1 Komentar

Masih Ada Sisa Cahaya (Membangun Harapan Anak yang Dilacurkan)

Oleh: Odi Shalahuddin

HL Kompasiana

Wajah mereka ceria sekali, banyak canda terlontar. Terlebih ketika kamera mengarah, mereka langsung berpose dengan gaya sebagaimana anak-anak muda pada masa sekarang. Lidah keluar sedikit tergapit bibir (melet namanya), kepala agak condong ke kiri atau ke kanan, dengan badan setengah membungkuk dan dua jemari terbuka dalam posisi terbalik dalam tangan yang terentang. Kira-kira begitulah.

Berganti-ganti tempat yang dinilai indah untuk berpose. Bergantian. Berfoto bersama. Berfoto sendiri, berdua, bertiga, dan seterusnya. Biarlah ekspresi mereka bebas menikmati dinginnya hawa Bandungan di daerah Ambarawa Jawa Tengah.

Ya, sejak terbangun dari tidur, mereka telah bergegas membuat sarapan, bersama-sama menyusuri jalan, melewati pematang, menyusuri sungai, berendam di dalamnya dan menikmati kucuran air dari sebatang bambu yang teraliri air segar dari sebuah mata air.

Wajah-wajah yang ceria. Sungguh senang memandangnya. Walau akhirnya nafas tertahan ketika mengingat saat mendengar kisah-kisah perjalanan kehidupan mereka. Seakan tak percaya dengan keceriaan wajah mereka seharian ini.

Ya inilah hari terakhir (15/5) dari tiga hari pertemuan kami untuk saling berbagi cerita dan merajut harapan akan masa depan. Pertemuan bersama lima anak perempuan yang telah dijerumuskan ke prostitusi dalam usia masih teramat muda. Workshop ini diselenggarakan oleh Yayasan Setara yang sejak tahun 1999 telah memberikan perhatian khusus terhadap anak-anak jalanan perempuan dan anak-anak yang dilacurkan. Workshop dimaksudkan untuk mengidentifikasi kebutuhan bagi anak-anak yang dilacurkan dalam upaya menarik mereka dari situasinya.

Saat ini, usia mereka hampir sebaya dengan anak pertamaku yang masih duduk di kelas satu SMA. Mereka berumur antara 15-17 tahun. Telah bertahun kehidupan ini mereka jalani. Kehidupan yang sering diperbincangkan, dihujat, dan dinikmati banyak orang, dan dianggap telah ada hampir seumur kehidupan manusia.

Sayang, di saat anakku masih menikmati pendidikan formalnya mereka sudah putus sekolah, hanya satu yang baru saja mengikuti Ujian Nasional SMP. Aku yakin mereka telah menjalani kehidupan yang dapat dipastikan sangat berbeda dengan anakku dan juga dengan anak-anak kalian.

Sebut sajalah Seroja, anak yang paling muda diantara kelima anak ini. Ia hanya sempat menikmati pendidikan hanya sampai kelas lima sekolah dasar. ”Waktu itu aku mabuk berat, dan terkapar di lantai kelas. Aku jadi malu, dan memutuskan keluar. Sebenarnya guruku baik, aku diperbolehkan sekolah asal tidak mabuk lagi,”

Seroja menyatakan memiliki niat untuk melanjutkan sekolah. Setidaknya mengikuti program Paket A. Ia telah mencari kemungkinan ini ”tapi harus bayar enam ratus ribu. Jadi saya harus cari uang dulu” katanya sambil menanyakan tentang apa yang dimaksud dengan Paket A.

Melati, sejak kecil telah ditinggal pergi oleh ibunya. ”Entah kemana, aku gak tahu,” katanya. Ia  tinggal bersama nenek dari ibunya di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. namun tak lama dijemput oleh nenek dari pihak bapaknya, tinggal di kota Semarang. Siksaan-siksaan dari Bapaknya yang kemudian menikah lagi dan dari Pakde-nya sendiri membuat ia memutuskan pergi meninggalkan rumah, tinggal di berbagai tempat yang mungkin disinggahi dan ”bekerja” untuk  menghidupi dirinya sendiri. Karena itulah ia tidak melanjutkan sekolahnya yang sudah memasuki kelas tiga SMP.

Anak perempuan lainnya sebut saja Mawar, sempat mencicipi pendidikan hingga kelas satu sebuah sekolah ketrampilan tingkat menengah. Ia mengaku sering membolos sekolah dan sering pergi dari rumah, terutama bila kakak laki-lakinya tengah berada di rumah (mengenai hal ini akan diceritakan kemudian). Kakak laki-laki yang melahirkan trauma sepanjang hidupnya dan masih dirasa hingga sekarang. Menjadi rahasia yang masih tersimpan rapat, setidaknya di dalam keluarga. Mengenai pendidikan, ia masih berniat untuk melanjutkan sekolah, tapi juga tetap melakukan kegiatannya untuk mendapatkan uang ”agar bisa membantu orangtua saya,”.

Hal serupa dialami oleh kawan dekatnya semasa SMP yang masih menjadi sahabatnya hingga saat ini. Sebut saja Lili, yang mengaku sering membolos dan meninggalkan sekolahnya ketika duduk di kelas 3 SMP. Tapi Lili menyatakan bila ada kesempatan ingin bersekolah lagi dan meninggalkan kegiatan yang tengah dilakukannya.

Keberuntungan masih dialami oleh Puspa yang pada akhirnya bisa mengikuti ujian SMP, ketika sebelumnya pihak sekolah tidak mau menerima ketika mengetahui kasus yang dialami oleh Puspa, ia berhasil mendapatkan di sekolah lain. Bagaimana kelanjutannya? Apakah ia masih ingin melanjutkan pendidikan?

Bagaimana kisah hidup yang dialami oleh kelima anak ini? Ikuti saja kelanjutannya dalam tulisan-tulisan berikutnya….

Semarang, 15 Mei 2011

_________________________________

Tulisan-tulisan terkait dengan Pelacuran/Prostitusi Anak:

One comment on “Masih Ada Sisa Cahaya (Membangun Harapan Anak yang Dilacurkan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: