Tinggalkan komentar

Potret Buram Pada Cermin Retak (Selintas tentang Perdagangan Anak)

Oleh:  Odi Shalahuddin

HL Kompasiana

Kebiasaan saya yang paling buruk adalah sering mengenang masa-masa lalu. Bukan masa lalu yang menyenangkan, tapi penggalan-penggalan peristiwa. Di sore ini, selesai memfasilitasi sebuah acara, saya bermaksud menulis tentang persoalan perdagangan anak. Beberapa alenia sudah terketik, tapi tiba-tiba terlintas di kepala saya, dua sosok anak perempuan yang saya kenal pernah menjadi korban perdagangan anak untuk tujuan seksual. Kalau pada masa sekarang, tentulah mereka bukan anak-anak lagi, tetapi mungkin sudah menjadi ibu dari beberapa anak. Untuk tulisan ini saya hanya akan menulis tentang satu anak saja.

Saya menghentikan tulisan yang tengah saya kerjakan, lalu beralih menulis tulisan ini. Sebut saja namanya “X”, seorang anak jalanan perempuan yang sejak kecil sudah diajak oleh ibunya mengemis. Ia tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah.

Saya pertama kali berjumpa dengannya pada tahun 1996, saat ia berumur sekitar 8-9 tahun. Ia ikut kegiatan bersama anak-anak jalanan lain yang biasa  dilaksanakan di pinggiran jalan halte depan Hotel Dibya Puri, di kawasan Pasar Johar atau juga terlibat kegiatan yang dilakukan di Taman Tugu Muda,Semarang. Kegiatan yang difasilitasi oleh sahabat Saya, Winarso, yang telah melakukan kegiatan di jalanan di Semarang sejak tahun 1993.

Ia bisa dibilang cantik. Kulitnya putih, rambut lurusnya melewati bahu, dan ia selalu menggunakan baju terusan atau menggunakan kaos dan rok. Berbeda dengan anak-anak jalanan perempuan lainnya yang sering menggunakan celana panjang dan kaos.

Sehari-hari ia tinggal di los-los sebuah pasar di dekat Taman Tugu Muda. Ia dekat dengan seorang anak jalanan perempuan yang hampir sebaya dengannya. Mereka selalu terlihat berdua. Tiba-tiba saja keduanya menghilang tidak terlihat di sepanjang jalan Pemuda antara Pasar Johar dan Tugu Muda. Beberapa anak yang ditanya, menjawab tidak tahu.

Dua-tiga minggu kemudian, keduanya terlihat lagi di Taman Tugu Muda. Sore, sekitar pukullimasaya yang baru saja datang dari Yogya dan diajak rekan Winarso kesana, bisa menjumpai mereka.Adatiga orang dewasa, dua perempuan dan satu laki-laki yang kakinya pincang. Kami berbincang-bincang. Pertanyaan lebih banyak diarahkan kepada dua anak perempuan itu.

Berdasarkan pengakuan, keduanya ikut dengan rombongan tiga orang dewasa itu mengamen di Kartosuro. Tiba-tiba salah seorang dari mereka memberi tanda kepada kedua anak. Mereka langsung berpamitan. Ketika ditanya, mereka akan pergi ke Pekalongan. Spontan, rekan Winarso tidak mengijinkan.

Dari tiga orang dewasa yang ada, satu perempuan sangat bereaksi dan terlihat marah. Terjadi perdebatan. “Mereka masih memiliki hutang dengan saya, karena selama ikut, untuk makan, pakaian, itu pakai uang saya dulu. Jadi mereka harus ikut”.

Kami lalu mengajak bicara kedua anak perempuan itu, menjauh. “Ya, kami kira dibelikan. Kita sih enak-enak saja, tapi ternyata menjadi hutang. Selama ini kita cicil, tapi gak pernah lunas-lunas,”

Saya berembuk dengan Winarso dan akhirnya memutuskan untuk membayar sejumlah uang yang dianggap hutang. Kalau tidak salah sekitar 96 ribu rupiah. Ketiganya kemudian pergi, satu orang masih saja bersungut.

Berangkat dari kasus itu, kami lalu ngobrol dengan kedua anak itu. Mendorong mereka untuk sekolah kembali. Dari situlah aku tahu bahwa ”X” sama sekali tidak pernah bersekolah. Sedangkan kawannya, belum lama keluar dari sekolah di kelas 4 SD.

”X” dan kawannya aktif mengikuti kegiatan. Kami waktu itu membentuk kelompok musik khusus untuk anak jalanan perempuan. ”X” inilah yang menjadi salah satu penyanyinya, juga memainkan kentrung.

***

Dua tahun kemudian, tiba-tiba saja ”X” menghilang lagi. Tidak ada satu kawan yang mengetahui tentang kepergiannya. Ada sekitar lima bulan kami tak pernah bertemu dengannya di jalanan. Kemanakah?

Pada tahun 1999, ketika kami melakukan penelitian mengenai situasi anak jalanan perempuan, kami berjumpa dengannya. Kami terkejut ketika melakukan wawancara dengannya, baru terungkap bahwa ia pernah beberapa kali ke Batam.

”Pertama saya dijual ke mami-mami di sana. Saya dijual 3 juta. Pertama kali yang membawa adalah Mbak “Y”, kakak dari…. (ia menyebutkan nama anak jalanan lain)” katanya. Kemudian ia menceritakan proses kepergian dan kegiatan yang dilakukan.

Berangkat dari kasusnya, pada laporan penelitian kami mengungkapkan adanya indikasi perdagangan anak jalanan. Ini juga menjadi perhatian bagi kami untuk waspada dan melakukan pemantauan di berbagai lokasi anak jalanan.  Enam bulan pertama di tahun 2000, kami mencatat ada sembilan anak yang diberangkatkan ke Batam. Perkembangan kemudian, kami mengetahui adanya orang-orang yang pernah di Batam melakukan perekrutan lagi ke anak-anak yang lain. Pemberangkatan tidak lagi dalam kelompok kecil, tetapi sudah melibatkan banyak anak dan perempuan muda.

Kawan-kawan di Semarang yang kemudian berhimpun di Yayasan Setara, sejak itu mulai memfokuskan penanganan pada anak-anak korban Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak (ESKA), terutama yang dialami oleh anak-anak jalanan perempuan.

Suatu faktor kebetulan, isu ESKA dan kemudian disusul dengan isu perdagangan manusia khususnya perempuan dan anak menjadi marak. Berbagai temuan kasus dijumpai di berbagai wilayah di Indonesia. Anak-anak telah menjadi korban tidak hanya di dalam wilayah Indonesia, melainkan juga ke luar negeri. Satu analisis situasi yang dilakukan oleh seorang aktivis hak anak yang pernah menjadi anggota Komnas HAM mengungkapkan temuan semacam itu.

Pemerintah Indonesia sendiri merespon dengan baik isu perdagangan anak setelah Pemerintah Amerika menempatkan Indonesia sebagai negara tersier ketiga, atau negara yang memiliki kasus perdagangan manusia yang tinggi tapi sama sekali tidak ada langkah-langkah untuk mengatasinya. Pemerintah Amerika memberikan ancaman akan menghentikan fasilitas GSP bagi negara yang tidak mencoba melakukan upaya perbaikan. Beberapa organisasi internasional juga memberikan ancaman untuk menghentikan bantuannya kepada Negara yang tidak peduli dengan isu perdagangan manusia.

Bila dilihat, banyak kemajuan luar biasa yang dihasilkan oleh Indonesia (sehingga peringkatnya dinaikkan menjadi tersier dua, yaitu negara yang memiliki banyak kasus perdagangan manusia, dan telah dilakukan upaya-upaya untuk mengatasinya walau belum efektif).

Pada tahun 2002, melalui Kepres No. 88 telah disahkan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan Manusia Khususnya Perempuan dan Anak. Pada tahun 2007, telah disahkan Undang-undang Tindak Pidana Perdagangan Orang. Berbagai mekanisme penanganan korban perdagangan manusia juga telah menjadi kebijakan nasional. Yang mana, pada beberapa telah ditindaklanjuti dalam kebijakan-kebijakan di tingkat Propinsi dan Kota/kabupaten.

Bagaimana dengan anak-anak dan perempuan pada saat ini? Tampaknya, berbagai kasus perdagangan anak dan perempuan masihlah marak. Masih banyak tantangan yang dihadapi. Terutama perdagangan manusia yang dilakukan oleh organisasi-organisasi yang terorganisir rapi.

Pada tanggal 12 Desember, yang dipromosikan sebagai hari Anti Perdagangan Manusia, karena pada tanggal tersebut telah diadopsi The Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Person Especially Women and Children oleh Majelis Umum PBB di Palermo, sehingga sering disebut sebagai Protokol Palermo. Palermo, kota yang dikenal sebagia kota mafia, apakah ini juga menjadi simbol bagi gerakan internasional untuk berperang dengan jaringan organisasi trans-nasional . 

Baiklah, semoga potret buram dari cermin retak yang menjadi bagian dari wajah Indonesia ini mendorong berbagai pihak untuk berjuang lebih keras lagi mengatasi satu persoalan yang pelik. 

Selamat memperingati hari  Anti Perdagangan Manusia ! 

Kudus, 11 Desember 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: