Tinggalkan komentar

Anak-anak yang Dilacurkan #5 (Tamat)

Anak yang dilacurkan (prostituted children) adalah istilah yang digunakan oleh pihak-pihak terutama para aktivis hak anak untuk menghindari penggunaan istilah pelacur anak (child prostitutes). Sedangkan istilah pelacuran anak digunakan untuk menyebutkan situasinya. Hal ini menyiratkan kesadaran bahwa anak-anak yang berada di dalam prostitusi adalah sebagai korban. Anak dianggap belum cukup mampu untuk mengambil keputusan memilih pekerja seks sebagai profesi.

Penggunaan istilah ”anak yang dilacurkan” sekaligus berarti bahwa orang-orang yang memanfaatkan atau menggunakan seksualitas anak ditempatkan sebagai pelaku kejahatan.

Semangat ini mulai mengemuka ketika dilangsungkan Kongres Dunia Pertama mengenai Penghapusan Ekspolitasi Seksual Komersial terhadap Anak (ESKA), pada tahun 1996 di Stockholm, Swedia. Kongres menghasilkan Deklarasi dan Agenda Aksi, yang salah satu butirnya menyatakan bahwa setiap negara peserta akan membuat Rencana Penghapusan  ESKA selambat-lambatnya pada tahun 2000. ESKA yang diidentifikasikan ke dalam tiga bentuk yaitu prostitusi anak, perdagangan anak untuk tujuan seksual dan pornografi anak, mulai menjadi isu bersama secara global.

Walaupun terlambat, Indonesia berhasil menyusun Rencana Aksi Nasional Penghapusan ESKA melalui Keputusan Presiden No. 87 tahun 2002.

Sayangnya, pelaksanaan atas Rencana Aksi dinilai belum efektif. Hampir sebagian besar propinsi/kota/kabupaten belum mengembangkan rencana aksi di tingkat wilayah masing-masing.

Maraknya persoalan prostitusi anak dan perdagangan anak yang disusul kemudian oleh isu pornografi anak di Indonesia, tampaknya tidak bisa tertangani dengan baik. Langkah-langkah yang dilakukan cenderung menggunakan pola lama, yaitu dengan razia-razia yang biasanya identik dengan tindakan kekerasan dan eksplotasi seksual. Anak masih ditempatkan sebagai pelaku kejahatan yang harus diadili dan diberi hukuman, sebagaimana ditimpakan kepada orang dewasa.

Karakter keberadaan anak yang dilacurkan yang pada periode sebelum tahun 90-an bersifat tersembunyi, kemudian meledak menjadi kasat mata di tahun 2000-an, kini kembali kepada karakter awalnya, yaitu bersifat tersembunyi. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengakses informasi keberadaan mereka. Berbagai jaringan kejahatan banyak yang beroperasi guna memenuhi nafsu para pedofil. Seringkali anak-anak yang berstatus pelajar (SMP dan SMA) telah dijerumuskan dan terpenjara dalam situasi buruk ini. Tidak hanya di kota-kota besar tapi telah menjalar ke berbagai kota kecil.

Merupakan tantangan untuk mengungkap dan menyelamatkan anak-anak dari situasi yang mengeksploitasi mereka. Mulai berupaya dari diri sendiri adalah bagaimana tidak mengumbar nafsu seksual kita kepada anak-anak. Bisa kita bayangkan bila diantara mereka adalah anak-anak kita sendiri? (Selesai)

4 Agustus 2010

____________________

Tulisan-tulisan terkait:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: