1 Komentar

(cerpen) Kesaksian

KESAKSIAN
Cerpen  :  Odi Shalahuddin

 Ditemukannya bayi di bak sampah di ujung jalan kampung itu membuat heboh orang-orang kampung. Bayi itu masih merah dan masih dipenuhi darah. Tampaknya baru beberapa jam saja dia hadir di muka bumi. Gerakan tubuhnya yang halus menandakan ia masih hidup. Keyakinan  itu mendapat jawab pasti ketika terdengar lengkingan tangisnya. Adalah suatu keajaiban ia masih hidup.

Mbah Projo yang pertama kali menemukan. Ia membopongnya dan mengabarkan kepada tetangga-tetangganya. Dengan sangat hati-hati ia  membersihkan tubuh bayi itu dengan lap bersih yang dibasahi air hangat.

Orang-orang yang mengerumuni semakin  banyak. Masing-masing memberikan komentar. Mengutuki perempuan yang telah tega mencampakkan bayinya sendiri di tempat sampah. Dan menyatakan keprihatinannya terhadap nasib bayi.

Pak RT datang tergopoh-gopoh mendapat laporan dari warganya. Ia menyibak kerumunan dan mendekati Mbah Projo yang tengah menggendong bayi itu.

“Bagaimana? Masih hidup?” tanyanya cemas.

Kecemasan yang bisa dimengerti. Tentu Pak RT tidak ingin mengalami kesusahan seperti beberapa tahun yang lalu. Ada seorang gelandangan yang mati di kampung ini. Urusannya rumit. Harus lapor ke sana-kemari, mencari pemakaman yang bersedia  menampung, membuat laporan tertulis kepada atasan-atasannya, harus menggaji orang untuk melakukan kerja sampai pemakaman usai, dan sebagainya, dan sebagainya. Iapun bernafas lega mendengar  jawaban bayi itu masih hidup dan menyaksikannya sendiri. Tugasnya tentu tidak seberat menghadapi kematian orang tak dikenal di dalam wilayahnya.

“Dibawa ke rumah saya,” kata Pak RT dengan nada memerintah.

Orang-orang  berbondong-bondong mengikuti Mbah Projo yang membawa  bayi itu ke rumah Pak RT. Ia membelai-belai kepala bayi itu dengan lembut, penuh kasih sayang. Mulutnya tak henti-henti mencoba berdialog dengan bayi.

Di rumah Pak RT, diadakan pembagian tugas. Ada yang ke kantor kalurahan, kantor polisi, dan memanggil dokter Puskesmas serta beberapa tempat yang perlu dihubungi. Semua menjalani dengan senang hati. Ya, semua orang bersimpati kepada bayi itu.

Beberapa petugas datang. Mereka memintai keterangan dari para saksi mata. Mereka mencatat apa yang mereka dengar, melihat bayi yang menjadi bahan pembicaraan, lalu pergi dari tempat itu. Yang punya perhatian adalah  Dokter Puskesmas. Ia memeriksa dengan teliti, lalu mengatakan kepada Pak RT bahwa bayi  itu sebaiknya dirawat di Puskesmas saja. Mbak Projo memohon agar ia diperkenankan untuk merawat bayi tersebut.

“Tidak bisa Mbah. Bayi ini perlu perawatan intensif agar diabisa tetap hidup,”

Mbah Projo tetap ngotot dan mengatakan ia mampu untuk merawat bayi  itu  karena telah punya pengalaman  merawat sebelas  bayi, yaitu anak-anaknya. Dokter itu menjelaskan dengan perlahan dibantu Pak RT dan beberapa warga. Mbah Projo berusaha untuk mengerti.

“Tapi, bila perawatan di Puskesmas telah selesai,  saya mohon agar bayi itu saya yang merawatnya. Kecuali bila si Ibu bayi yang memintanya. Tapi saya yakin, perempuan jahat itu tak akan berusaha mencari. Boleh, ya, Dok?”

Dokter  itu tersenyum lalu memandang Pak RT. Pak RT mengangguk. “Ya,”

Mbah Projo kelihatan sangat gembira.

Selama masa perawatan di Puskesmas, warga kampung rajin menjenguk. Terutama Mbah Projo. Waktunya banyak habis di Puskesmas. Ia terus menanti dan tidak sabar lagi untuk cepat-cepat merawat bayi itu.

Empat bulan kemudian apa yang dinantikan Mbah Projo terpenuhi. Bukan main gembiranya hati Mbah Projo. Dokter dan perawat Puskesmas memberikan beberapa petunjuk untuk perawatan kepada Mbah Projo yang disaksikan Pak RT dan sebagian besar warga kampung.

“Kalau lupa, bisa tanya yang lainnya,” kata Dokter itu sambil tersenyum kepada Mbah Projo,”semua kan ikut mendengarkan,”

Bayi itu sangat manis sekali. Seluruh warga kampung mencintainya. Kebutuhan ASI dipenuhi oleh beberapa ibu yang masih mempunyai bayi. Mereka melakukannya dengan senang hati. Bayi itu tumbuh dengan sehat dan menjadi anak. Keheranan warga kampung, sama sekali anak itu belum pernah terserang penyakit.

Anak itu semakin besar, kecintaan warga kampung juga semakin besar. Beberapa orang seringkali menculik anak itu dari rumah Mbah Projo. Mereka tertawa hanya mendengar omelan Mbah Projo kalau tahu bayi itu berada di rumahnya. Omelan yang bukan muncul dari kebencian!

Sebagian besar warga kampung menawarkan diri untuk membiayai perawatan dan pendidikan anak itu. Mbah Projo menolaknya. Namun setiap bulan warga kampung tetap menyisihkan uang dan diberikan kepada Mbah Projo yang tidak bisa ditolak lagi olehnya. Dari pemberian warga kampung itu cukup besar, kelebihannya ditabungkan oleh Mbah Projo.

“Semenjak ada anak ini di sini, kita semua seakan mendapat Rahmat dari Tuhan. Warga kampung jadi diberi kemudahan dalam menempuh hidupnya. Lihat saja si Darus, usahanya terus berkembang, padahal dulu setiap usaha yang dilakukan selalu bangkrut,lalu si Onah, dagangannya sangat lari di pasar. Pemuda-pemuda di sini, cepat sekali mendapat pekerjaan. Pengangguran hampir  bisa dikatakan tidak  ada, lalu…ah, banyak contoh yang bisa kita sebutkan,”  kata seseorang memberikan alasan yang juga menjadi alasan warga kampung yang lain.

Anak itupun masuk sekolah. Pendidikannya berjalan lancar. Ketika anak itu naik kelas tiga SLTP, Mbah Projo meninggal dunia. Perawatan selanjutnya dipegang oleh Si Minah anak bungsu  Mbah Projo yang juga tinggal di kampung itu. Seluruh warga kampung juga merasa sangat gembira ketika anak itu berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri di kota itu. Satu prestasi tersendiri karena sebelumnya satupun tidak ada yang bersekolah sampai perguruan tinggi. Inipun berhasil dijalani dengan baik.

Setelah lulus dari perguruan tinggi, anak ini cepat sekali mendapat pekerjaan. Ia bekerja di sebuah perusahaan yang sangat terkenal. Kariernya cepat berkembang.

* * *

Pak Sakri mengusap wajahnya yang telah penuh dengan air mata. Begitu pula aku. Air mata tak dapat terbendung lagi. Aku rasakan semua mata memandang ke arahku. Aku tidak tahu, apakah itu wajah kemarahan? Ah, andaipun semua membenciku, kukira itu hal yang wajar. Akulah yang kurang ajar!

“Maafkan kami. Seharusnya kami tidak menceritakan rahasia ini kepadamu. Tapi tiada jalan lain bagi kami untuk melakukan pembelaan. Kita berdiri pada dua sisi yang bertentangan. Kepentingan kami adalah bagaimana kami bisa hidup tenang. Tidak lebih. Apakah itu salah ? Jangan kau kira kami semua sekarang membencimu. Tidak! Kami semua tetap mencintaimu. Tetap menganggap sebagai anak kami, adik kami, saudara kami. Percayalah,” kata Pak Sakri dengan perlahan sambil menatapku.

Kata-katanya semakin menusuk hatiku. Cerita yang tadi mengalir dari Pak Sakri merupakan kesaksian yang telah menjatuhkanku dalam kesadaran. Aku terlalu sombong! Kini aku justru berada pada pihak yang akan menghancurkan kepentingan mereka? Ingin aku berkata. Tapi kata-kata melebur menjadi satu hingga kehilangan bentuknya. Dalam kediamanku, pikiranku melayang. Mengutuki sikap yang tidak bisa dibenarkan.

Kepalaku terasa panas. Pikiranku terus berputar. Telah berapa jauhkan aku melangkah sehingga kehilangan bentuk sebagai manusia? Ah, terngiang kembali rapat para direksi tadi siang.

“Bila tidak bisa diajak bicara, bakar saja! Selanjutnya bisa diatur,”

Terbayang mimpi buruk yang tidak akan terampuni bila itu benar-benar terjadi. Kampung ini adalah kampung yang telah menyelamatkan hidupku, membesarkan dan menjadikan aku seperti sekarang ini. Warga  kampung  di sini  adalah saudara-saudaraku. Apakah gedung  bertingkat 100 mampu menggantikan luka hati mereka? Dan bukan itu saja. Kupertanyakan kepada anda sekalian, atas nama kampung-kampung yang lain.

Yogyakarta, 1994

Iklan

One comment on “(cerpen) Kesaksian

  1. Salam Mas Odi,

    duh…indah sekali mas Odi, realitas itu begitu getir…ah, cerpen ini ditulus dahulu sekali namun gaungnya (nafasnya) terasa menembus laju peradaban…hebat Mas juga inspiratif..Salut slalu..
    selamat terus berkarya ya Mas

    Salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: