8 Komentar

Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #7

Oleh  :  Odi Shalahuddin

Kadang Menyesal, Tapi Bagaimana Lagi…

Pada kesempatan lain, akhirnya aku bisa bertemu dengan anak-anak jalanan perempuan yang telah bekerja di teh poci di seputaran Simpang Lima dan jalan Pandanaran. Ah, mereka memang ada.

”Ya, gimana lagi, Mas. Diajak Pak B, katanya daripada gratisan, lebih baik ikut dia, bisa dapat duit,” seorang anak yang biasa tinggal di sebuah bekas gedung bioskop (sekarang sudah menjadi rumah makan mewah) memberikan alasan.

Beberapa anak yang dijumpai menyatakan hal yang hampir senada. Aku terhenyak. Ya, anak-anak jalanan perempuan memang mudah untuk dijerumuskan. Salah satu faktornya adalah berkembangnya nilai-nilai seks bebas dan berganti-ganti pasangan di komunitas mereka. Pada saat prostitusi jalanan berkembang, mereka bisa melihat betapa mudahnya mencari uang dengan kegiatan yang sesungguhnya biasa mereka lakukan.

Tidaklah mengherankan apabila kemudian jumlah anak-anak (berumur di bawah 18 tahun) mendominasi prostitusi jalanan. Kompas dalam laporannya mengenai prostitusi jalanan memperkirakan ada sekitar 240-260 PSK yang berada di kawasan Simpang Lima dan Jalan Pemuda. Dari jumlah tersebut 80% adalah anak-anak (Kompas, 9 Juli 2001). Besarnya jumlah anak-anak yang dilacurkan dibandingkan orang dewasa juga dikemukakan dalam kajian cepat yang dilakukan IPEC-ILO di Semarang (2004). Studi ini menyatakan 70% PSK yang beroperasi di jalanan adalah anak-anak. Lokasi lain di mana keberadaan anak juga menonjol yang ditunjukkan dalam studi tersebut adalah di cafe-cafe yang mencapai 50%. Secara keseluruhan, diperkirakan ada 2.237 PSK di Semarang dan hampir separo dari mereka atau 975 (43,6%) adalah anak-anak yang dilacurkan.

Pada masa-masa terakhir keberadaan warung teh poci, Urbansky (2006) mengidentifikasikan satu kelompok yang dikenal sebagai pasukan ”anjelo” yang merupakan kependekan dari ”antar jemput lonthe”.  Pasukan Anjelo ini bekerja sebagai tim ojek khusus bagi para anak yang dilacurkan dan para PSK di kawasan Simpang Lima. Untuk kedua pelayanan tersebut, pekerja Pasukan Anjelo dibayar Rp. 20,000 sekali ojek. Pasukan ini memiliki dua fungsi, yaitu Pasukan Anjelo berfungsi dua. Yang pertama, mereka mengantar ciblek ke hotel untuk berhubungan seksual dengan konsumennya. Kemudian sesudah hubungan seksual dilakukan, ciblek akan dijemput dan diturunkan di bundaran Simpang Lima, atau Jalan Pandanaran agar bisa mencari konsumen lain. Fungsi kedua adalah melarikan ciblekdari kawasan Simpang Lima kalau Satpol PP atau polisi lain sedang beroperasi

Penutupan dua lokalisasi diSemarang(sebagaimana terjadi pula di hampir seluruh wilayah diIndonesia) bisa dikatakan tidak berjalan efektif untuk menghentikan praktek prostitusi. Setelah penutupan, para PSK berhamburan memenuhi jalan-jalan utama yang merupakan ruang public sehingga kehadiran mereka terlihat sangat menonjol dan berpengaruh buruk untuk menarik orang-orang lain untuk terlibat dalam prostitusi.

Ketika prostitusi jalanan masih merebak, dua lokalisasi diSemarangaktif kembali menjadi lokasi praktek prostitusi kendati tidak ada pengaturan secara legal atau dengan kata lain bersifat ilegal. Hal yang mengejutkan, jumlah mereka justru lebih besar dibandingkan sebelum penutupan. Seorang pekerja sosial yang bekerja di Sunan Kuning mengungkapkan berdasarkan data yang mereka miliki, terjadi peningkatan jumlah germo dan PSK. Sebelum penutupan di Sunan Kuning ada 147 germo dan 350 PSK. Setelah ditutup, jumlah mereka justru meningkat menjadi 150 germo dan 509 PSK (Solopos, 19 Juli 1999)

Berlangsungnya praktek prostitusi di lokalisasi secara ilegal dan dengan demikian tidak ada kontrol dan pemberian pelayanan dari Negara memungkinkan anak-anak menjadi korban ESKA dengan menjerumuskan mereka ke praktek prostitusi. Di Sunan Kuning, ILO-IPEC (2004) memperkirakan 20% dari PSK adalah anak-anak.

Penjerumusan anak-anak ke dalam prostitusi seringkali juga terkait perdagangan manusia. Perputaran uang dalam kejahatan seksual terhadap anak-anak (dan perempuan) sangat tinggi. ILO memperkirakan perputaran uang di dalam perdagangan manusia mencapai 12 milyar dollar per tahunnya (dalam lembar fakta UNICEF).

Mengenai indikasi adanya perdagangan anak khususnya untuk tujuan seksual pertama kali dikemukakan oleh Yayasan Setara berdasarkan hasil penelitiannya mengenai anak jalanan perempuan di Semarang yang dilangsungkan pada tahun 1999. Ini mengacu kepada satu kasus anak jalanan perempuan yang diperdagangkan ke wilayah Batam (Shalahuddin, 2000). Pada tahun berikutnya, Yayasan Setara (2000), berdasarkan hasil monitoring terhadap anak-anak yang menjadi subyek penelitian sebelumnya menemukan 10 anak jalanan perempuan menjadi korban perdagangan anak untuk tujuan seksual. Pada tahun 2003, Yayasan Setara mencatat ada 14 anak jalanan perempuan yang diperdagangkan (Kompas, 13 Desember 2003)  Pola yang teramati, perekrutan dan pengiriman dilakukan dalam skala kecil. Biasanya berkisar antara 4-6 anak.  Daerah tujuan yang teridentifikasi adalah ke wilayah Batam. Namun penelitian Prabandari (2004), mengungkapkan adanya perubahan pola dan perluasan wilayah tujuan. Pengiriman anak-anak yang akan diperdagangkan telah melibatkan jumlah yang cukup besar. Setiap pengiriman dari Semarang berkisar antara 40-50 orang (termasuk anak). Pola demikian menunjukkan praktek perdagangan anak sudah lebih terorganisir. Sedangkan daerah tujuan telah berkembang tidak sekedar ke wilayah Batam, melainkan meluas ke wilayah Jakarta, Bangka,  Surabaya, Kalimantan, dan ke luar negeri.

Selain sebagai daerah pengirim, Semarang juga menjadi daerah tujuan. Anak-anak dari berbagai wilayah diperdagangkan dan dijerumuskan ke prostitusi di Semarang. Kasus yang pernah terungkap adalah kasus yang menimpa dua orang anak berumur 14 dan 16 tahun dari Wonosobo dan satu anak berumur 15 tahun dari Kendal yang diperdagangkan ke lokalisasi Sunan Kuning. Berdasarkan penuturan korban, mereka tergiur karena ditawari pekerjaan dengan gaji yang besar oleh orang yang menemui mereka di sekitar tempat tinggal anak (16 Desember 2004). Kasus lain menimpa seorang anak (13 tahun) yang diperkosa oleh empat orang, kemudian dijual dan diperdagangkan ke lokalisasi Gambilangu Semarang (Radar Semarang, 1 Desember 2007).

Pada tahun 2007, saya terlibat dalam penelitian mengenai prostitusi anak di Semarang dan sekitarnya bersama kawan-kawan dari Yayasan Setara. Penelitian ini mendapatkan dukungan dana dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan.

Pada masa itu, situasi sudah banyak berubah. Keberadaan teh poci sebagai tempat mangkal sudah tidak ditemukan lagi. Terjadi perubahan pola, yaitu menggunakan jasa calo/perantara yang akan mencari atau menawarkan kepada orang-orang yang tengah mencari PSK. Subyek bisa berada di lokasi atau bisa juga dia hanya menunggu di tempat lain. Bila ada kesepakatan, maka subyek akan dikontak atau dijemput oleh calo/perantara. Pola yang lain adalah subyek berpasangan dengan kawannya menggunakan sepeda motor mangkal di seputar kawasan Simpang Lima. Tempat mangkal bisa berpindah-pindah. Dua pola ini merupakan salah satu bentuk upaya pencegahan agar tidak mudah tertangkap bilamana ada rasia.

Saya sangat yakin tidak ada satu anak/orang-pun bercita-cita ingin terlibat dalam prostitusi walau ini menjadi cara termudah untuk mendapatkan uang, dengan kegemerlapan hidup yang mempesona. Tapi kita ketahui pula banyak kisah getir dan pahit yang bisa mengganggu kemanusiaan kita..

Pada penelitian ini, sebagian besar anak berharap bisa keluar dari prostitusi. Berikut saya kutipkan beberapa ungkapan dari anak:

”Kadang menyesal, tapi gimana lagi..?”  (DM, 17 tahun)

wis ngerasake kok jebule kerjo koyo ngene rak enek. Wis pokoke aku rak pengen kerjo koyo ngene maneh, kejam banget ternyata dunia malam” (Sudah merasakan ternyata kerja semacam ini tidak enak. Pokoknya aku tidak ingin kerja seperti ini lagi. Ternyata kejam sekali dunia malam) (LA, 17 tahun)

Aslinya dalam hati tidak merelakan kerja seperti ini, karena aku masih muda, belum berkeluarga. takutnya nanti kalau aku menikah nanti ada perselisihan keluarga.” (IM, 17 tahun)

Semarang, 21 Maret 2011

_____________________________

Tulisan-tulisan terkait:

Iklan

8 comments on “Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #7

  1. […] Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #7 0.000000 0.000000 Share this:MoreEmailPrintLike this:SukaOne blogger likes this post. […]

  2. […] di PenjaraHukuman Penjara Anak Mendorong Meningkatnya Kriminalitas Anak EKSPLOITASI SEKSUALKesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #7Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #6Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #5Kesekian Kali […]

  3. […] di PenjaraHukuman Penjara Anak Mendorong Meningkatnya Kriminalitas Anak EKSPLOITASI SEKSUALKesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #7Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #6Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #5Kesekian Kali […]

  4. […] Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #7 0.000000 0.000000 Share this:MoreEmailPrintLike this:SukaOne blogger likes this post. […]

  5. Ketidakinginan mereka untuk ‘pekerjaan’ sudah cukup menjadi cambuk tangan-tangan pekerja sosial untuk menarik mereka. Lebih dari cukup.

  6. […] Kesekian kali tentang Prostitusi Anak (7) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: