Tinggalkan komentar

“Ngelem”, yang mulai menyebar ke anak-anak

Oleh:  Odi Shalahuddin

Masih belum hilang dari ingatan, , baru saja kemarin saya menjelaskan dan mempraktekkan posisi ketika seseorang tengah “ngelem” kepada anak-anak perwakilan dari empat desa di wilayah Kebumen yang menjadi penghimpun data lapangan untuk melakukan Analisa Situasi Hak Anak di desanya masing-masing. Ini terkait dengan salah satu pertanyaan kepada subyek penelitian tentang pengalaman mengkonsumsi Napza. Salah satu pilihannya adalah “ngelem”. Para enumerator anak bingung dengan pilihan ini dan segera menanyakan apa yang dimaksud dengan “ngelem”.

Sepengetahuan saya “ngelem” banyak dilakukan oleh anak-anak jalanan pada awal tahun 1990-an. Pada tahun 1994, pertama kalinya saya melihat anak yang tengah asyik menikmati “lem” di beberapa penggal jalanan di kota Bandung. Ada yang menyatakan bahwa “ngelem” berawal dari anak-anak jalanan Bandung yang kemudian menyebar ke berbagai kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang dan Medan. Kemudian menyebar pula ke kota Semarang pada awal tahun 2000-an.

”Ngelem bisa membuat kita menjadi tahan lapar,” demikian pernah kudengar alasan dari anak-anak jalanan yang mengkonsumsi lem. Lem yang biasa digunakan (bukan bermaksud promosi) adalah merk ”aica aibon”.

”Mencarinya mudah, di toko-toko bangunan juga banyak. Membelinya tidak sulit dan tidak perlu khawatir akan tertangkap,”  tambahan dari anak jalanan lain di kota Bandung pada masa itu.

Para pemerhati dan pendamping anak jalanan pada tahun 1990-an sangat memprihatinkan penggunaan lem ini. Mereka berusaha keras agar anak-anak tidak ”ngelem”. Tidak jarang, mereka sendiri yang melakukan razia dan merampas kaleng-kaleng lem ketika menjumpai anak-anak tengah ”ngelem” di pinggiran jalan. Persoalannya, beberapa anak jalanan diketahui meninggal dunia lantaran sering mengkonsumsi lem.

Di akhir tahun 1990 atau di awal tahun 2000-an, kebiasaan ”ngelem” terlihat mulai berkurang di berbagai kota. Sebagai gantinya adalah penggunaan ”pil koplo” yang merebak dan mudah dibeli dengan harga murah. Termasuk misalnya ”destro” yang merupakan obat batuk yang menjadi salah satu yang dikonsumsi anak-anak. Sekali menenggak, kadang sampai 30 butir.

Hal yang mengherankan adalah di Semarang. Ketika anak-anak jalanan yang sudah terbiasa mengkonsumsi ”pil”, pada awal 2000-an justru mulai merebak penggunaan lem yang diawali oleh anak-anak jalanan yang biasa mangkal di sebuah stasiun  yang berasal dari berbagai kota di luar Semarang. Ini mempengaruhi anak-anak jalanan di berbagai tempat mangkal seperti di kawasan Tugu Muda, Simpang Lima, Pasar Johar dan sebagainya.

Lem, spidol, ballpoint  dan beberapa produk rumah tanggal lainnya yang gampang menguap memang bisa disalahgunakan untuk mabuk-mabukan. Mengutip artikel di detik.com dikatakan bahwa Efeknya hampir mirip dengan jenis narkoba yang lain yakni menyebabkan halusinasi, sensasi melayang-layang dan rasa tenang sesaat meski kadang efeknya bisa bertahan hingga 5 jam sesudahnya. Karena keasyikan ngelem ini kadang-kadang tidak merasa lapar meski sudah jamnya makan.
Sama seperti narkoba pada umumnya, efek ngelem akan menyerang susunan saraf di otak sehingga bisa menyebabkan kecanduan. Dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan otak sementara dalam jangka pendek risikonya adalah kematian mendadak (Sudden Sniffing Death).

Bila anak-anak telah mengkonsumsi barang-barang yang memabukkan tentulah ini merupakan keprihatinan kita bersama. Sebagai orangtua dan sebagai orang yang telah dianggap dewasa, maka kita tentunya memiliki tanggung jawab untuk turut menjaga dan berupaya keras mencegah pengaruh buruk konsumsi obat-obatan terlarang dan memabukkan di kalangan anak-anak. Negara, dalam pengertian ini adalah pengelola negara yaitu pemerintah berkewajiban untuk memberikan perlindungan terhadap anak-anak. Bukankah pada pasal 33 Konvensi Hak Anak, anak berhak dilindungi dari penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang?

Yogyakarta, 6 Juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: