1 Komentar

Perjalanan Malam: Kenangan Bersama Anak Jalanan Semarang #2

Oleh  :  Odi Shalahuddin

“Sudah berhenti. Benar-benar berhenti. Jalan lagi?” ajakan dari kawan yang membuyarkan lamunanku. Ya, hujan benar-benar berhenti. Tak ada sisa dari langit. Cepat sekali. Kukenakan helm. Menunggu kawan memutar motor. Naik di boncengannya. Berpamitan pada anak-anak jalanan yang masih berada di emperan toko. Kami bergerak.

Menyusuri ke utara,melintasi Stasiun Poncol. Para PSK yang biasanya banyak berada di pinggiran jalan, sudah berubah modusnya. Mereka tidak berdiri menunggu lelaki menghampiri. Tapi telah bersiap di atas motor. Hujan, mungkin menyebabkan mereka enggan untuk bersapa dengan dingin malam. Terus ke Utara, sebelum perempatan. Warung-warung pinggir jalan menjadi ruang karaoke kelas bawah. Tidak seperti barisan sebelumnya yang menempati ruko-ruko.

Beruntung jalan tidak banjir. Biasanya, tidak hujan saja banjir. Rob. Masalah yang belum terpecahkan. Janji para walikota yang sudah berganti sama sekali belum terbukti.

“Ke kiri?”

“Terus saja,”

Ke kiri adalah pasar Johar. Kami terus melewati jembatan mberok. Bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda, sudah tampak. Inilah yang disebut kota lama. Kami mengambil jalan ke kiri menyusuri pinggirannya. Terus melaju di jalan utama, sampai di stasiun Tawang.

Banyak orang berpasangan duduk di kursi beton di pinggiran folder. Tempat untuk menampung air, sebagai buangan guna mencegah banjir yang parah. Tapi tampaknya juga tidak banyak berpengaruh. Lampu-lampu terang. Tidak temaran seperti dulu. Bahkan terlihat sebuah bangunan tua dijadikan sebagai hotel. Ah, di sini banyak PSK mangkal. Bermain dalam gedung-gedung tua tanpa cahaya. Penjual minuman pun tak terlihat. Apakah lantaran hujan deras tadi?

Kami belok ke kanan, menyusuri jalan di antara bangunan-bangunan tua. Tembus hingga sampai sisi Timur pasar Johar, melewati pom bensin, belok kekiri hingga perempatan, barulah berbelok ke kanan. Jalan satu arah.

Oh, ya sebelum lupa, satu kawan perjalanan, tadi telah berpamitan. Sehingga kami menyusuri jalan hanya berdua saja.

“Aku antar sampai terminal?”

“Gak usah, di Milo sajalah. Kalau memang benar bus tidak boleh masuk kota lagi, nanti masih ada angkutan ke Banyumanik kan?”

“24 jam,”

“Amanlah,”

Suara musik berdegam dari sebuah warung tenda. Gelak tawa laki-laki perempuan membelah dingin memecah kesunyian malam.

“Oh, ini mungkin yang dibilang café jalanan dokter Cipto. Lisa biasa nongkrong di situ,”

Lisa adalah anak jalanan perempuan.

Tiba di sebuah perempatan. Ke kiri ke arah purwodadi, ke kanan pastilah berjumpa dengan Simpang Lima. Aku minta diantar sampai ujung selepas perempatan. Di sinilah biasanya orang-orang yang akan ke Yogya atau ke Solo menunggu bus.

Sepanjang perjalanan tadi, kami sama sekali tidak melihat bus. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Mungkin sudah berkurang dengan rentang waktu setengah atau satu jam.

Aku bertanya kepada salah seorang pemilik  warung.

“Wah, sudah tidak lewat sini lagi. Langsung masuk tol,” jawab ibu pemilik warung.

Wah, berari harus ke Banyumanik. Aku ucapkan terima kasih kepada kawanku. Ia pamit pulang, aku menunggu angkutan kota.

Hm, sudah lama aku tidak menggunakan perjalanan malam Semarang-Yogya atau sebaliknya. Dulu, aku selalu menggunakan waktu malam untuk perjalanan.  Istirahat tidur di bus. Pagi sudah sampai, dan bisa berkegiatan lagi.

Ingatan kembali menerawang kepada masa silam. Masa tahun-tahun awal di Semarang. Seperti kusampaikan sebelumnya, aku tinggal bersama puluhan anak jalanan di satu rumah. Di sebuah kampung,  dekat Taman Tugu Muda.

Menjadi kesepakatan, rumah itu diprioritaskan bagi anak-anak yang berasal dari luar kota saja. Bagi anak yang tempat tinggalnya di Semarang, kami semua saling mengingatkan agar bisa kembali tinggal bersama keluarganya.  Beruntung kami bisa melibatkan sekitar enam orang dari komunitas jalanan, yang pada akhirnya banyak membantu kegiatan-kegiatan kami setiap harinya. Mereka bisa mengantarkan anak-anak untuk kembali menjenguk orangtua/keluarganya dan menjadi mediator agar keluarga bisa menerima anaknya untuk tinggal di rumah keluarga. Kami membangun keyakinan bahwa jalanan bukanlah tempat yang baik. Sehingga bila ada kesempatan untuk meninggalkannya, sesama anak jalanan bisa saling memotivasi.

Komunitas anak jalanan yang paling menonjol pada saat itu adalah anak-anak yang biasa mangkal di Taman Tugu Muda. Pada awalnya, tempat ini menjadi tempat peristirahatan bagi puluhan anak jalanan  dari berbagai wilayah pad sore hingga malam.Tai kKemudian tempat ini berkembang dengan memanfaatkan traffick light untuk mendapatkan uang. Mengamen itu yang paling banyak dilakukan. Mengemis, bisa menjadi bahan ejekan bagi anak-anak jalanan lainnya. Sehingga hanya satu dua anak jalanan yang bertebal muka saja yang melakukan praktik mengemis.

Ya, pada masa-masa itu, kegiatan yang menonjol dilakukan oleh anak jalanan Semarang adalah mengamen, pedagang asongan, dan pemayeng (mengumpulkan bumbu, buah atau sayuran yang rusak atau terjatuh ketika bongkar muat) di pasar-pasar.  Mengamen-pun ada tingkatannya. Bagi pemula, biasanya hanya mengamen ketika bus berhenti. Biasanya mereka menggunakan icik-icik. Tingkat lebih lanjut adalah menggunakan kentrung atau gitar. Mereka biasa menyanyikan tiga-lima lagu dalam perjalanan.

Sebagai tempat peristirahatan, awalnya dimulai oleh anak jalanan perempuan  sekitar tahun 1995. Mereka beristirahat sebelum pulang ke rumahnya. Biasanya sudah berdatangan anak jalanan pada pukul 16.00 dan kembali kosong sekitar pukul 21.00. Namun di tahun 1996, dimulai oleh seseorang yang iseng mengamen di traffick light, ternyata hasilnya bisa lebih banyak dibandingkan mereka mengamen di bus kota. Aksi iseng ini kemudian menjalar dan terciptalah untuk pertama kalinya perempatan jalan di Semarang menjadi tempat kegiatan anak jalanan mencari uang. Memang lebih lambat dibandingkan kota-kota lain yang perempatan jalannya sudah menjadi tempat mangkal anak jalanan.

Berawal dari sini, mulai ada anak-anak yang menggunakan Taman Tugu Muda sebagai tempat tinggalnya. Mereka menyembunyikan barang-barang seperti pakaian di sela pepohonan yang rimbun pada masa itu, dan juga menggunakan ruang-ruang yang terlindungi oleh pepohonan untuk tidur. Dari jalan, tida akan tampak ada orang.

Oh, angkutan sudah datang. Tertunda lagi kenangan. Aku naik angkot warna merah jurusan Johar – Banyumanik. Waktu hampir jam 12 malam. Aku akan berhenti di Sukun, tempat pintu keluar dari jalan tol.

Yogyakarta, 14 Januari 2011

 

One comment on “Perjalanan Malam: Kenangan Bersama Anak Jalanan Semarang #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: