Tinggalkan komentar

Perjalanan Malam: Kenangan Bersama Anak Jalanan Semarang #3

Taman Tugu Muda

Oleh  :  Odi Shalahuddin

Enaknya di Semarang, angkutan bisa dikatakan 24 jam terus beroperasi. Walau pada tengah malam tidak padat, tapi tetaplah ada. Angkutan yang aku tumpangi berisi 10 penumpang. Sebagian besar akan turun di Sukun atau Banyumanik. Mereka tentunya akan bepergian ke luar Semarang.

Udara dingin mencoba mencari celah menyapa tubuhku, melewati sela-sela jaket. Angin yang berhembus kencang berulang kali menampar-nampar wajah. Dingin.

Dingin. Ya, dingin sekali. Teringat kembali, ketika menghabiskan malam di Taman Tugu Muda. Selepas pukul 21.00, biasanya Taman ini mulai sepi. Anak-anak jalanan telah bergegas untuk kembali ke rumah masing-masing.

Pada saat pergantian hari, memang terasa sunyi. Sesekali kendaraan bermotor melintas. Di Taman itu, anak-anak yang berasal dari luar kota atau yang kabur dari rumahnya telah menyebar. Mencari tempat-tempat yang nyaman bagi mereka untuk beristirahat. Ada yang sudah berbaring di rerumputan, atau di pagar-pagar pembatas rimbun pepohonan. Ada pula yang masih ngobrol dengan rekannya, sambil memainkan kentrung, atau ada pula yang mencuci pakaian, yang kemudian akan dikeringkan melalui lampu-lampu sokle. Sebelum matahari menyengatkan panasnya,  pakaian harus sudah dientaskan agar tidak terlihat orang-orang yang lalu lalang.

1996. Ah, sudah lama sekali. Tapi tampak baru saja berlalu. Menjelang akhir tahun 1996, seputar Taman ini telah menjadi salah satu lokasi mangkal anak jalanan terbesar di Semarang. Tempat untuk pertama kalinya, anak-anak hadir di perempatan jalan,  di traffick-traffick light, mengetuk pintu hati para pengendara, dengan nyanyian-nyanyian yang tak tuntas sebagai  satu lagu.  Tapi bisa menghasilkan uang yang lebih besar dalam waktu singkat dibandingkan mengamen dalam bus-bus kota.

Taman ini, terletak di tempat strategis. Berbentuk lingkaran, berada di tengah jalan utama, bersimpang lima. Ke arah utara adalah jalan pemuda, merupakan jalan yang menjadi pusat pemerintahan kota Semarang. Ke arah Timur adalah jalan Pandanaran yang akan membawa kita menuju Simpang Lima yang menjadi landscape kota Semarang. Ke arah barat, adalah Jln. Soegijopranoto, jalan yang bisa kita lewati bila hendak menuju Bandara, Krapyak atau menuju ke Jakarta. Ke arah Barat Laut ada jalan Imam Bonjol, bila kita terus menyusuri jalan ini akan menuju Stasiun Poncol, stasiun untuk kereta-kereta kelas ekonomi. Sedangkan bagian selatan adalah Jln. Dr. Soetomo. Ke arah inilah bila kita hendak ke RSU Karyadi.

Di seputar Taman Tugu Muda banyak pula gedung-gedung bersejarah. Diantara jalan Imam Bonjol dan Jalan Pemuda ada sebuah bangunan yang kini menjadi kantor pemerintahan Kota Semarang. Pada tahun 90-an, gedung tersebut merupakan kantor Bank BDNI. Tepat di Barat Taman, ada Wisma Perdamaian yang menjadi rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah. Di sebelah Timur ada Gedung Lawang Sewu (pintu seribu) karena banyaknya pintu di gedung tersebut. Gedung yang beberapa kali menjadi tempat shooting untuk acara semacam “dunia lain”. Di bagian Barat Daya Taman, ada musem Manggala. Dan di bagian selatan ada Gereja Katedral.

Tugu Muda sendiri merupakan tugu yang dibangun untuk mengenang sejarah heroik yang dikenal dengan peristiwa ” Pertempuran Lima Hari di Semarang” . Pertempuran yang berlangsung pada tanggal 14-19 Oktober 1945  ini dipimpin oleh Gubernur Jawa Tengah untuk melawan batalyon Jepang pimpinan Mayor Kido. Sekitar 2,000 rakyat Semarang gugur dalam pertempuran tersebut.  Tugu Muda diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953.

Aku masih ingat, menjelang akhir tahun 1996, ketika gedung Eks APDN mengalami renovasi dan akan diperuntukkan bagi Rumah Dinas Gubernur Jateng, Taman Tugu Muda juga ditata. Pohon-pohon rimbun ditebas sehingga segenap pandang bisa melihat seluruh ruang dalam Taman. Lampu-lampu diperbaiki sehingga Tugu Muda bisa terlihat gagah di malam hari.

Anak jalanan yang mulai marak dan menjadikan tempat tersebut sebagai tempat peristirahatan, sebagai tempat kegiatan mendapatkan uang, dan sebagai tempat untuk bermalam,  turut ditata pula dengan riuhnya razia-razia di seputaran Taman Tugu Muda.

Dasar Anak Jalanan. Mereka memang kreatif untuk membuka ruang-ruang. Emperan gedung Lawang Sewu akhirnya dijadikan sasaran sebagai tempat tinggal mereka. Juga gedung-gedung kosong di sepanjang jalan Pemuda.

Ah, sudah sampai Sukun. Sudah banyak calon penumpang di sana. Ada sebuah bus mangkal. Jurusan ke Purwokerto. Aku turun, membayar ongkos yang lebih mahal dari biasanya. “Karena malam,” penjelasan dari sang sopir.

Beberapa truk terlihat parkir di sepanjang jalan ini. Melepas lelah, dan melakukan pengecekan serta perbaikan. Deretan taksi juga terlihat banyak, di kedua sisi jalan. Banyaknya calon penumpang yang berdiri, sekitar 20-an orang lebih, pastilah menunggu bus jurusan Solo. Semoga nanti bisa mendapatkan tempat duduk, bisa istirahat tidur dalam perjalanan.

Yogyakarta. 15.01.11

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: