8 Komentar

Kesekian Kali tentang Prostitusi Anak #4

Oleh:  Odi Shalahuddin

Organisasi Pendamping Anak yang Dilacurkan

Berbagai studi atau penelitian mengenai prostitusi anak mulai bermunculan pada akhir tahun 90-an dan awal 2000-an. Demikian pula pembahasan masalah prostitusi anak dalam diskusi, seminar, lokakarya, pelatihan-pelatihan dan sebagainya sering terselenggara. Hal paling penting, lahirnya program-program terutama dari organisasi non pemerintah untuk memberikan intervensi di dalam penanganan prostitusi anak.

Hasil studi terkait dengan ESKA yang hingga saat ini masih menjadi bahan rujukan adalah analisis situasi yang dilakukan oleh Mohammad Farid, seorang aktivis hak-hak anak yang pernah menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Analisis Situasi yang dilakukan pada tahun 1998 mengenaiKekerasan Seksual, Eksploitasi Seksual dan Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak, Farid memberikan perkiraan bahwa jumlah anak yang dilacurkan diduga mencapai 30% dari seluruh PSK yang ada di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa hal tersebut belum mencakupi anak-anak Indonesia yang dilacurkan yang berada di luar wilayah Indonesia. Berdasarkan perkiraan tersebut, bila mengacu kepada perkiraan jumlah PSK di Indonesia yang dinyatakan oleh Jones, Sulityaningsih dan Hull (1995) antara 140.000 – 230.000, maka didapatkan angka antara 40.000 – 70.000 yang masih dalam usia anak-anak. Namun bila mengacu kepada perkiraan dari Wagner dan Yatim (1997) yang memperkirakan jumlah PSK di Indonesia adalah sekitar 500.000 maka didapat angka 150.000 anak yang dilacurkan.

Dikatakan oleh Farid dalam analisis tersebut ada faktor yang harus diperhatikan terkait dengan definisi anak. Di Indonesia, seseorang yang telah menikah di usia berapapun,secara legal maupun kulturan tidak lagi dianggap sebagai anak. Hal ini tentu saja banyak sekali memperumit pemahaman mengenai pelacuran anak, karena pihak yang berwenang, orangtua dan masyarakat secara umum tidak menganggap prostitusi di bawah usia 18 tahun sebagai prostitusi anak sepanjang sudah berstatus menikah atau menjanda.

Prostitusi anak sebagaimana halnya dengan berbagai fenomena sosial lainnya merupakan fenomena gunung es. Apa yang terlihat belum dapat menggambarkan realitas sesungguhnya dan diyakini masih banyak yang tersembunyi.

Perkiraan yang dilontarkan oleh Farid, tentunya sudah banyak mengalami perkembangan. Studi-studi di berbagai kota menunjukkan adanya peningkatan jumlah anak yang dilacurkan. Namun, sayangnya, menurut DR Irwanto, seorang akademisi yang dikenal sangat intens memberikan perhatian terhadap isu hak anak dan juga menjadi Presiden Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak yang berafiliasi dengan ECPAT Internasional, menyatakan bahwa setelah lebih dari 11 tahun (maksudnya dari perkiraan data yang diungkapkan oleh Farid) Indonesia tidak memiliki data yang akurat dengan jumlah dan persebaran ESKA Sedangkan jumlah anak-anak yang terperangkap dalam praktik eksploitasi diperkirakan terus meningkat. Hal ini disebabkan karena permintaan untuk anak-anak oleh jaringan pelacuran di perkotaan dan di daerah wisata terus meningkat. Bahkan, jaringan pelacuran ini pun menggarap anak sekolah sebagai sasaran mereka (lihat Kompas, 2 September 2009).

Hal yang menggembirakan adalah mulai bermunculan organisasi-organisasi yang memberikan perhatian terhadap persoalan ESKA khususnya prostitusi anak. Sekedar menyebutkan beberapa diantaranya tanpa mengabaikan organisasi lain yang telah memiliki program serupa yang dapat dikatakan sebagai generasi awal yang memberikan perhatian terhadap penanganan prostitusi anak sejak antara akhir tahun 90-an hingga 2000-an awal,  yaitu Yayasan Setara (Semarang), Yayasan KAKAK (Solo), Yayasan Bahtera (Bandung), Yayasan Indrianati (Yogyakarta), Yayasan ALIT (Surabaya), Yayasan Bandung Wangi (Jakarta), Yayasan Kusuma Buana (Jakarta, tapi program mereka di daerah basis yaitu di Indramayu), YMKK (Batam), PKPA (Medan), SANTAI (Mataram).

Secara umum, pada awalnya organisasi-organisasi tersebut cenderung bekerja dan memfasilitasi anak-anak yang dilacurkan yang berada di jalanan. Pengecualian misalnya yang dilakukan oleh Yayasan Kusuma Buana yang melakukan program di desa-desa di Kabupaten Indramayu yang selama ini dikenal sebagai daerah pemasok prostitusi, dan YMKK yang melakukan pemantauan dan penanganan terhadap anak-anak yang dilacurkan yang berada di tempat-tempat hiburan di Batam.

Munculnya isu ESKA, disusul oleh isu mengenai perdagangan manusia khususnya perempuan dan anak. Ini ditandai dengan laporan Pemerintah Amerika Serikat pada tahun 2000 yang menempatkan Indonesia sebagai negara tersier ke tiga. Artinya bahwa suatu negara yang memiliki banyak kasus perdagangan manusia namun belum ada langkah-langkah untuk berusaha mengatasinya. Isu ini juga menyeret organisasi-organisasi yang semula bekerja pada isu ESKA ke isu perdagangan manusia walau kelompok basisnya tidak berubah.

Memang isu ESKA bisa terkait dengan isu perdagangan manusia, namun lebih bersifat khusus, yaitu perdagangan anak untuk tujuan seksual, dalam hal ini juga menyangkut prostitusi anak sebagai tujuan perdagangan yang dinilai bersifat eksploitatif. Banyak pihak menempatkan bahwa seluruh anak yang dilacurkan adalah korban perdagangan manusia. Namun, mengacu kepada definisi perdagangan manusia yang mengandung tiga unsur yaitu perekrutan dan pemindahan, cara-cara yang digunakan untuk merekrut dan tujuan untuk dieksploitasi, maka tidak bisa dikatakan prostitusi anak sebagai kasus perdagangan. Bila seorang anak misalnya dijerumuskan di prostitusi namun tidak ada perpindahan wilayah (umumnya diberi batasan melewati batas kota/kabupaten), maka tidak bisa dikatakan sebagai kasus perdagangan anak untuk tujuan seksual. Ada istilah lain untuk menyebut situasi ini yaitu ”penjualan anak”. (Bersambung)

Yogyakarta, 20 Maret 2011

_______________________________

8 comments on “Kesekian Kali tentang Prostitusi Anak #4

  1. […] Prostitusi Anak #7Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #6Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #5Kesekian Kali tentang Prostitusi Anak #4Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #3 PERDAGANGAN ANAKPerdagangan Anak untuk Tujuan […]

  2. Angka-angka-nya menakutkan, merinding bulu kuduk saya.

  3. […] Kesekian kali tentang Prostitusi Anak (4) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: