Tinggalkan komentar

Pada Sebuah Cafe

Sengaja aku mengambil tempat tepat di dekat pintu masuk sebuah cafe. Sengaja pula aku memilih kursi yang menghadap ke tembok. Bukan lantaran aku senang pada pandangan beku. Tapi di tempat inilah aku bisa lebih leluasa memandang ke kiri, menatap kelompok musik anak muda yang secara atraktif memainkan berbagai lagu, dan hanya dengan memutar arah leher ke kanan sudah bisa bebas memandang ke jalan yang tak henti dengan orang dan kendaraan lewat. Tak perlu aku memutar tubuh.

Dua orang Perempuan masuk. Berdiri tepat di depanku. Matanya berkeliling. Salah satu membuka tas kecilnya, mengeluarkan HP, dan entah kepada siapa ia bicara. Memandang kawan satunya, mengangkat bahu, lalu keluar lagi.

Empat orang laki-laki, berhenti di depan cafe. Melongok ke dalam, saling memandang, berbisik. Satu orang menunjuk ke sebrang jalan, tempat karaoke. Beberapa perempuan dengan dandanan seksi dan para penjaga berbadan tegap. Keempatnya menyebrang jalan.

Dua orang laki-laki, masuk, mengambil tempat di belakangku. Menoleh ke belakang, ia ambil yang paling pojok.

Beriringan satu laki-laki dan dua perempuan ”bule”, dengan tas ransel di punggungnya. Lewat saja, menoleh-pun tidak.

Dari dalam, seorang perempuan muda, berjalan sempoyongan. Ia mendekati para security. Berbisik ke telinga seseorang. Security lainnya bertanya. Kembali perempuan itu mendekatkan bibirnya ke telinga security yang bertanya. Kedua security saling berpandangan. Isyarat mata. Seseorang masuk ke dalam, keluar kembali sudah membawa helm.

Di depan cafe, security itu ditanya security-security yang lain. Ia mengangkat bahu. Helm di taruh di sebuah motor. Perempuan yang mengikuti. Hanya berdiri.

Satu lelaki, dua perempuan. Tapi satu perempuan mengurungkan niatnya, berdiri di pinggiran jalan,. Dengan pandangan menatap kendaraan-kendaraan yang lewat. Perempuan yang sudah terlanjur di dalam memanggil. Diacuhkan. Ia keluar. Menarik perempuan untuk masuk ke dalam. Kelihatan wajah cemberutnya.

Tiga laki-laki masuk. Semuanya berbadan tegap. Bersalaman dengan para security yang ada. Seorang waitress menuju bar di ujung melewati panggung. Kembali. Bersalaman dengan salah seorang dari mereka. Mengangkat tangan, mereka pergi lagi, membawa kendaraannya melawan arus.

Musik terus berbunyi. Alunan suara tiga perempuan penyanyinya, diselingi seorang penyanyi pria. Berjoged.

Aku bangkit.
Pulang.
Kembali ke hotel.
Besok pagi, kerjaan sudah menunggu.
Malam ini, berharap sempat berselancar di dalam mimpi-mimpi indah

Bandung, 18 Oktober 2010

(Odi Shalahuddin)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: