Tinggalkan komentar

(cerpen) Kekasih

KEKASIH
Cerpen Odi Shalahuddin

“Aku benar-benar bertanya kepadamu!” katanya membentak. Suaranya teramat keras, mengguncangkan seluruh isi dadaku, mempercepat jalan darah, dan membuat tubuhku gemetar.

Aku menunduk. Mencoba menyembunyikan wajah merahku. Keringat telah membasahi tubuhku dengan deras. Resah. Teramat resah. Aku yakin ia mengetahuinya.

Bagai seorang tersangka tengah diinterogasi jadinya. Aku mencoba mengelak, tapi tak bisa. Telah berulang kali aku lari, menghindari pertemuan, namun ia terus membututi kemana aku pergi. Ia tahu segalanya. Ia tahu kapan ia harus hadir. Karena  serba tahunya itulah yang membuatku jengkel. Ia selalu hadir ketika aku tidak siap untuk ditemuinya.

“Benarkah kau mencintaiku?” tanyanya tiba-tiba dengan suara lembut mendesak.

Aku diam.

“Tak bisakah kau keluarkan kata-katamu seperti biasa kau lakukan pada hari-harimu?” kata-katanya teramat menohok, “ayo, bicaralah.”

“Ya,” jawabku lirih.

“Tidak bisakah kau bicara dengan tegas?”

“Ya,”

“Hm, kurang keras,”

“Ya!” suaraku dengan nada tinggi.

“Suaramu lahir dari kejengkelan,”

Dan iapun lalu diam. Sepi. Inilah yang membuatku nyaman. Tidak terkejar oleh pertanyaan yang mencecar berupa gugatan. Atau omong kosongnya yang bagiku teramat bodoh untuk didengarkan pada dunia gila ini. Mengapa ia tak pernah mengerti. Zaman telah berubah dengan  cepat. Hidup adalah pertarungan. Siapa cepat, siapa kuat, ialah pemenangnya. Tak perduli jalannya. Rencana-rencana pertarungan yang kupersiapkan dengan rapi, telah diobrak-abriknya. Membuatku terpuruk tanpa daya. Kutahu ia mengerti. Kutahu ia merasakan kebencianku. Tapi senyumnya selalu hadir. Seolah mencelaku. Seolah meneriakkan kemenangannya.

“Hei, ayo, jawab!” teriaknya lantang menggetarkan dinding-dinding hati.

“A-a-apa?” jawabku dengan gugup.

“Kau selalu tidak pernah punya perhatian,” keluhnya

“Apa yang kau tanya?” tanyaku hati-hati.

Mbuh,”

Hening lagi.

Dalam keheningan kali ini, isi kepala bergerak. Percikan-percikan yang membentuk kesatuan isi lantas mendesak isi yang lainnya untuk ke pinggiran. Kemenangan yang teramat mudah, lantas isi itupun bergerak, menembus ruang, dan terciptalah realitas bayangan. Impian.

“Kamu memang tidak pernah memperdulikanku!” bentaknya penuh amarah membuyarkan bayang-bayang di kepalaku.

“Kenapa?”

“Kau tidak mendengar omonganku!”

“Yang mana?” nada suaraku memperlihatkan kejengkelan.

“Beberapa kali aku mengulang pertanyaanku. Tapi kau diam saja.  Kau hanyut dalam bayang-bayangmu,” katanya, lalu diam sejenak. Setelah itu ia berbicara panjang lebar. Seperti biasanya.  Kata-kata yang mengalir penuh dengan kata-kata suci dan kebenaran yang tak terbantahkan sebagai manusia. Hati kecilku mampu untuk menerimanya. Tapi kepalaku? Ah, kata-kata yang seharusnya muncul ribuan tahun yang lalu.

Pada saat ini, aku tak mampu untuk mendengarkan dengan seksama. Ada pemberontakan. Pemberontakan yang sesungguhnya selalu ada setiap  ia muncul. Tapi kali ini, api telah membakar seluruh isi dalam tubuhku. Panas. Teramat menyiksa!

“Hentikanlah omong kosongmu!” teriakku memotong pembicaraannya. Dalam kesadaranku, aku rasakan keterkejutanku. Baru kali ini terlontar keberanian untuk menentangnya secara terbuka. Biasanya hanya di kepala.

Kulihat Iapun sangat terkejut. Wajahnya melongo. Wajahnya memucat. Dan terpaku dalam kediaman yang amat sangat. Pasti ia tak pernah menyangka akan terlontar kata-kata penentangan dari mulutku. Selama ini aku selalu mendengar dan menuruti kata-katanya. Betapapun kurasakan itu telah menjauhkan dari impian-impianku.

Ia mencoba untuk bicara. Bibirnya bergerak, tapi tiada satu patah katapun terlontar. Keadaannya menjadi sangat lucu. Perlahan-lahan kunikmati tontonan yang bagiku sangat menarik. Menarik karena baru kali inilah kulihat wajahnya dalam wajah lain. Bukan wajah anggun, bukan wajah wibawa. Kurasakan ada kegembiraan di hatiku.  Sorak-sorai di dada, merayakan kemenangan pertama. Ah, ternyata mudah untuk menjatuhkannya dalam situasi kering. Mengapa tidak dari dulu-dulu kucoba. Setidak-tidaknya Ia tidak menjadi batu sandungan atau tembok kokoh untuk mewujudkan rencana-rencanaku. Kukira beberapa rencana bahkan telah dapat terlaksana.

Tumbuh keyakinan dalam diriku bahwa sesungguhnya aku mempunyai kemampuan untuk mendebatnya, menghentikan ocehannya atau tidak menghiraukannya sama sekali. Keyakinan dan keberanian adalah pisau tajam yang siap menyayat. Tinggal memastikan sasarannya saja.

“Kau….” terdengar suaranya yang menggantung.

Aku tersenyum. Sinis. Kulihat matanya mulai membayang. Basah. Aku merasa berada di atas angin.

“Aku mencintaimu. Sungguh, aku mencintaimu. Tapi mengapa kita tidak pernah bisa satu kata? Kita senantiasa bertolak belakang. Dan kau tidak pernah mau berkompromi. Aku selalu mengalah. Mentaati kata-katamu. Akibatnya, tidak pernah ada perubahan  berarti dalam  hidupku. Sebagai manusia wajar Aku  punya  impian-impian. Punya keinginan untuk mewujudkan impian itu. Tetapi kau selalu tidak pernah mau perduli,” kata-kataku mengalir meluapkan beban tertahan.

Ia diam. Memandang lekat kepadaku dengan sorot mata aneh. “Lantas, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanyanya pelan.

“Melaksanakan rencana yang tadi coba kau gugurkan,”

“kupinta jangan,” mohonnya cepat.

“Sekali ini saja kuharap kau mau mengerti,”

“Tidak! Sekali kau jalankan, kau akan melalui jalan yang sama sekali tak terduga. Kau akan kehilangan arah,”

Aku diam sesaat. Pikiran lain kutepiskan. Aku harus memantapkan keyakinan. Aku tidak ingin terbujuk lagi olehnya. Sekali ini saja. Ya hanya sekali saja. Aku harus membuka catatan baru dalam perjalanan hidupku. Biar mata semua orang terbuka bahwa aku bukanlah si lemah tanpa daya. Aku sudah terlanjur muak dengan kehidupanku, kehidupan keluargaku, kehidupan  tetangga-tetanggaku yang tak pernah bisa lepas dari kemiskinan, yang selalu dikalahkan, yang selalu divonis bahwa kami adalah pemalas-pemalas yang mengkotori dunia. Tidak! Kami adalah pekerja keras. Tenaga kami telah digunakan secara maksimal sepanjang hari  namun perubahan tak  kunjung datang. Ada yang salah dalam mata rantai kehidupan. Kami  adalah warga sah dari kehidupan ini. Dan aku, aku berniat menjarah  kekayaan kehidupan yang telah dikuasai oleh segelintir orang. Terlampau lama aku berencana meninggalkan kemiskinan terkutuk yang menggoreskan luka-luka dalam perjalanan. Aku hanya akan menjarah sebagian, tidak menguras habis. Kalau mereka merasa mengalami siksaan karena kepemilikannya berkurang setidaknya mereka dapat belajar hidup cukup. Bukan berkelimpahan.

“Aku, harus!” kataku mantap.

“Jangan!” teriaknya keras.

Tapi aku sudah tidak perduli lagi.

“Jangan kau lakukan itu! Bila kau masih mencintaiku, dengarkan aku. Letakkan pistol di balik pakaianmu di atas meja!”

Aku diam. Terpaku. Semudah itukah? Tidak! Aku tidak akan meletakkannya. Senjata yang ada di balik pakaianku adalah pistol sewaan. Aku harus cepat menggunakannya. Setiap penundaan adalah bertambahnya beban sewa. Dan yang paling mengerikan adalah beban di kepalaku!

“Dengarlah kataku. Kumohon jangan kau lakukan,”

Aku mengeluarkan pistol itu namun tidak meletakkannya di atas meja. Aku justru asyik mempermainkan pistol itu. Beberapa gaya menembak yang kulihat di film-film kuperagakan. Ada kekuatan baru menyelusup. Aku merasa besar. Kunikmati.

Beberapa butir peluru kumasukkan. Sisanya aku kantongi untuk persiapan nanti. Keinginanku, janganlah sampai peluru meledak nantinya. Berarti, jangan pula sang korban melakukan tindakan yang membahayakan langkahku.

“Jangan kau lakukan,” teriaknya keras berulang-ulang, “Jangan berlaku bodoh! Tidak akan kau dapatkan apa yang kau harapkan. Kau justru akan terperosok pada dunia kelam. Hari-harimu akan  ternodai. Kau tidak akan berbeda dengan orang-orang yang selama ini kau hujat. Kau akan sama bejatnya. Jangan kau gunakan pembenaran-pembenaran untuk membenarkan tindakanmu!”

Nasehat-nasehatnya mengalir bagai gelombang yang mengombang-ambingkan perahu nelayan. Aku merasa terganggu. Aku menjadi resah. Takut. Dada dan kepalaku menjadi tidak karuan geraknya.

“Diam kau!” bentakku sambil menodongkan pistol kepadanya. Aku harus menggunakan ancaman ini untuk menghentikan ocehannya. Bila keadaan memaksa bukan tidak mungkin aku harus bertindak tegas.

Ia tersenyum  sinis. “Kau mengancamku? Kau mau membunuhku? Silahkan,” tantangnya  sambil membusungkan dada dengan tenang, “Jangan mengaku lagi dirimu manusia.”

Pistol  telah terkokang siap diledakkan. Hanya menggerakkan jariku saja ia akan mati. Kematiannya akan memberiku kebebasan.

“Ayo, tembaklah!.”

Aku diam. Pergolakan di dada. Pergolakan di kepala, menghebat. Tiba-tiba tanganku terkulai lemah. Aku tak mampu  melakukannya.  Ia adalah nurani. Lekat dalam diri. Kekasihku. Kekasih sejati. Membunuhnya  berarti…bunuh diri!

Yogyakarta, 1994

_____________________

Sumber gambar dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: