Tinggalkan komentar

Perjalanan Malam: Kenangan Bersama Anak Jalanan Semarang #4

Oleh  :  Odi Shalahuddin

Menunggu memang menjemukan. Bagaimana perasaan orang yang menunggu tanpa kepastian, kukira dirimu tentulah pernah mengalaminya. Jadi tak perlulah aku curhat padamu tentang kejenuhan ini.

Bus-bus yang lewat, adalah bus dari Jakarta atau dari Sumatra menuju kota Solo. Mereka tentunya tak mau berhenti di Sukun walau melihat banyak calon penumpang. Sudah 30-an orang kurasa. Bus jurusan Purwokerto, sudah beberapa yang mangkal di sini. Biasanya, bus Semarang-Solo jarak antara satu dengan yang lainnya tidaklah lama. Tapi, 20 menit berlalu, masih belum ada yang lewat. Bus jurusan Jogja? Ah, itu baru jam empat pagi nanti. Apalagi jalan di Muntilan, apakah sudah bisa digunakan atau belum, aku tidak lagi mengikuti beritanya.

Tapi enaknya sekarang, ada fasilitas yang dimiliki hampir semua orang. Fasilitas yang dulu merupakan barang mewah. HP… Ya, akhirnya kubuka HP. Memmbuka web, mengklik kompasiana. Terbatas memang, tapi setidaknya mengurangi kejenuhan menunggu. Ini juga membosankan. Aku tidak terbiasa membaca panjang lewat HP. Mataku sudah tak kuat dan sulit membaca huruf-huruf dengan font yang kecil.  Segera kuhentikan. Memasukkan HP dalam saku jaket.

Angin malam masih saja menari-nari dengan bebas. Berlompatan diterjang truk-truk dan bus malam yang melaju kencang walau telah keluar dari jalan tol. Anginnya membawa dingin. Ini tidak biasa. Pengalamanku di Semarang, semalam apapun, biasanya hawa kota ini sangatlah panas dan menggerahkan. Ah, perubahan musim yang tak bisa ditebak, mungkin juga membawa perubahan di sini.

Di sebrang jalan ada warung angkringan. Hendak menikmati minuman panas, tapi aku meragu. Bila ke sana dan bus yang ditunggu lewat, maka setidaknya paling cepat 30 menit lagi baru menyusul bus berikutnya.

Di saat menunggu, kembali aku melanjutkan kenangan dalam jejak perjalanan bersama kehidupan anak jalanan yang pernah aku lewati secara intensif pada periode 1996-2001. Setelahnya, masih berhubungan walau tidak secara rutin datang ke Semarang.

Masih Taman Tugu Muda yang lekat dalam ingatan malam ini. Banyak kenangan tertoreh dengan anak-anak jalanan yang pernah mangkal di tempat ini. Kenangan kala senang maupun kala susah. Perjuangan panjang untuk melakukan perubahan secara bersama dengan berbagai dinamika yang getir, menggetarkan dan bisa pula mengerikan.

Seperti telah kuceritakan pada tulisan sebelumnya, kami telah memiliki rumah di sebuah perkampungan. Letaknya di pojok sendiri, sehingga ketika ingin masuk, harus melewati rumah-rumah penduduk. Perhitungan diriku dengan Winarso (kelak akan kutulis tentang dirinya), bila berada di kampung, setidaknya anak-anak akan dipaksa untuk beradaptasi dan bila bisa melekat, akan memudahkan mencari jalan agar bisa keluar dari dunia jalanan.

Di wajahku terbayang beberapa sosok anak-anak yang pada masa itu berada di Taman Tugu Muda. Ada Didit dan Budi, dua bersaudara. Tapi Budi lebih banyak melakukan kegiatan ke berbagai kota di kereta. Ada Kamiin yang berkulit hitam dengan rambut merahnya bukan karena di cat, tapi merah oleh sengatan matahari. Budi Boja, Surrahman, Ari, Agus, Wawan, Pithy, cemplon, Eko, Nurrohman, Dwi Bawen, dan sebagainya. Lantas sosok-sosok anak perempuan seperti Tina, Yuli, Watik, Khasanah, Umi, Siti, Ninik, Ayu, Reni, Atit, Pika, Murni, Ikhsan, Maria, dan, ah masih banyak lagi.

Tentunya mereka telah menjadi orang dewasa sekarang. Sebagian sudah berkeluarga dan memiliki beberapa anak. Ada yang masih bertahan di jalanan dan menurun kepada anak-anaknya, ada pula yang sudah memiliki pekerjaan di luar jalanan. Sebagian anak lelaki sudah ada yang tewas menjadi korban kehidupan jalanan yang ganas.   Sebagian anak perempuan pernah menjadi korban perdagangan anak, berada dalam prostitusi, atau sekarang berkembang menjadi germo.

Pada tahun 1996-1997, kurasa tidak ada penguasaan-penguasaan wilayah oleh komunitas jalanan. Seluruh anak jalanan dapat berpindah-pindah tempat tanpa melahirkan keributan.

Sebagian besar anak jalanan di Semarang, keyakinanku pernah singgah di rumah kami. Baik diajak oleh kawannya hanya sekedar mampir, sesekali bermalam, atau mengikuti kegiatan-kegiatan atau bahkan pernah tinggal untuk beberapa lama. Anak-anak yang berasal dari Semarang, apalagi yang masih tinggal bersama orangtua/keluarganya, sangat dilarang keras bermalam di rumah ini, kecuali pada malam liburan dan seijin orangtua/keluarga mereka.

Suatu hari, aku dikejutkan oleh adanya anak perempuan yang bermalam di rumah ini. Bersama Winarso dan anggota dewasa yang berperan sebagai pendamping, hal ini didiskusikan dengan serius. Berdasarkan kasus ini, baru terungkap banyak anak-anak jalanan perempuan yang tinggal di jalanan. Selama ini, yang banyak bersinggungan adalah anak-anak jalanan perempuan yang masih tinggal bersama keluarga mereka.

Membiarkan anak perempuan untuk tinggal di rumah tentu bisa membahayakan keberadaan rumah anak jalanan. Selama ini, telah terjadi perdebatan di masyarakat sendiri . Ada yang sama sekali tidak setuju dan berusaha mempengaruhi masyarakat untuk menolak keberadaan anak-anak jalanan di kampung mereka, namun beruntungnya ada pula yang melakukan pembelaan. Beruntung pula, ada diantara kami yang aktif mengikuti pertemuan-pertemuan kampung sehingga bisa langsung menjelaskan tentang tujuan dan  kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Tentu juga menjelaskan tentang latar belakang kehidupan anak-anak tersebut.

Ada beberapa alternatif yang lahir. Membiarkan dulu sambil mencari tempat yang dimungkinkan bagi anak perempuan, memberi tempat di Gedung Lawang Sewu dan meminta anak-anak yang tinggal di sana untuk turut menjaga anak perempuan itu. Alternatid yang dipilih adalah yang pertama. Untuk ini, rekan Winarso akan memberitahu dan meminta ijin adanya anak perempuan untuk tinggal sementara.

Beberapa hari kemudian, ada kabar, salah seorang ibu dari anak jalanan menyatakan kesediaannya agar rumahnya ditempati oleh anak-anak jalanan perempuan. Ibu ini, yang memiliki tiga orang anak dan juga melakukan kegiatan di jalanan, kami kenal sebagai ibu yang aktif membantu anak-anak. Ia senantiasa hadir dan terlibat membantu ketika kami memiliki kegiatan. Ia tak segan berjalan kaki berkilometer ketika mengetahui ada seorang anak jalanan yang sakit di satu tempat atau tengah membutuhkan pertolongan.   Ia dikenal dengan panggilan Bu Prapto. Nama suaminya. Nama aslinya sendiri adalah Sri Hartati. Tinggal di lereng bukit dekat Taman Tugu Muda, Kampung Gunung Brintik, bersebelahan dengan pemakaman Borgota. Ialah kelak dikenal sebagai ibu anak jalanan yang tidak hanya dikenal oleh anak-anak jalanan semarang saja tetapi juga anak-anak dari berbagai kota yang pernah singgah, bermalam dan merasakan keramahan dan ketulusan seorang ibu yang membawa pada kedamaian jiwa. Ah, semoga aku bisa menuliskan tentang profil Bu Prapto di Kompasiana ini.

Begitulah, masalah teratasi. Dua anak perempuan yang tinggal di rumah, bisa mendapat tempat yang lebih baik. Tapi dari sini, kemudian kami sepakat untuk mencermati keberadaan anak-anak jalanan perempuan yang tinggal di jalanan. Seluruh anak dikerahkan untuk memantau dan memberikan informasi ini.

“Solo, Solo, Solo….. Ya, yang ke Solo…” teriakan dari seorang timer membuyarkan lamunanku.  Semua segera bergegas berdiri. Sebuah bus terlihat di tikungan, berjalan perlahan dan berhenti di tempat kami menunggu. Segera aku berlari, tidak mau kalah dengan calon penumpang lain guna mendapatkan kursi. Lha, kursi bus saja bisa melahirkan keributan, apalagi kursi di DPR sana ya.

Beruntung, bus tidak terlalu penuh, sehingga ketika puluhan penumpang masuk, masih tertampung di kursi-kursi yang tersedia. Huh. Aku melepaskan tas-ku, meletakkan di antara kedua kakiku. Tubuhku bersandar, memandang ke luar, bus-bus dan truk-truk angkutan barang yang masih saja banyak melintas.

Bus bergerak menuju Solo. Aku nanti akan turun di Kartosura, berpindah bus menuju Yogya.

Yogyakarta. 15.01.11

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: