Tinggalkan komentar

Melayani Nafsu Banyak Orang

Oleh: Odi Shalahuddin

Sering seseorang dihadapkan pada situasi yang tidak bisa ia hindari. Mereka dipaksa melayani nafsu bejat sekumpulan orang. Kelompok paling rentan adalah perempuan dan anak-anak.

Pengertian anak-anak, bisa anak laki-laki bisa pula perempuan. Anak laki-laki disodomi, anak perempuan diperkosa. Anak-anak dan orang yang biasa hidup di jalanan, tampaknya lekat dengan kehidupan macam ini. Pelakunya bisa sesama anak jalanan (yang lebih senior), bisa pula orang-orang di luar jalanan.

Pada masa lalu, sekitar 10-20 tahun lalu, di kalangan anak jalanan di berbagai kota dikenal adanya proses inisiasi bagi anak-anak yang baru bergabung dalam komunitas tertentu. Inisiasi yang memaksa anak untuk mengorbankan tubuhnya. Pada beberapa komunitas, para pemimpin kelompok yang menikmati, pada komunitas lain, bisa dilakukan oleh sekelompok orang.

Pemaksaan untuk melayani nafsu seksual sekelempok orang, oleh kalangan anak jalanan di Semarang dikenal dengan istilah Pangris. Ini merupakan kependekan dari Jepang Baris. Entah bagaimana awal mula lahirnya istilah ini.

Saya sendiri pernah membuat coretan sekilas tentang Pangris:

Pangris, Jepang Baris

 Barisan-barisan haus sensasi
Memainkan imajinasi liar
pada sosok-sosok tak bertuan
yang menyelip pada ruang-ruang kota

Pangris, Jepang Baris
Barisan laki-laki penjelajah malam
Himpunan para pengecut belagak jagoan
Menjadi hantu bagi anak-anak perempuan
Yang senantiasa berdoa agar tak jadi mangsanya

Pangris, Jepang Baris
Kaukah salah satunya?

Situasi ini merupakan situasi yang paling ditakutkan. Semua berharap dan berdoa agar tidak menjadi korbannya.

Pada akhir tahun 90-an hingga awal 2000-an, saya sering mendengar adanya anak-anak yang nyaris atau telah menjadi korban dari barisan Pangris di Semarang.

Di kawasan Simpang Lima, misalnya, para anak jalanan perempuan, anak yang dilacurkan dan para PSK, akan segera menghindari diri sejauh mungkin apabila selepas tengah malam, ada kelompok etnis tertentu yang melewati kawasan itu, sepulangnya dari sebuah diskotik. Mereka sudah dikenal sering melakukan Pangris.

Saya pernah bertemu dengan dua orang anak perempuan yang tinggal  bersama komunitasnya di sebuah gedung kosong. Pada suatu malam, ”markas” mereka diserang oleh komunitas lain karena terjadi pertarungan memperebutkan lahan. Dua anak perempuan ini disandera dan menjadi korban Pangris.

Seorang kawan anak jalanan perempuan yang biasa berkegiatan bersama kami dibawa secara paksa oleh sekelompok orang. Ketika dibawa, kebetulan ada seorang anak jalanan lain yang mengetahui. Mereka kemudian mengabarkan kepada kami, yang segera berkumpul dan mengontak kawan-kawan lain untuk mengejar kelompok tersebut. Anak itu di bawa ke sebuah gedung kosong. Beruntung, kawan-kawan tidak terlambat memasuki gedung kosong itu sehingga anak bisa segera diselamatkan sebelum menjadi korban.

Kebetulan, yang saya tahu adalah dari kelompok anak jalanan. Bila melaporkan kasus ini ke kepolisian, pada masa itu, luar biasa sulitnya untuk mendapatkan tanggapan. Mereka telah memiliki stigma tersendiri terhadap anak jalanan perempuan yang diidentikkkan dengan PSK. Lantas, bila seorang PSK mengalami hal yang sama, itu berarti sesuatu yang bisa dibenarkan? Tragis benar perlindungan dan penegakan hukum bagi warganya sendiri yang berada dalam kelompok terpinggirkan.

Situasi anak jalanan di berbagai kota (tampaknya di luar DKI) sudah mengalami banyak perubahan. Tidak banyak lagi anak-anak yang tinggal di jalanan walaupun sehari-harinya masih berkegiatan untuk mendapatkan uang di jalanan. Mereka biasanya berasal dari perkampungan-perkampungan di sekitar tempat mangkal mereka dan pulang secara rutin setiap harinya.

Kita berharap dan berdoa bersama, semoga saja tidak ada lagi Pangris bagi anak-anak dan kaum perempuan. Kita bisa membayangkan sendiri, bagaimana perasaan kita bila menjadi salah satu korbannya.

Yogyakarta, 26 Desember 2010

Sumber Foto dari SINI:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: