Tinggalkan komentar

(cerpen) Kita Ada di Bayang-bayang

KITA ADA DI BAYANG-BAYANG
Cerpen  Odi Shalahuddin

.

Alang-alang sepanjang padang. Terlihat datar oleh kita. Bagai tikar lusuh. Bagaikan karpet coklat yang rusak. Kita bisa mengatakan: Betapa buruknya!

Lalu kita membandingkan dengan taman-taman kota, pusat-pusat pertokoan, perumahan yang akan memperjelas penegasan: Betapa buruknya!

Ah, ketika diminta membuat rencana. Yang pertama adalah menebar seluruh alang-alang itu. Selanjutnya adalah mewujudkan rencana lain. Entah apapun, yang pasti alang-alang harus hilang.

Siapakah yang mau berpikir bahwa alang-alang perlu hidup? Dan kehidupan macam apa diantara alang-alang?

Kita hanyalah makhluk-makhluk angkuh yang merasa berhak atas segalanya. Pandangan kita adalah pandangan dari dataran tinggi. Kita hidup di menara, di awan, di pucuk gunung. Lantas merasa sebagai dewa.

Sesungguhnyalah, kita hidup di baying-bayang yang sama sekali tak bisa mengerti; mengapa?

NS

 

Aku tercenung membaca tulisan itu dari kertas yang kutemukan tak sengaja di bawah pakaian di dalam lemari. Nasih, Tulisan tangan dengan tinta merah.

Ah, mengapa baru kali ini kutemukan? Betapa aku sangat berjarak dengan kamar ini. Setiap hari ada di dalamnya, namun hanya sekedar merebahkan badan. Tanpa tahu banyak apa isi di dalamnya. Selama ini, yang pasti terbuka adalah lemari pakaianku saja.

Kapan ia menuliskannya? Yang dapat kupastikan, pasti lebih dari setahun yang lalu. Karena pada waktu itu, Nasih pergi mendahuluiku. Ia telah pulang ke asalnya. Pulang yang abadi.

“Ya, Allah, terimalah ia di sisi Mu,” desisku pelan.

Semenjak kepergian Nasih, aku tak ingin merubah segalanya. Aku tak pernah mengutak-ngatik barang-barang Nasih di dalam lemarinya. Biarlah tetap seperti semula. Setidaknya untuk menghibur diri bahwa ia masih mendampingiku. Itu yang menyebabkan aku berjarak dengan ruang ini.

Tadi, kurasakan kesepian teramat sangat. Aku rindu Nasih. Kubuka lemarinya, menciumi pakaian-pakaiannya. Terasa baunya yang tak asing buatku. Begitulah, sampai akhirnya kutemukan kertas yang tergenggam di tanganku kini.

Ah, Nasih, betapa banyak yang tidak terpahami darimu. Aku hanya mengenalmu sebagai istri yang baik. Yang selalu bisa memahamiku. Baru aku sadari, betapa aku tidak pernah mendengar pikiran-pikiranmu. Aku tahu, itu bukan maumu. Tapi lantaran aku tak pernah memberimu kesempatan. Lantaran aku terlalu banyak bicara, dan sibuk dengan diri sendiri.

Tulisanmu. Tulisan yang kubaca ini. Tentu bukan tulisan yang keluar begitu saja. Ekspresi pikiran yang lahir dari kedalaman perenungan tentang kehidupan.

Ah, Nasih.

Aku tak pernah memahami dengan jelas apa yang dimaksud oleh Nasih dalam tulisannya. Aku hanya mencoba menginterpretasikan sebagai pembaca. Tulisan ini terasa sebagai peringatan. Sekarang teramat berarti buatku. Seakan ada jalan keluar dari beban yang beberapa minggu ini mengganjal di kepala.

Alang-alang sepanjang padang. Siapakah yang mau berpikir bahwa alang-alang perlu hidup? Dan kehidupan macam apa di antara alang-alang?

Ah, Nasih, Nasih.

Terbayang di kepalaku, bagaimana Pak Pras mendesakku untuk segera mengambil keputusan.

“Berapapun biayanya tak masalah. Saya yakin dengan kemampuanmu. Pasti akan kau dapatkan,”

“Tapi, Pak?”

“Alah…. Yang jelas mereka bisa pergi,”

“Akan saya pikirkan,”

Kelihatan wajah Pak Pras menegang. Dahinya tampak berkerut. Ia memandangiku dengan sorot mata aneh. Mungkin jawabanku mengejutkannya. Ia tidak biasa dengan penolakan betapapun halusnya. Apa yang diingininya selalu harus bisa dipenuhi. Tapi kali ini?

Wajah Pak Pras mengendur lagi. Ia melemparkan senyum dan menepuk-nepuk bahuku. “Baiklah, aku beri waktu kau berpikir. Minggu depan harus sudah ada keputusan. Tapi, Ingat! Aku tak mau dikecewakan,”

Aku mengangguk. Lalu mohon diri dari ruang kerjanya. Isi kepala terus berputar-putar. Jelas, waktu yang diberikan bukanlah untuk berpikir jadi tidaknya apa yang diinginkan dan mencari alternative lain. Melainkan lebih pemberian waktu kepada diriku sendiri. Inginkah aku tetap menjadi anggota pasukan kepercayaan dari perusahaannya?

Ah, Nasih. Alang-alang sepanjang padang, selalu terbayang-bayang. Haruskah ia terbakar? Hilang…? Musnah….? Lantas kemana gerangan mereka bergegas? Ah.

Nasih, aku tentu akan menolak permintaan Pak Pras meskipun aku harus kehilangan pekerjaan. Inilah jalan terbaik. Aku mengacungkan jari untuk menjawab pertanyaanmu, Nasih. Aku mencoba berpikir tentang alang-alang. Dan aku tak mau alang-alang itu dimusnahkan, meski dengan berjuta slogan. Orang-orang seperti kita memang angkuh, Nasih. Untuk mengakuinya pun tak pernah terlintas di kepala.

Aku akan mengatakan segera kepada Pak Pras. Aku jelas menolah! Resiko yang dating, aku siap menghadapinya.

Alang-alang sepanjang padang. Padang yang semakin berkurang. Bukan mati secara alami. Bukan pula berganti mawar

Sore itu aku berkeliling kota. Di atas jembatan laying, mataku memandang sebuah ruang. Tumpukan Rumah berhimpit-himpitan yang dulu terhampar luas, kini tinggal sepersepuluhnya saja. Itupun masih mampu menyimpan tiga ribu jiwa yang dapat mengatakan alamatnya secara jelas.

Tumpukan Rumah itu adalah alang-alang. Dia menyempil di belakang sebuah pusat pertokoan nan megah. Di belakangnya, disamping kanan-kirinya, juga bangunan-bangunan beton memanjang. Ah, tumpukan Rumah itu sangat menggangu keindahan pandangan mata. Hanya itukah yang terbersit?

Nasih, sekali lagi aku tegaskan. Aku menolak permintaan Pak Pras. Lihatlah air mataku yang tumpah setelah puluhan tahun tak pernah.

Nasih, kuceritakan padamu. Pak Pras murka padaku. Ia memakiku. Menganggapku tak kenal budi. Menyamakan diriku seperti anjing. Dianggap hendak berkhianat. Tapi aku Cuma tersenyum saja, Nasih. Tersenyum lepas. Dan kukatakan padanya, “Siapakah yang mau berpikir bahwa alang-alang perlu hidup?”

Merah sekali wajahnya mendengar ucapanku. Di usirnya aku dari situ. Untuk tidak kembali. Aku hanya tersenyum. Hanya tersenyum, Nasih.

Terima kasih. Terima kasih atas peringatanmu. Aku teramat yakin tulisan ini sungguh persembahan buatku. Terima kasih, Nasih.

Aku menangis. Aku menangis, Nasih. Untuk kedua kalinya setelah puluhan tahun. Berita Koran halaman muka hari ini; Alang-alang itu telah terbakar habis, Nasih.

Nasih, siapakah yang mau berpikir bahwa alang-alang perlu hidup

“AH”

Kutuliskan pertanyaan itu dengan darahku, Nasih.

Yogya, Agustus 1994

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: