10 Komentar

Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #6

Oleh:  Odi Shalahuddin

Ih, Mami…..

Ya, seperti pada tulisan sebelumnya, pada awal 2000-an, Semarang memang benar-benar menjadi semarak kehidupan malamnya. Terutama di kawasan Simpang Lima yang menjadi landmark kota ini.

Sebelumnya saya bersama kawan-kawan sering menghabiskan malam di kawasan Simpang Lima, tiduran dengan meminjam tikar pemilik warung, atau berebah begitu saja di tengah lapangan tanpa alas hingga pagi menyapa. Bila malam minggu, puluhan atau bahkan bisa seratus lebih anak-anak jalanan dari berbagai lokasi mangkal akan tumpah ruah di Simpang Lima, sehingga hampir seluruh ruang akan dipenuhi orang yang menghabiskan malam.

Biasanya orang-orang dari berbagai lapisan, bisa berbaur di sini. Tidak peduli anak jalanan, mahasiswa, aktivis gerakan, anggota DPRD dan pejabat kota/propinsi, kelompok-kelompok pemuda, dan sebagainya sering kongkow hanya sekedar kongkow atau mendiskusikan hal-hal seriur. Ruang ini adalah ruang publik, ruang merdeka dan ruang demokratis.

Minuman dan makanan sangat murah. Bisa terjangkau oleh siapapun. Tapi ketika tumbuh warung teh-teh poci, maka harga segera menjulang tinggi. Teh poci yang biasanya berharga dua-tiga ribu, naik menjadi delapan ribu, lalu naik lagi menjadi sepuluh ribu. Bukan teh poci saja, apapun ya sepuluh ribu. Mau pesan mie rebus, teh, kopi, kopi susu,a atau minuman lain, harganya sama. ”Biar gampang ngitungnya, Mas,” tutur pemilik salah satu warung teh poci yang usianya kurasa belum ada 20 tahun.

Simpang Lima memang semakin ramai. Tapi wajah-wajah yang sering hadir sudah mulai berubah. Kehadiran para ciblek, membuat banyak orang khawatir untuk kongkow-kongkow di sini. Jadi bisalah mudah untuk ditebak, siapa saja yang akan singgah di tempat itu, khususnya di bagian barat dan utara. Malah, kalau diperhatikan, justru banyak orang-orang yang berasal dari luar kota. Tampaknya ada rasa penasaran membaca atau menonton liputan tentang ”ciblek” atau bahkan ingin mencobanya?

Kawan-kawan di Yayasan Setara, sering nongkrong di sini. Mereka turut mendampingi anak-anak dan berupaya untuk menarik keluar dari situasi tersebut. Memang, hal itu dirasakan sangat sulit. Suatu malam mereka mengajakku nongkrong di Simpang Lima, di sebuah warung.

”Ini dulu maminya X dan Y” bisik kawan itu ”Masih ingat?”

Ya, tentu saja aku masih ingat. X dan Y. Mereka dua kakak beradik yang pernah aku ceritakan padamu juga (lihat bagian pertama di SINI). Mami ini adalah kawan baik dari ibu si anak. Mereka di titipkan (aku malah menangkap kesan bahwa sesungguhnya mereka dijual oleh ibunya sendiri) dan diminta tinggal bersama Mami ini. Sang Mami, berdasarkan cerita  yang sering kudengar, memang sudah lama menggeluti bisnis prostitusi. Rumah yang dijadikan sebagai tempat prostitusi sangat dikenal di Semarang bagian selatan. Ia juga tega menjual keperawanan anaknya sendiri. Demikianlah kisah yang kudengar.

Mami, katakanlah begitu tanpa menyebut yang lain, adalah seorang perempuan setengah baya. Umurnya sudah di atas 40 tahunan. Gurat-gurat kecantikan masih sangat terlihat. Ia terlihat sangat ramah dengan siapapun. Diajak ngobrol juga menyenangkan. Biacaranya sangat terbuka, blak-blak-an dan seringkali membuat orang risih atau malu bila sudah berbicara seputar seks.

Ia tidak canggung-canggung mengakui dirinya seorang hypersex. ”Saya itu mas, kalau sudah kebelet, siapa saja langsung saya ajak. Pernah, lagi pingin bener, tidak ada tamu yang datang. Saya lihat keluar ada pemulung, langsung saya ajak saja.” katanya sambil tertawa. ”Itu kelainan bukan, Mas? Itu berdosa tidak, Mas?”

Wah, sulit untuk menjawabnya.

Seorang lelaki muda yang diperkenalkan kepada diriku sebagai pasangan Mami Cuma mesam-mesem saja. Lelaki muda yang mengaku kepada diriku seorang mahasiswa semester III. Tentang diri lelaki ini, Mami juga ceplas-ceplos menceritakannya. ”Nah, kalau saya sudah mengincar orang, saya tidak tergesa-gesa Mas. Seperti dia ini. Wah, saya rawat dulu, tiap hari saya suruh olah raga, saya kasih telor ayam kampung dan madu serta vitamin lainnya. Ya biar dia sehat dan bisa ngimbangi Mami. Eman-eman (sayang), kalau masih muda tapi tidak tahan,”

Lelaki di dekatku hanya tersipu malu. Entah bagaimana perasaa hati sesungguhnya ketika kisah yang mungkin seharusnya rahasia dapur terungkap ke muka di hadapan orang-orang yang baru dikenalnya.

Sebuah mobil mendekat, mami dengan sigap mendekat. Sebentar berbicara dengan penumpang lalu menoleh ke arah anak buahnya yang berada di tenda warung lesehan. Eh, butuh empat, ayo, cepat. Cari kawan sana,”

”Ikut sama Mami pasti senang, Mas. Mereka bisa dibayar mahal. Coba kalau cari sendiri, belum tentu seratus laku,”

”Lha, pasang tarif berapa Mi? Minimal 200 ribu, dan tambahan  50 ribu buat mami,”

“Nanti mami dikasih anak-anak lagi? Cepet kaya, dong?”

“Ya, kalau itu tergantung sama anak-anaknya. Kalau baik, ya Mami dikasih lagi,”

Lama berbincang, kami berjalan lagi. Kawan saya mengatakan bahwa anak-anak jalanan perempuan yang dulu pernah saya kenal, sudah mulai banyak juga yang bekerja di teh-teh poci ini. Ia menyebutkan beberapa nama yang memang saya kenal dan masih ingat wajahnya ketika mereka masih sangat muda, berumur 10 tahun-lah.. Tapi itu lebih lima tahunan yang lalu. Tapi sayang, tidak ada satupun yang bisa dijumpai pada malam itu.

Ah, dunia, dunia, sungguh aneh kehidupan manusia. Kerasnya kehidupan bisa membuat orang-orang mengambil banyak kesempatan untuk mendapatkan keuntungan. Termasuk juga dengan mengorbankan kehidupan anak-anak di masa kini dan masa depannya.

Ah, ancaman terhadap anak-anak merupakan ancaman nyata yang dihadapi. Dia bisa mengancam siapapun dengan beragam cara. Kuingat, ada satu lagu yang perlu juga engkau dengarkan. Klik sajalah jangan ragu: ANCAMAN dari ALHABIS (Alhamdullillah Bisa Nge-band) sebuah kelompok yang personilnya adalah mahasiswa Fakultas Filsafat UGM.

Semarang, 21.03.11 (detik-detik menjelang pergantian hari)

______________________________

Tulisan-tulisan terkait:

Iklan

10 comments on “Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #6

  1. […] Mendorong Meningkatnya Kriminalitas Anak EKSPLOITASI SEKSUALKesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #7Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #6Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #5Kesekian Kali tentang Prostitusi Anak #4Kesekian Kali […]

  2. […] Mendorong Meningkatnya Kriminalitas Anak EKSPLOITASI SEKSUALKesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #7Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #6Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #5Kesekian Kali tentang Prostitusi Anak #4Kesekian Kali […]

  3. […] Mendorong Meningkatnya Kriminalitas Anak EKSPLOITASI SEKSUALKesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #7Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #6Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #5Kesekian Kali tentang Prostitusi Anak #4Kesekian Kali […]

  4. […] Tentang Odi Shalahuddin Bekerja pada isu (hak-hak) anak yang telah digeluti sejak tahun 1990. Sejak tahun 1994 hingga sekarang aktif di Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN). Banyak menulis tentang masalah anak-anak, fiksi (cerpen dan puisi) dan masalah sosial-budaya. Berharap tulisannya dapat memberi arti, setidaknya untuk diri sendiri, walau berharap orang lain bisa juga menikmati. Lihat semua tulisan oleh Odi Shalahuddin » « Kesekian Kali tentang Prostitusi Anak #4 Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #6 » […]

  5. […] Kesekian kali tentang Prostitusi Anak (6) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: