..?

Yogyakarta, 1 September 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: