2 Komentar

Ketika Anak Peduli Dengan Pelacuran Anak

Oleh:  Odi Shalahuddin

Yayasan Setara, sebuah Organisasi Non Pemerintah yang berpusat di Semarang, tiga tahun terakhir aktif mendiseminasikan persoalan Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak (ESKA) di berbagai kelompok anak. Kelompok anak ini mencakupi para pelajar di berbagai SMP dan SMA, anak-anak di berbagai komunitas masyarakat miskin, dan kelompok anak jalanan. Berdasarkan hasil diseminasi itu, ditindaklanjuti dengan menghimpun anak-anak ke dalam satu forum yang bernama Forum Anak Anti ESKA, yang dibentuk pada tahun 2010.

Melalui forum ini, partisipasi anak untuk terlibat mendiseminasikan isu ESKA dilakukan dengan melibatkan mereka dalam acara-acara pendidikan komunitas, membuka ruang ekspresi melalui penerbitan bulletin “Ceria”, kelompok musik dan teater.

Tiga bulan terakhir, 12 anak dilibatkan untuk mengetahui secara mendalam mengenai situasi ESKA terutama anak yang dilacurkan. Mereka diberi tugas untuk memetakan dan melakukan wawancara setidaknya dengan satu anak yang berada di prostitusi. Sebagai bekal selama proses ini dilakukan tiga kali workshop. Workshop pertama merupakan orientasi mengenai situasi umum isu ESKA dan dasar-dasar melakukan pengamatan dan wawancara yang ditindaklanjuti dengan kegiatan lapangan. Workshop kedua merupakan sharing dari masing-masing anak atas kegiatan yang telah dilakukan dan memberikan masukan-masukan untuk menggali secara mendalam situasi yang sudah mereka temukan, dan workshop ketiga merumuskan hasil temuan-temuan mereka.

“Dari proses ini, jumlah anak yang terlibat mengalami penurunan. Dari 12 anak, kemudian berubah menjadi 10, dan yang berhasil mengikuti kegiatan sampai akhir hanya sembilan anak,” demikian dituturkan oleh Yulianto yang lebih dikenal dengan panggilan “BDN”, staf Yayasan Setara yang bertanggung jawab atas kegiatan ini.

Hasil dari pemetaan yang dilakukan sembilan anak akan dirumuskan menjadi tulisan yang direncanakan akan menjadi bagian dari sebuah buku yang akan diterbitkan tahun ini.

“Dengan terjun ke lapangan, anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan saja, tetapi bisa membuka mata mereka sendiri atas nasib anak-anak lainnya yang sebaya dengan mereka yang mengalami kehidupan lebih buruk. Diharapkan pula kegiatan ini akan melahirkan empati dan kesadaran social mereka untuk melakukan sesuatu seperti pencegahan dan upaya pemulihan,” demikian dijelaskan oleh Hening Budiyawati, Koordinator Harian Yayasan Setara.

Kini, bertempat di Vila “El Roi” Bandungan, pada tanggal 26-29 Mei 2011, tengah berlangsung workshop ketiga yang diikuti oleh delapan anak dari sembilan anak yang terlibat.

“Satu anak perempuan sakit jadi tidak bisa ikut,” dijelaskan oleh Yulianto.

Satu-satunya anak perempuan yang terlibat dalam workshop ini adalah Meri Andriyani Jambak, pelajar kelas dua SMK Purnama Semarang.

”Perasaan saya sebenarnya takut ketika melakukan observasi ke tempat-tempat yang menjadi daerah mangkal prostitusi. Tapi saya nekat saja. Pada kunjungan kedua saya ke salah satu lokalisasi, saya ditangkap oleh keamanan di sana. Saya diintegoragi, ditanya identitas dan ditanya keperluaannya keliling lokalisasi. Beruntung kawan saya memiliki saudara yang bekerja di dalam lokalisasi sehingga kami berhasil dilepaskan,” demikian Meri menceritakan pengalamannya ketika di lapangan.

Peserta lain yang terlibat adalah Shahidan Noer Akbar yang juga merupakan Ketua Forum Anak Anti ESKA. Ia satu sekolah dengan Merry. Ia katakan bahwa berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Setara sangat bagus dan postifi bagi anak-anak untuk melatih kepekaan sosialnya. Terkait dengan pelibatan sebagian anggota untuk melakukan pengamatan dan wawancara dengan anak-anak yang dilacurkan ia nyatakan ini penting agar anak-anak bisa mengetahui masalah yang dihadapi oleh anak-anak lainnya.

”Saya sendiri jadi mengetahui lebih jauh tentang ESKA. Ini memprihatinkan. Saya lihat masalahnya dikarenakan kemiskinan keluarga dan terjebaknya anak pada gaya hidup. Saran saya pemerintah harus bekerja keras mengurangi kemiskinan dan kepada anak-anak agar tidak terpedaya oleh gaya hidup untuk memiliki barang-barang bagus,” kata Shahidan.

”Saya melihat prostitusi menjadi tempat pelarian dari masalah. Untuk menghindari anak-anak ke prostitusi, peranan keluarga menjadi penting. Perhatian dan pengawasan orangtua menjadi penting. Bagaimana orangtua juga berkomunikasi dengan para guru di sekolah untuk mengetahui situasi anak-anaknya,” ditambahkan oleh Meri saran untuk mencegah anak-anak agar tidak dijerumuskan ke prostitusi.

Ya, sungguh menarik. Memang anak-anak harus dilatih kepekaan dan solidaritas sosialnya terhadap nasib anak-anak sebaya mereka. Kendati misalnya belum banyak yang bisa dilakukan untuk menangani, setidaknya mereka tidak membangun stigmatisasi terhadap anak-anak lain yang kurang beruntung.

 Bandungan, 27 Mei 2011

______________________________

Tulisan-tulisan terkait dengan Pelacuran/Prostitusi Anak:

Iklan

2 comments on “Ketika Anak Peduli Dengan Pelacuran Anak

  1. […] Ketika Anak Peduli dengan Pelacuran Anak […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: