Tinggalkan komentar

(puisi) Bila Aku Anak Ahmadiyah

 

(BILA) AKU ANAK AHMADIYAH

aku, seperti juga dirimu, berada dalam keyakinan, karena dibesarkan dalam keyakinan itu sejak lahir hingga kini, apakah itu patut dipersalahkan?

aku, seperti juga dirimu, memang tidak pernah mempertanyakan tentang keyakinan yang dimiliki, karena ia kemudian lekat dalam diri, apakah itu sikap sang pendosa?

aku, karena keyakinanku, akhirnya menjadi tidak seperti dirimu, dan tiba-tiba saja kau tidak suka itu, sepertinya kehadiranku sangat mengganggu, padalah aku tak pernah mencoba mengajak bersiteru

maka, pada saat di sekolah, kamu dan kawan-kawanmu mencoba menciderai diriku, yang kutahu awalnya iseng belaka, namun ketika aku mencoba melakukan perlawanan, di hadapan para guru akulah yang menjadi pihak yang bersalah

maka, pada saat di rumah, ruang-ruang bermainku terasa asing dengan wajah-wajah yang melepas dari pandanganku dan enggan bersama, terasa bagaikan aku si pembawa bencana, ada apa? Sungguh, sama sekali tidak bisa aku pahami

maka, aku dan para saudara-saudaraku yang memiliki keyakinan sama, dan kutahu sama pula dengan keyakinanmu, mengucap dan percaya pada Tuhan yang sama, namun pergunjingan berubah menjadi rencana, bahwa kami adalah sumber bencana, yang layak untuk dimusnahkan.

kau sebut kami para Syetan, bagaikan gelombang ratusan, ribuan, dirimu datang menyerang, melukai dan bilaperlu menghabiskan nyawa kami, darahku dan darah para saudara-saudaraku halal untuk ditumpahkan dan menggenangi muka bumi.

rumah-rumah terbakar, kami hidup menjadi pengungsi, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bersama para saudara di seluruh penjuru yang mengalami nasib serupa, dan kami berkelompok untuk bisa bertahan hidup dan menjalani kehidupan dengan keyakinan yang kami miliki

kemudian aku berpencar, menyebrang pulau demi pulau, berpisah dari orangtua dan keluarga yang bermaksud menyelamatkan diri kami, agar kami dapat tetap melanjutkan sekolah, dapat hidup seperti dirimu, secara damai menjalani hari-hari dengan penuh keriangan, namun itu juga tak bisa kami dapatkan.

hidup nyata tak ubahnya bagai mimpi-mimpi buruk, senantiasa suatu siksaan untuk memejamkan mata, karena kami merasa harus selalu terjaga, pun dalam tidur

ketika sebuah motor melintas tempat tinggal kami dengan suaranya yang keras, dada kami selalu bergetar merasa akan menghadapi terror. apalagi bila rombongan motor yang datang. jangan bilang kami hidup dalam prasangka, puluhan kali kami pernah menjalani,

ketika gema agung yang juga sering kami kumandangkan untuk menentramkan hati, demikian pula dengan dirimu, kuyakini itu pasti, bisa berubah bila itu lahir dari gerakan berarak dari wajah-wajah penuh kebencian dan amarah yang menyambangi perkampungan kami dengan beragam senjata di tangan yang tak sungkan untuk menyapa berbagai bagian tubuh kami

aku, seperti juga dirimu, berada dalam keyakinan, karena dibesarkan dalam keyakinan itu sejak lahir hingga kini, apakah itu patut dipersalahkan?

Mengapa? Kutanyakan pada dirimu?

Yogyakarta, 3 Oktober 2010

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: