Tinggalkan komentar

Penjualan Pelajar SMP untuk Prostitusi yang Terbongkar

Oleh  :  Odi Shalahuddin

Januari 2011, ada pemberitaan mengenai tujuh anak pelajar SMP berumur 13-16 tahun, diketahui sebagai korban penjualan untuk tujuan prostitusi telah diselamatkan. Ke tujuh anak tersebut adalah teman sepermainan yang sama-sama tinggal di Manggarai, Jakarta Selatan. Pelaku penjualan adalah DD, tetangga mereka sendiri.

Terbongkarnya kasus tersebut berkat laporan dari orangtua salah satu korban yang ditindaklanjuti oleh Polres Jakarta Selatan, sebagaimana diberitakan oleh Vivanews.com pada siang tadi (22/01/11) (Beritanya lihat Di SINI dan di SINI)

Membaca pemberitaan tersebut di Vivanews.com membuat saya terhenyak. Saya berkeyakinan pula bahwa para pembaca pastilah akan mengalami hal yang sama. Memang ini bukan kasus kali pertama yang berhasil dibongkar oleh pihak kepolisian. Di berbagai kota/kabupaten, beberapa kali kasus hampir serupa telah mengemuka di berbagai media lokal ataupun nasional.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang dijerumuskan ke prostitusi masih berlangsung sekaligus menunjukkan adanya perekrutan terhadap anak-anak dengan umur yang semakin muda. Tentu saja kenyataan ini merupakan kenyataan buruk yang harus segera diatasi oleh segenap pihak agar tidak menjadi hantu yang selalu menyelimuti para orangtua dan anak-anak terhadap ancaman bahaya eksploitasi seksual.

Hadirnya berbagai jaringan kejahatan yang menjual dan atau melakukan perdagangan anak-anak (laki-laki dan perempuan) untuk tujuan seksual sesungguhnya telah menjadi perhatian sejak pertengahan tahun 90-an. Ini ditandai dengan gerakan internasional untuk menentang Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak (ESKA) yang merupakan komitmen dari berbagai negara sebagia tindak lanjut dari Kongres Dunia Pertama Menentang ESKA yang berlangsung tahun 1996 di Stockholm, Swedia. ESKA diidentifikasikan ke dalam tiga bentuk, yaitu prostitusi anak, pornografi anak dan perdagangan anak untuk tujuan seksual.

Analisis situasi yang dibuat oleh seorang aktivis Hak Anak, Mohammad Farid, untuk UNICEF pada tahun 1998, membuat perkiraan jumlah anak-anak yang dilacurkan di Indonesia berkisar antara 40,000 – 70,000 anak. (Farid, 1999). Selain data tersebut, Irwanto, seorang akademisi yang sangat intens memberikan perhatian terhadap isu hak anak dan juga menjadi Presiden Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak yang berafiliasi dengan ECPAT Internasional, menyatakan bahwa setelah lebih dari 11 tahun (maksudnya dari perkiraan data yang diungkapkan oleh Farid) Indonesia tidak memiliki data yang akurat dengan jumlah dan persebaran ESKA Sedangkan jumlah anak-anak yang terperangkap dalam praktik eksploitasi diperkirakan terus meningkat. Hal ini disebabkan karena permintaan untuk anak-anak oleh jaringan pelacuran di perkotaan dan di daerah wisata terus meningkat. Bahkan, jaringan pelacuran ini pun menggarap anak sekolah sebagai sasaran mereka (lihat Kompas, 2 September 2009).

Saya pribadi yang kebetulan terlibat dalam penelitian mengenai ESKA di Semarang dan sekitarnya pada tahun 2005 dan terlibat pula dalam penelitian serupa yang dilangsungkan di lima kabupaten di Jawa Tengah  pada tahun 2007, telah menemukan para pelajar yang telah dijerumuskan ke prostitusi. Hanya pada saat itu yang teridentifikasi adalah anak-anak pelajar SMA. Pengalaman lainnya ketika melakukan studi pendalaman mengenai ESKA di beberapa kota, beberapa bulan lalu di tahun 2010, saya juga telah menjumpai anak-anak pelajar SMP.

Ada perubahan pola yang terjadi. Pada masa sebelum tahun 2000-an keberadaan prostitusi anak sangat tersembunyi. Namun pada tahun 2000-an, ketika lokalisasi ditutup dan para PSK justru memenuhi ruang-ruang publik, anak-anak terlihat hadir diantara mereka, yang diduga akibat terkena dampak krisis ekonomi, sehingga mudah untuk dijerumuskan. Namun, aksi-aksi berbagai kelompok untuk menentang prostitusi anak dan langkah-langkah kepolisian untuk melaksanakan perlindungan terhadap anak dengan menindak para pihak yang memetik keuntungan dan memanfaatkan seksualitas anak seperti germo, jaringan kejahatan perdagangan anak, penjual anak, termasuk pula para konsumen/pengguna yang telah dikriminalisasi, telah membuat para pelaku kejahatan ini mengembangkan berbagai cara baru.

Penggunaan teknologi seperti memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook yang juga menjadi salah satu cara dari pelaku dalam kasus di atas, chatting dalam room-room tertentu, komunikasi melalui HP, menyebabkan orang-orang susah untuk menembus jaringan ini. Anak-anak tidak mangkal di satu tempat, tapi bisa bersiap menunggu panggilan atau perintah dari orang-orang yang mengorganisirnya untuk bertemu dengan konsumen/pengguna. Membongkar modus semacam ini dibutuhkan waktu yang panjang, ketelatenan, dan biaya yang tidak kecil.

Persoalannya sekarang, selain menyelamatkan anak-anak yang telah dijerumuskan ke prostitusi, perlu dilakukan langkah-langkah pencegahan agar anak-anak tidak menjadi korban. Kampanye menentang ESKA, termasuk di dalamnya adalah prostitusi anak harus terus digemakan, sekaligus memberikan informasi-informasi praktis yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk memberikan pengawasan terhadap anak-anaknya secara bijak tanpa membatasi secara ketat kegiatan anak-anak mereka, langkah-langkah untuk mengidentifikasi secara dini bila ditengarai ada kasus-kasus semacam, dan juga pengetahuan dan informasi pihak-pihak yang bisa dihubungi.

Saya yakin, anda dengan sukarela akan berperan di dalam memerangi Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak, karena anak-anak kita juga berpotensi menjadi korban. Mari bergerak….!!!

Yogyakarta, 22.01.11

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: