1 Komentar

Seks Bebas

Oleh  :  Odi Shalahuddin

Seks bebas di kalangan anak-anak (pelajar), ini merupakan fenomena yang menggerahkan. Banyak orangtua sangat khawatir dan berdoa agar anak-anaknya tidak menjadi salah satu pelakunya. Kewaspadaan tinggi dengan membuat berbagai aturan di rumah ataupun upaya-upaya untuk mengontrol agar anak tidak terjerumus tentulah juga sudah dilakukan sebagai langkah pencegahannya.

Seorang pembicara pada seminar tentang ‘Kesehatan Reproduksi Remaja dan Narkoba’ di Sukoharjo, Sabtu (16/10), Maryatun, mengutip survei Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), menyatakan, secara nasional terdata bahwa sebanyak 66 persen remaja putri usia sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) tidak lagi perawan yang artinya pada usia sekolah tersebut mereka sudah mengenal seks bebas. (beritanya, lihat diSINI)

Penelitian yang dilakukan oleh Balitbang Pemkab Malang, Jawa Timur pada bulan Juli-Agustus 2010 menemukakan ada 40% pelajar yang telah melakukan hubungan suami-istri atau melakukan seks bebas.(Berita lihat di SINI)

Masih di tahun 2010, hal mengejutkan yang mengemuka dalam sarasehan “membangun jejaring sinergitas program dalam meningkatkan perlindungan perempuan dan anak” di Ponorogo, seorang pembicara mengungkapkan 80% pelaku seks bebas adalah pelajar.

“Data ini sama dengan yang dimiliki Polres Ponorogo,” kata Endang Retno Wulandari selaku Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuand an Perlindungan Anak Kabupaten Ponorogo (Beritanya lihat di SINI)

Pemberitaan di berbagai media, tampaknya menunjukkan fenomena yang sama terjadi di berbagai kota, tidak terbatas pada kota-kota besar melainkan juga pada kabupaten-kabupaten kecil.

Temuan berdasarkan survey atau penelitian semacam ini memang benar-benar bukan merupakan berita yang menggembirakan. Tapi itulah kenyataan yang mengemuka yang telah hadir dalam kehidupan kita.

Tanggapan orang bisa beragam terhadap temuan ini. Ada pihak yang bisa mempercayainya, meragukan, bersikap sinis dan mencibir tentang validitas penelitian, atau juga ada yang bisa bereaksi marah. Salah satu reaksi adalah dari Bupati Malang periode 2010-2015 yang tidak mempercayai hasil penelitian yang dilakukan oleh institusi di bawahnya dan mengancam akan memberikan sanksi tegas apabila hasil penelitian tidak bisa dipertanggung-jawabkan.

Meluasnya perilaku yang semula dianggap hanya terjadi pada anak-anak di berbagai kota besar, dan kini telah merembes sampai ke pelosok menunjukkan adanya persebaran pengaruh buruk yang terjadi. Salah satu faktor dari beragam faktor yang ada adalah kemajuan teknologi misalnya berupa kemudahan mendapatkan kepingan CD film-film porno atau berkembangnya kepemilikian HP dengan fasilitasi yang mampu menampung, menerima dan menyebarluaskan film-film porno.

Hal yang mengkhawatirkan apabila seks bebas telah dinilai sebagai bagian dari gaya hidup. Anak/pelajar yang tidak melakukan dianggap sebagai anak yang ketinggalan jaman. Bila benar hal tersebut yang terjadi, maka memang sinyal yang ada bukan sekedar lampu kuning lagi yang memberi peringatan, melainkan benar-benar patut mendapatkan perhatian kita semua.

Sekedar berbagi pengalaman, pada perjalanan saya beberapa waktu yang lalu ke beberapa kota di Kalimantan, Lampung dan Jawa, saya banyak menjumpai anak-anak yang berada di dunia prostitusi. Mereka masih aktif bersekolah. Bahkan diantaranya ada yang masih di tingkat SMP. Sebagian besar mengakui bahwa banyak kawan-kawan mereka yang aktif melakukan seks bebas.

“Tidak ada sekolah khusus, sekarang sudah hampir semua sekolah pasti ada yang kerjaannya mencari tamu. Kalau pengalaman berhubungan seksual, saya kira hampir semua pernah mengalaminya,” tutur seorang anak SMA dari sebuah kota di Jawa Barat yang diamini oleh kawan-kawannya.

***

Seks memang merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi manusia (lihat misalnya teori tentang Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow). Sebagai kebutuhan dasar, tentulah tidak bisa tidak harus dipenuhi. Bila tidak, maka akan terjadi masalah terhadap manusia yang bersangkutan.

Lantas, mengapa anak-anak tidak boleh memenuhi kebutuhan seks-nya? Ketika mencari tahu melalui Mbah Google, saya menemukan tanya jawab yang menarik, seperti saya kutip berikut ini:

Intinya sih memang betul, ada hubungannya dari segi fisik dan psikologis. Segi fisik, memang belum matang, kita tau bahwa organ reproduksi pematangannya melalui hormonal yang diawali dari pubertas, kemudian epitel vagina, pada anak epitelnya adalah selapis kubis yang rentan dengan infeksi N.gonorrhea, sedangkan pada remaja-dewasa adalah epitel berlapis gepeng, yang sudah disiapkan untuk hubungan seks. Yang lebih penting lagi adalah psikologis, agak rumit sih, tapi pada kejiwaan yang belum matang dan belum mengerti arti seks, sexual intercourse dapat dianggap sebagai suatu “siksaan”, “memalukan”, yang mana hal ini dapat memberikan trauma sendiri dan menghambat perkembangan kepribadian. Pada anak dikenal fase genital (12 th -dewasa muda) menurut Freud, yang pada waktu bersamaan menurut Erik Erickson identitiy vs role confusion, pada masa ini termasuk di dalamnya pencarian jati diri, seks yang dilakukan tanpa persiapan matang dapat mengakibatkan terhambatnya fase ini, termasuk di dalamnya penyimpangan seksual.” (lihat di SINI)

Selain pengaruh seperti diungkapkan di atas, ada banyak dampak buruk yang akan dialami oleh anak seperti kemungkinan terjadinya kehamilan tak dikehendaki, pernikahan dini, rentan terhadap penularan penyakit menular seksual, terinfeksi HIV/AIDS, berubahnya nilai-nilai moral, dan sebagainya.

Apakah kita hanya akan diam saja menyaksikan fenomena semacam ini?

Yogyakarta, 26 Desember 2010

________________________________

Tulisan-tulisan terkait dengan Pelacuran/Prostitusi Anak:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: