Tinggalkan komentar

(puisi) Anak-anak Kita

ANAK-ANAK KITA

anak-anak telah lahir dari persenggamaan kita, teriringi desah nafas terburu, dan muncratnya air kehidupan yang menelusup ke dalam rahim, dan hidup, menggelayut lekat dan manja dalam tubuh para perempuan.

Oh, atas nama cinta, atas nama kelangsungan hidup, atas nama tak bernama sekedar nafsu bersama belaka, ataupun nafsumu, bukan nafsuku, sehingga ada jeritan atau torehan yang menganga, tercatat dalam lembaran sejarah kehidupan. Apapun, ketika ia berbuah, maka songsonglah sang masa depan.

Namun, siapakah tega memaksa malaikat pencabut nyawa bekerja secara paksa, pun ketika anak-anak belum sempat menyapa dunia, atau tangisan pertama yang sekaligus tangisan terakhir. Terlahir untuk mati, tidak ada itu. Kecuali termatikan oleh tangan-tangan kita sendiri. Lantas kita bisa bernyanyi-nyanyi tanpa sembunyi seolah tiada yang terjadi. Pada satu titik tertentu, mungkin ia bisa mengetuk-ngetuk pintu hatimu, namun sesal tiada guna, apalagi bagimu yang tiada percaya.

Dikatakan bahwa bayi bagaikan kapas putih yang bersih nan suci. Bagaikan kertas tak bernoda yang siap mencatatkan setiap jejak perjalanannya. Dan sebagai orang dewasa kita patutlah menjaganya. Tapi, jutaan anak-anak telah terlahirkan dengan berbagai nasib yang berbeda, walaiu sesungguhnya tak patutlah untuk membeda-bedakan. Sebab ia anak kita, anak-anak kita, anak kita-kita.

Jutaan anak-anak tumbuh. Bagaikan bunga-bunga di taman, di padang, di hutan, dan di sepanjang ruas jalan, menyinari dunia, dengan tawa dan senyumannya, memang begitulah selayaknya. Di tengah arena bermain ketika anak belajar tentang kata, tentang benda, tentang ruang, para pemburu liar telah mengintip, siap menculik dan menghujamkan derita.

Engkaulah yang bersalah tatkala anak-anak itu menggigil kedinginan dalam hujan dan lekat tapak kaki bersatu dengan aspal pada jalan-jalan, terkurung dalam ruang-ruang kerja tersembunyi menyanyikan irama mesin yang sesungguhnya untuk orang dewasa, atau menghambur pada lahan-lahan pertanian, perkebunan dan hutan, bukan sekedar bermain menenggelamkan diri dalam sungai-sungai dan lautan, menancapkan bambu-bambu, menebarkan jala, mencari mutiara-mutiara, atau sesak nafas hidupnya terpencil di atas jermal-jermal. Ahai, teringat seseorang menyatakan sindirannya; sang petani pun tak mungkin memaksa anak sapi untuk membajak di sawah-sawah.

Engkaulah yang bersalah dan patut dipersalahkan tatkala anak-anak terculik dan bagaikan barang menjadi bahan komoditi demi terkurasnya seluruh energi anak dalam irama kerja atau terhempas terabadikan pada dinding-dinding yang tergetar akan desah nafas tersengal sebelum waktunya.

Engkaulah yang bersalah dan … siapakah yang tak mengakuinya? Jutaan anak-anak itu, anak-anak kita, kita pernah menjadi mereka, tentu kita mengenali bagaimana rasa dan pikirnya, mengapakah justru kita yang memaksa mereka untuk memahami rasa dan pikir kita di dunia yang sama sekali belum pernah dijalaninya?

Jutaan anak-anak itu telah mengisi segenap ruang, mungkin juga berada dalam rumah-rumah kita.

Yogyakarta, 4 September 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: