Tinggalkan komentar

(cerpen) Mayat

MAYAT
Cerpen Odi Shalahuddin 

Ketika ada kabar ditemukan mayat tergeletak di ujung kampung dekat sebuah bukit, orang-orang kampung sama sekali tidak tertarik dan tetap melanjutkan kegiatannya. Ini bukan hal asing lagi bagi mereka. Sudah cukup banyak pengalaman tentang hal itu.

Beberapa puluh tahun yang lalu, hampir setiap hari ada mayat tergeletak. Tidak hanya satu, pernah sehari ada dua puluh  mayat. Entah di ujung jalan, di selokan, di pinggiran hutan, di halaman sebuah rumah, dan sebagainya. Baik dalam keadaan terikat, mukanya hancur, ada bagian tubuhnya yang hilang tergeletak begitu saja maupun ada di dalam karung. Mayat-mayat yang tidak dikenali siapa dia. Mulanya mereka memang terkejut. Ketakutan membayangi sepanjang  helaan nafas. Tapi setelah itu, dianggap biasa. Mereka tak perlu lagi repot-repot mengayuh sepedanya sepanjang lima belas kilometer ke kota kecamatan untuk memberitahu polisi. Polisi sudah secara rutin datang sendiri setiap harinya.

“Mana mayat baru?” begitu pertanyaannya. Orang-orang akan menunjuk  ke satu tempat atau beberapa tempat. Bila tak ada mayat, polisi justru heran. “Kok tidak ada ya,” gumaman spontan yang terdengar.

Ketika kiriman mayat itu terhenti, mereka pun cepat melupakan kejadian itu. Sampai pada suatu ketika mereka dikirimi kembali mayat-mayat setiap harinya. Kegemparan sempat terjadi. “Mereka itu penjahat-penjahat. Lihat saja tubuhnya penuh tatto,”seseorang mengatakan. Hanya beberapa hari saja mereka sudah terbiasa dan tenggelam lagi oleh kesibukan sehari-hari. Sampai kiriman mayat terhenti.

Kini ditemukan lagi mayat di dalam karung di ujung jalan itu. Apanya yang aneh? Memang, setelah kejadian kedua, ada mayat hampir setiap hari, dan kemudian terhenti, bukan berarti mereka tak menemukan mayat lagi. Ya, kadang sebulan sekali, tiga  bulan sekali, atau setengah tahun sekali, pasti ada kiriman mayat entah dari mana. Jadi ditemukannya mayat di ujung jalan itu bukan hal yang teramat aneh.

Mengapa mayat-mayat dibuang ke sana, itu yang seharusnya terasa aneh. Karena begitu seringnya, jadi terasa  wajar. Tidak lagi menjadi pertanyaan. Nama kampung berganti Bangke pun tidak menimbulkan protes.

“Mayat itu lain dari yang lain,” seseorang mengabarkan.
Beberapa orang yang mendengar tertawa terbahak. “Mayat…ya…mayat. Kok lain dari yang lain,” seseorang memberikan jawaban yang kembali disambut tawa.

“Benar! Mayat ini lain dari yang lain,” orang yang mengabarkan itu mencoba menegaskan dengan mimik wajah yang serius.

“Apanya yang lain?”

“Mayat  ini tidak menjulurkan lidahnya. Lehernya mulus tidak ada bekas tali atau kawat. Tubuhnya juga tidak ada  sayatan-sayatan. Hanya di kepalanya berlubang,”

“Kenapa berlubang? Peluru?” tanya seseorang.

Orang tadi mengangguk. “Dan lagi, mayat ini tentu bukan orang biasa. Pakaiannya lengkap dan rapi, masih dilengkapi dasi.  Sepatunya mengkilat,”

“Apakah benar?” seseorang bertanya dengan nada mendesak. Orang tadi mengangguk mantap.

“Pembunuhan profesional,” komentar seseorang seenaknya.

Orang-orang berubah menjadi antusias. Segera mereka berlari menuju lokasi, di ujung jalan itu. Di sana sudah banyak orang berkumpul. Mereka  berdesak-desakan untuk melihat lebih  dekat.

Mayat itu telah dibaringkan. Kedua tangannya sudah saling bertindih di dadanya. Mata mayat itu masih kelihatan melotot meskipun beberapa orang telah berusaha mengusap kelopak matanya.

“Mayat siapa?”

“Tidak ada identitasnya sama sekali,”

“Lho! Masak?”

“Sama dengan orang-orang bertato dulu. Tidak ada petunjuk,”

“Eh, sudah ada yang melapor ke polisi, belum?” seseorang bertanya.

“Ya, ya, cepat lapor polisi!”

“Biar saya saja,”

Terdengar bunyi mesin motor. Lalu motor itu melesat ke arah selatan menuruni bukit. Tidak beberapa lama, motor itu kembali. Di belakangnya, mobil kijang dengan bak terbuka mengikuti. Sampai di tempat, para petugas yang ada di mobil turun. Mereka menyibakkan kerumunan. Beberapa orang dimintai keterangan. Seorang polisi sibuk dengan HT-nya.

Ketika mayat itu sudah dibawa pergi, orang-orang ramai membicarakannya.

“Para penjahat beraksi. Apa mereka tidak kapok dengan peringatan beberapa tahun yang lalu?”

“Pengusaha atau pejabat, ya? Kan penampilannya sama. Tidak mungkin orang biasa,”

“Yang namanya penjahat, memang tidak kapok-kapok?”

“Ah, paling-paling korban penculikan. Keluarganya pelit, jadi di dor, saja.”

Pembicaraan-pembicaraan  mereka terus berkembang dan menjadi menarik perhatian sampai ada yang bergadang sampai pagi.

Esoknya mereka dikejutkan lagi dengan ditemukannya dua mayat. Kali ini tidak di dalam karung. Tetapi tergeletak di pinggiran hutan. Tidak ada luka-luka di sekujur tubuh, kecuali sebuah lubang di kepalanya. Kedua mayat ini juga tidak diketahui identitasnya. Hanya saja, penampilan mayat itu tidak jauh berbeda dengan mayat yang kemarin. Sepatu dan pakaian mahal melekat di tubuh keduanya.

Polisi-polisi yang datang kelihatan tegang wajahnya. Pandangan enteng dan candaan bila menemukan dan memperlakukan mayat tidak terlihat lagi.

Penduduk yang dimintai keterangan lebih banyak dari kemarin. Bila dulu terkesan berbasa-basi, kini tampaknya lebih serius. Pertanyaan cukup banyak dan mendetail. Beberapa orang bahkan terpaksa menginap di polsek untuk dimintai keterangan.

“Masak kalian tidak melihat kendaraan apa yang datang mengirim mayat kemari?” tanya seorang polisi.

“Lha, mau mengerti bagaimana, Pak? Saya tahu saja baru tadi pagi,”

“Goblok! Baru soal kendaraan saja tidak tahu!”

Polisi benar-benar merasa frustasi. Penduduk jadi merasa takut dan terancam. Mereka yang tidak tahu apa-apa malah ditanya macam-macam. Mulut mereka pun terkatup erat. Bisik-bisik antara mereka hilang. Sejak siang, sebagian besar pintu-pintu rumah tertutup rapat. Mereka tidak mau ikut campur. Mereka tidak ingin membuat  pengandaian-pengandaian. Tentu  saja  hal ini sangat menyiksa. lantas apa guna mata dan mulut?

Keesokan harinya ada tiga mayat tergeletak. Besoknya lagi empat. Kemudian satu. Lalu delapan. Lalu….Semua tidak ingin banyak tahu.

Polisi-polisi jadi super sibuk. Mereka datang setiap pagi untuk mengambil mayat-mayat itu. Namun ada yang aneh. Wajah-wajah mereka tidak kelihatan tegang lagi. Tidak ada polisi yang mengetuk-ngetuk pintu rumah untuk mencari keterangn. Sambil mengangkuti mayat terkadang terlihat senyuman mereka, terkadang ada siulan  nyanyian, terkadang ada tawa terbahak. Penduduk melihat itu dari jendela rumah masing-masing. Mereka bertanya-tanya. Tapi justru membuat bingung kepala. Membuat hati semakin cemas.

Kecemasan yang dialami pula oleh penghuni kota besar yang letaknya seratus limapuluh kilometer dari tempat mereka. Lihatlah, kantor-kantor sudah tutup pada siang hari. Malamnya, tempat-tempat hiburan dan hotel-hotel mewah yang biasanya penuh dengan hiruk-pikuk berubah sepi. Jalan-jalan lenggang dari kendaraan mewah. Rumah-rumah besar di perumahan-perumahan  terkenal tertutup rapat dengan penjagaan ketat sepanjang waktu. Ini terjadi lantaran banyak orang-orang dekat mereka yang hilang tak berbekas.

Tapi di luar itu keramaian kehidupan di kota tetap saja tidak mati. Ada apa sesungguhnya? Entahlah. Kita sama sekali tak tahu.

Imogiri, 1994-1995

__________________________

Ilustrasi Gambar bersumber DI SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: