Tinggalkan komentar

Perjalanan Malam: Kenangan Bersama Anak Jalanan Semarang #5

Oleh  :  Odi Shalahuddin

Di tengah keremangan pergantian hari. Malam kepulangan sudah memasuki hari Jum’at. Jum’at pahing. Aku duduk dekat jendela. Memang tidak bisa melihat pemandangan di luar. Tidak mengetahui bagaimana wajah Gunung Ungaran kala malam.  Bus melaju kencang. Di beberapa tempat biasa orang menunggu bus, sang sopir akan memelankan lajunya.

”Solo, solo, solo” teriakan sang kernet.

Tidak banyak penumpang dalam bus ini. Artinya tidak ada yang berdiri. Biasanya, bus jurusan Solo, selalu penuh sesak. Orang-orang bergelantungan, menahan kantuk, menahan rasa pegal. Kini aku kira semua penumpang bisa menikmati perjalanan. Melelapkan dirinya.

Aku mencoba memejamkan mata. Masih saja lintasan kenangan tahun 90-an masih bermain dalam kepala.

Kekerasan. Itulah persoalan yang paling menonjol. Kekerasan terhadap anak jalanan! Kehadiran anak-anak jalanan terasa begitu mengejutkan Warga semarang juga pemerintah kota. Ini lantaran anak-anak hadir. Di ruang publik. Di tempat bersejarah. Di tempat pusat pemerintahan berlangsung. Landmark kota Semarang tercemar.

Hampir setiap hari ada kasus kekerasan yang dialami oleh anak jalanan di Taman Tugu Muda. Dengan pelaku yang beragam. Dari aparat, preman, komunitas dewasa, pengendara, dan sebagainya. Intensitas kekerasan terlihat tinggi sekitar bulan November-Desember 1996. Bersamaan dengan proses renovasi eks Gedung APDN yang akan diperuntukkan bagi rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah.

Beberapa anak melaporkan ada pengendara motor yang tampak sengaja menabrak anak-anak yang tengah mengamen. Banyak orang-orang berkeliaran kala malam mengintimidasi anak-anak. Razia-razia sarat dengan nuansa kekerasan terhadap mereka kerap terjadi.

Banyak anak-anak yang menghindarkan diri dari Taman Tugu Muda, membentuk lokasi-lokasi mangkal baru. Seiring dengan itu, anak-anak dari stasiun Poncol juga mulai keluar dari stasiun dan mencari tempat mangkal di dalam kota. Sasarannya adalah traffick light-traffick light. Ya, pada periode itulah, ketika upaya menghentikan laju anak jalanan yang mulai mengisi ruang publik, justru pada saat itu pula terjadi persebaran dengan lahirnya lokasi-lokasi mangkal baru.

Pada saat itu, aku masih rajin mencatat kasus-kasus kekerasan yang terjadi, sehingga di akhir tahun 1996 bisa menyusun informasi mengenai kasus-kasus kekerasan berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Bahan itu disebarkan ke masyarakat luas dalam perayaan tahun baru oleh Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) dengan menggunakan aula sebuah sekolah dekat Taman Tugu Muda.

Tingginya kekerasan di jalanan, juga diikuti dengan adanya upaya-upaya dari beberapa orang untuk menggalang penolakan warga kampung terhadap keberadaan anak jalanan. Ini membuat para pendamping sedikit pusing, harus berpikir keras dan bersungguh-sungguh untuk melakukan upaya pengamanan. Beberapa orang ditugaskan untuk meningkatkan intensitas komunikasi dengan aparat dan tokoh-tokoh masyarakat untuk share tentang berbagai kegiatan yang dilakukan. Seabgian lagi mulai menggalang relawan dengan menghubungi beberapa organisasi mahasiswa. Tidak ketinggalan pula membangun kontak dengan para jurnalis. Beruntung, ini bisa berjalan baik.

Beberapa pengurus organisasi mahasiswa khususnya dari PMII, GMNI dan PMKRI menurunkan beberapa anggotanya untuk terlibat membantu kegiatan anak jalanan.  Ini juga memudahkan perekrutan mahasiswa dan relawan lain yang tidak bergabung dalam organisasi kemahasiswaan. Mereka bisa saling berinteraksi dan saling mendukung. Beberapa yang aktif membantu, sekedar menyebutkan beberapa nama dari banyak nama yang telah terlibat, seperti Abdul Kadir Kording  (sekarang Ketua Komisi VIII DPR RI), Agung ”Ompong” yang pada pemilu lalu menjadi anggota Pengawas Pemilu Propinsi Jawa Tengah, Dian Indraswari (pernah aktif di ICW, ELSAM, dan entah sekarang aktif di mana), Bung Paul yang sekarang menjadi anggota KPU di Kabupaten Kebumen.

Beberapa jurnalis juga intens memberikan dukungan baik melalui penulisan-penulisan yang melihat dari sisi positif anak jalanan, memberikan rekomendasi untuk berhubungan dengan banyak pihak, menggalang bantuan berupa dana atau barang-barang atau kebutuhan lain bagi anak jalanan, memberikan kesempatan kepada beberapa anak jalanan untuk magang kerja. Komunikasi dengan kawan-kawan Jurnalis lebih banyak dilakukan oleh rekan Winarso. Sekedar menyebutkan nama, beberapa yang aktif memberikan dukungan yaitu Fikri Jukri,  Timus Sinar Suprabana (penyair dan penulis lepas),  Ganug Nugroho (Suara Merdeka, kini di Indosiar),  Adhi Prasetio (Suara Merdeka, kalau tidak salah sekarang di Kompas) Diah Herawati (Suara Merdeka, entah sekarang dimana), Didi (RCTI),  dan seorang wartawan Suara Karya yang sungguh saya lupa namanya. Selain itu, ada himpunan Jurnalis yang berhimpun dalam Yayasan Duta Awam, melakukan penelitian dengan melibatkan anak-anak jalanan sebagai enumeratornya. Ini tentu menjadi pengalaman menarik. Melalui merekalah, Ibu Walikota bisa didatangkan ke rumah PAJS. Kehadiran ibu Walikota membuat tingkat kekerasan di jalanan dan keriuhan untuk mengusir anak-anak jalanan dari kampung menjadi sangat berkurang.

Terima kasih tentulah patut diucapkan kepada mereka yang telah meluangkan waktunya untuk melihat dengan cara pandang yang berbeda terhadap anak jalanan dan membuka ruang bagi lahirnya ekspresi dan kreativitas anak jalanan.

Berbagai kegiatan PAJS sangat banyak menempati pemberitaan media. Dukungan-dukungan dari masyarakat sudah mulai tampak. Pada artikel dan surat pembaca misalnya, mereka mulai menyoroti kekerasan terhadap anak jalanan yang selayaknya tidak perlu dilakukan karena anak jalanan juga manusia. Anak jalanan adalah anak-anak kita.

Tanpa terasa, kantuk yang menyerang tak bisa tertahan. Tertidurlah aku dalam perjalanan. Sesekali terbangun dan melihat sudah sampai mana perjalanan ini.  Menjelang Kartosuro, kernet berulang kali berteriak menyebutkan nama dan mengingatkan para penumpang yang hendak turun agar bersiap-siap. Ah… Waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih.

Yogya. 15.01.11

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: