Tinggalkan komentar

(ocehan) Sang Pengumpat

SANG PENGUMPAT

Aku punya seorang kawan. Kerjanya selalu mengumpat saja. Kesalahan sedikit, baik yang dia lakukan maupun orang lain, sudah bisa dipastikan akan menjadi bahan bagi dia untuk segera meluncurkan beragam umpatan.

Kami semua sudah paham. Hanya tawa sebagai sambutan dari kami. Mendengar tawa kami, ia pasti akan ikutan tertawa pula.

Terus-terang saja kami senang mendengar ia mengumpat. Kalau tidak ada umpatan sehari saja keluar dari mulutnya, maka kami merasa ada yang kurang lengkap perjalanan hari itu. Maka kami akan melakukan tindakan-tindakan yang kiranya tidak berkenan di hatinya, dengan harapan mendengar umpatannya.

Tapi sungguh, apabila kamu mendengar umpatannya, kamu tidak akan tersinggung. Bahkan mengikuti jejak kami: TERTAWA. Bukan berarti kawan kami itu patut ditertawakan, tapi umpatannya itu memang membuat kita bisa tertawa.

Cobalah dengar ketika ia mengumpat diriku lantaran datang terlambat dalam pertemuan:

”Dasar Bunga! Mawar, melati, Edelweis,… bla…bla..bla….”

Bila ada orang yang biasa berjanji, tapi selalu saja mengingkari, maka  ia akan mengumpat orang itu: ”Dasar anggota DPR!”

Bila dalam pertemuan, perdebatan seru tanpa ujung berlangsung, ia akan berdiri, ”Kalian ini hanya otot-ototan saja. Maaf, ini pertemuan penting. Jangan sampai seperti DEBAT PARLEMEN !”

Bila ada di antara kami melakukan kesalahan, lalu dalam pertemuan melakukan pembelaan diri dengan wajah memelas seolah-olah dia adalah korban, memberikan alasan yang berputar-putar. Ia akan nyeletuk, ”Maaf, sekarang kami tidak butuh PRESIDEN”

Kebiasaan-kebiasaan teman kami mengumpat sebenarnya belumlah lama. Seingatku belum ada satu bulan. Tapi lama-lama penasaran juga dengan cara dia mengumpat. Suatu sore, sambil menikmati kopi, kami duduk di beranda berdua. Kawan-kawan belum pulang dari lokasi kegiatan.

“Kenapa sih kamu selalu mengumpat?”

”Obat stress. Orang yang tidak bisa mengumpat, sebenarnya adalah orang sakit jiwa. Sudah punya beban berat, tidak bisa tersalurkan, ya tambahlah bebannya,”

Aku tertawa.

”Tapi mengapa umpatan-umpatanmu seperti itu. Orang menjadi tidak marah kau umpat?”

”Lah, mengumpat itu kataku adalah obat stress. Kalau aku mengumpat, orang-orang menjadi marah padaku, berarti tambah masalahku. Makin stress pula nantinya. Aku carilah umpatan yang bisa membuatku menyalurkan emosi, tapi tanpa orang menjadi marah,”

Aku tertawa lagi.

”Tapi, sesungguhnya aku serius. Serius mencari bahan-bahan umpatan,” katanya dengan intonasi yang berat.

Perjalanan ujung cangkir berhenti sesaat sebelum sampai di bibirku. ”Maksudmu,”

”Umpatan yang ada menunjukkan kelas. Status kelas. Memposisikan diri pada kelas tertentu,”

Wah, kalau ini serius. Aku buru-buru menyeruput kopi.

”Maksudmu?” ada penasaran juga dengan pandangannya.

”Aku curiga, kata-kata umpatan yang ada lahir dari kelas-kelas menengah atas untuk memapankan statusnya. Kita saja yang tidak sadar, sehingga ikut-ikutan terjebak di dalamnya. Dengan kata lain, kata umpatan dilahirkan untuk merendahkan kelas bawah, sehingga bisa abadilah perbedaan kelasnya,”

”Loh, kamu ngomong kelas begini, maksudnya apa sih? Apa seperti sekolah. Ada SD, SMP, SMA?”

Wajahnya yang tadi serius, berubah jadi lucu. Ia terbahak. Aku pun ikutan terbahak. Langit sore terbahak. Burung-burung yang lewat berhenti dulu melewati kami, ikut-ikutan terbahak. Biarlah sore ini patut menjadi saat yang nikmat untuk terbahak. Melepaskan keletihan menjalani hari.

”Kamu itu sukanya meledek kalau aku yang ngomong,” suaranya jengkel menghiba. Kembali kami tertawa bersama.

”Tapi aku serius mau tahu,” kataku memandang lekat ke wajahnya.

”Alah, wajahmu itu loh. Jangan dibuat serius-serius gitu. Kayak Pelatih sepakbola mau kalah saja. Malah gak bisa ngomong aku,”

”Ok. Ok. OK. Terus?”

”Coba kita lihat kata-kata makian, selalu menggunakan profesi-profesi atau situasi keseharian yang lekat dengan rakyat. Artinya, rakyat direndahkan sedemikian rupa, ketika menjadi umpatan maka yang sesungguhnya terjadi adalah penindasan abadi. Sekarang siapa anak yang bisa berbangga menyatakan bahwa Bapaknya adalah Bajingan (pengendali gerobak sapi), Sontoloyo (penggembala bebek), atau Kusir? Lantas bagaimana kita menghina orang lain dengan mengatakan ”kampungan” ”Ndeso” atau ”Ndesit”. Orang kampung dan orang desa asli saja dihina begitu bisa marah. Nah, cobalah kita balik. Kalau kita bilang umpatan itu adalah penghinaan, mengapa yang jelas-jelas ada di hadapan kita tidak dijadikan sebagia bahan umpatan. Anggota DPR yang suka janji-janji tapi selalu mengingkari. Debat di parlemen yang banyak tidak mutu, hanya adu mulut saja, dan sebagianya..”

Temanku terus saja bicara. Aku sendiri, pikiran sudah entah kemana. Termasuk juga menghina diriku yang pastilah pernah mengucapkan kata-kata yang merendahkan rakyat sebagai bahan umpatan.

Bagaimana dengan dirimu?

Yogya. 05.01.11.

_____________________

Gambarnya dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: