6 Komentar

Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #1

Oleh:  Odi Shalahuddin

Dari Jalanan ke Prostitusi

Pada  proses penyusunan  laporan hasil penelitian tentang prostitusi anak di empat kota, pikiran melayang-layang, membuatku terasa terbang. Terbang, seolah-olah tak percaya dengan realitas yang terjadi. Benarkah semua ini? Apakah bukan sekedar mimpi? Atau hanya dongengan belaka dari hasrat purba?

Prostitusi anak, sentuhan dengan masalah ini, bukan hal yang baru buatku. Tapi tetap saja sesak nafas masih terasa. Di tahun 90-an, mungkin untuk pertama kalinya aku berkenalan dengan masalah prostitusi anak. Pada saat itu di Yogya, di sepanjang kawasan Malioboro bisa dijumpai beberapa titik yang biasa menjadi tempat mangkal. Di depan gedung Senisono, misalnya, yang sekarang sudah tergusur dan menjadi bagian dari halaman Gedung Agung, istana kepresidenan, atau di depan sebuah hotel di ujung jalan bagian utara Malioboro. Beberapa tempat di kawasan itu juga dikenal sebagai tempat-tempat mangkal prostitusi, di mana keberadaan anak masih mudah dijumpai. Beberapa kawan yang pada masa itu masih bersekolah di tingkat SMA, menceritakan tentang mudahnya mencari anak-anak sebaya mereka yang telah melakukan kegiatan semacam. Memang tidak mudah menembus wilayah itu. Harus ada yang kenal dan mereka main pilih.

Memang pada masa-masa itu bisa dikatakan keberadaan prostitusi anak memang sangat tersembunyi. Di luar keberadaan mereka yang berada di jalanan, tempat-tempat seperti mall menjadi tempat mangkal mereka.

Ketika saya pertama kali membantu seorang kawan yang tengah menangani anak jalanan di Semarang pada pertengahan  tahun 1990-an, saya menjumpai banyak sekali anak-anak perempuan yang juga tinggal di jalanan. Interaksi yang tinggi para pendamping dengan mereka, dan pertemuan-pertemuan sesama mereka terungkap bahwa sebagian dari mereka juga berada di prostitusi.

Pada suatu saat, kami mencoba untuk mencatat  nama-nama yang diketahui berada di prostitusi yang biasa mangkal di salah satu pusat pertokoan. Hasilnya mengejutkan, kami memiliki 54 daftar nama anak. Berdasarkan informasi dari mereka, kami juga mengetahui adanya anak laki-laki yang menjadi gigolo yang biasa mangkal di depan sebuah hotel berbintang. Untuk pertama kali kami mengenal istilah yang konon menjadi nama kelompok mereka: Balola atau bajingan lonthe lanang. Sayang, pada saat itu kami tidak berkesempatan untuk bertemu atau berkenalan dengan kelompok ini.

Kembali ke dunia jalanan, terdengar informasi bahwa ada dua anak jalanan perempuan yang baru berkumpul bersama kawan-kawan. Saat kami bertemu dan berbincang-bincang, mereka sesungguhnya bukan anak jalanan. Mereka mengakui, sebelumnya mereka tinggal di sebuah tempat, dipekerjakan untuk memenuhi hasrat nafsu seksual para lelaki. Dua orang ini kakak-beradik. Keduanya mengaku lari dari tempat itu, bertemu dengan anak jalanan, dan mereka menganggap kehadirannya disambut ramah sehingga mereka bergabung. Saya menitipkan pesan kepada kawan-kawan yang lain, untuk mengajak kedua anak itu turut mengamen. Setidaknya agar mereka memiliki uang untuk bertahan hidup dan tidak mudah dijerumuskan lagi ke prostitusi. Keduanya dipisah mengikuti kelompok-kelompok yang biasa mengamen di dalam bus jurusan luar kota.

Suatu malam, ketika berkumpul bersama para pendamping (sebagian besar adalah mantan anak jalanan) di sekitar kawasan Simpang Lima, dua anak itu ikut serta.

”Mas, saya sempat menangis. Setelah ngamen pertama kali mendapat uang dua puluh ribu, saya benar-benar menangis. Uang itu tidak seberapa dibandingkan yang saya dapatkan sebelumnya yang bisa mencapai ratusan ribu. Tapi saya merasa ini saya dapatkan dari hasil keringat saya sendiri. Terima kasih ya Mas, diberi kesempatan,” demikian dikatakan salah satu anak yang termuda.

Saya sendiri sempat terharu mendengarnya. Berbincang tentang kehidupan. Mencari jati diri. Menjadi diri sendiri. Bermimpi tentang masa depan.

Selang sepuluh tahunan lebih, ketika hampir bersamaan bertemu dengan dua orang kakak beradik ini. Saya bertemu mereka bergantian dengan waktu yang berbeda, namun di tempat yang sama ketika saya tengah menunggu bus untuk kembali ke Yogyakarta. Mereka memang benar-benar tidak pernah terjun ke prostitusi lagi. Sang adik sudah menikah dengan seorang yang dikenal sebagai copet dan pada saat bertemu suaminya tengah berada di penjara. Ia sendiri bekerja pada sebuah agen bus. Sedangkan kakaknya juga sudah menikah dan bekerja pada agen bus yang lain.

Ketika iseng saya menanyakan tentang kemungkinan ia terlibat dalam prostitusi, salah satunya menjawab “Ya, gak lagilah. Sejak dulu ketika bertemu Mas dan kawan-kawan sudah tidak berpikir ke situ,”

Yogyakarta, 19 Maret 2011

_______________________________

Tulisan-tulisan terkait:

Juga lihat link berikut:


Iklan

6 comments on “Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #1

  1. […] berharap orang lain bisa juga menikmati. Lihat semua tulisan oleh Odi Shalahuddin » « Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #1 Kesekian Kali Tentang Prostitusi Anak #3 […]

  2. Miris.
    Saya ‘haus’ dengan keberadaan mereka.
    Ini persoalan serius yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
    Tulisan-tulisan seperti ini akan saya buru mas Odi, merasa perlu mempelajarinya untuk bisa bertindak dengan bekal berisi.

  3. […] Kesekian kali tentang Prostitusi Anak (1) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: