1 Komentar

Kisah Anak yang Dilacurkan: Aku Ingin Bertemu Ibu

Oleh:  Odi Shalahuddin


”Keinginanku adalah bertemu dengan ibu,” tutur Melati. Matanya tampak berkaca-kaca. Ia terdiam. Menunduk. Memainkan jemari-jemarinya. Saling meremas. Suasana hening sesaat. Kami ikut terhanyut dalam suasana ini.

Ya, Melati, telah ditinggal ibunya sejak ia masih kecil. Ia tidak bisa mengingat bagaimana sosok ibunya. Ia tinggal bersama nenek dari pihak ibunya di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kemana sang ibu? Entah, tidak ada yang tahu. Atau tidak ada yang memberi tahu secara pasti. ”Dengar-dengar, katanya Ibu juga sudah menikah lagi,”

Nenek dari pihak Bapak mengunjungi dirinya, lalu mengajaknya untuk pindah ke rumahnya. Ia ikut. Tinggal di kota Semarang. Satu rumah ada beberapa keluarga di dalamnya. Neneknya, Bapaknya yang kemudian menikah lagi. Juga keluarga Pakdhenya.

”Bapak sangat pemarah. Kesalahan sedikit ia akan memukuli saya habis-habisan,” Melati dengan air mata yang perlahan mulai menetes. Ia berusaha menyeka dengan telapak tangannya. Kami menyodorkan tisu. Membiarkan ia mengeringkan air matanya. ”Kalau marah, benda apa saja yang ada di sekitarnya digunakan untuk memukuli saya,”

Tidak hanya Bapaknya, pakdhenya juga sering melakukan kekerasan terhadapnya. Terakhir yang membuat ia sangat sakit hati dan masih saja terbayang ketika kepalanya dipukul dengan ”talenan”. Ini membuatnya tidak betah untuk lama-lama berada di rumah.

Ia berkenalan dengan seorang seorang gadis sebayanya yang mengantarkan perkenalan dengan kawan-kawan lainnya yang biasa berada di lantai dua sebuah pasar yang berada dekat rumahnya. Ketika berkumpul, untuk pertama kalinya, ketika ia masih kelas lima Sekolah Dasar, ia dipaksa untuk ikut minum-minuman keras. Minuman tradisional dengan kadar alkohol yang tinggi. Ditambah obat-obatan yang entah ia tidak tahu namanya. Ada sepuluh anak perempuan seumuran yang berpesta miras di pasar itu.

Pada kelas lima ini pula untuk pertama kalinya ia berhubungan seksual dengan pacarnya yang juga masih anak-anak dan masih duduk di kelas dua SMP. ”Kami lakukan di rumahnya,”

Sang pacar yang kemudian meninggal dunia tatkala tengah mengejar dirinya yang dilanda cemburu karena melihat pacarnya bersama perempuan lain yang ternyata masih saudara sepupunya.

Berawal dari sinilah ia mulai sering minum-minuman keras dan mengkonsumsi pil koplo. Ia juga menjadi sering tidak pulang ke rumah. Kekerasan yang tidak pernah henti membuatnya kabur dari rumah ketika ia sudah bersekolah di kelas tiga SMP. Ia tinggal di rumah seorang kawannya. Berpindah lagi.

”Pacar saya sampai sekarang sudah lima puluh orang loh, mas. Semuanya saya catat. Tapi ada satu yang setia. Saya sudah lima tahun berpacaran dengannya,” tutur Melati yang saat ini masih berumur 16 tahun. ”Tapi dengan pacar yang satu ini, justru pacaran kami biasa-biasa saja. Tidak pernah berhubungan seksual,”

Melati setahun belakangan bekerja sebagai pemandu karaoke. Ia berpindah-pindah tempat. Sudah empat tempat karaoke yang menjadi tempat kerjanya. Satu sama lain bisa saling berbeda penghasilannya. Di satu tempat, ia bekerja dengan basis gaji bulanan sebesar satu juta rupiah, di tempat lain, dengan basis jumlah jam ia di booking dan diberikan setiap dua minggu sekali dengan rata-rata bisa mendapatkan penghasilan sebesar dua juta rupiah setiap dua minggunya. Di tempat yang lain, ia memperoleh  gaji mingguan, tapi pekerjaannya dinilai sangat berat. Mulai jam delapan malam dan sering baru berakhir hingga jam 11 siang. Ada berbagai alasan ketika ia berhenti bekerja. Ada yang lantaran persaingan antar pemandu karaoke, beban yang berat dan penghasilan yang dinilai kecil.

Kini ia dalam posisi menganggur. Tapi sudah mendapatkan bayangan tempat bekerja yang baru. Tetap sebagai pemandu karaoke.

”Loh, bukankah anak-anak tidak boleh bekerja di tempat seperti itu?” tanyaku.

”Wah, selama ini gak pernah ditanya KTP. Yang penting ada yang menjamin. Hanya kalau ada pemeriksaan, saya harus segera kabur,”

Gadis berkulit hitam manis, dengan rambut lurus yang memanjang melampaui bahu, matanya selalu terlihat sendu. Ia mudah tersentuh dan jatuh dalam kesedihan. Demikian pula saat ia menceritakan banyak hal kepadaku. Berulang kali ia harus jeda untuk menghapus dan mengeringkan air matanya.

”Aku ingin sekolah lagi, tapi juga tetap bekerja untuk membiayai sekolah dan hidupku,” katanya lagi.

Ah, Melati. Dia hanya salah satu dari puluhan atau bahkan ratusan anak-anak di kota Semarang yang berada dalam situasi buruk, bekerja dalam situasi yang rawan atas berbagai ancaman kekerasan dan eksploitasi seksual. Ia salah seorang anak yang dilacurkan.

Aku sendiri tidak mampu menuliskan secara menyeluruh kisah-kisah yang diungkapkannya. Hanya selintas. Itupun telah menyeret dukaku.

”Kebahagiaan saya, bila saya bisa bertemu dengan ibu saya,” demikian dinyatakan berulangkali.

Permintaan sederhana yang tampaknya sulit untuk terpenuhi.

Yogyakarta, 16 Mei 2011

__________________________

Sumber Foto dari SINI

Iklan

One comment on “Kisah Anak yang Dilacurkan: Aku Ingin Bertemu Ibu

  1. wah,cerita anak ingin bertemu ibunya.tp saya seorang ibu yg ingin bertemu anak kandung saya,tetapi saya org yg tidak mampu tuk menebus anak kandung saya yg berusia 6bulan dgn harga 200juta?
    saya hampis stress memikirkan anak kandung saya kembali dalam pelukan saya tp bagaimana saya mendapatkan uang 200juta.
    apa ada seorang ibu kandung menebus anaknya dgn harga 200juta…
    silakan hubungin fb saya emailnya dianacapriliasi@yahoo.com nama fb DIANA LOVE BINTANG.tolong saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: