Tinggalkan komentar

Anak-anak yang Dilacurkan #2

Oleh  : Odi Shalahuddin

Mengenang S, yang kalau tidak salah pada saat ini telah memiliki dua anak dan masih tinggal di los sebuah pasar, membawa kenangan pula pada kehidupan malam di Semarang pada masa-masa itu. Kehidupan malam di ruang-ruang publik.

Hasil penelitian mengenai anak jalanan perempuan seperti disinggung di bagian (1) menemukan bahwa 46% dari mereka telah dijerumuskan ke prostitusi (jalanan).

Krisis ekonomi yang berkepanjangan yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997, pergantian kekuasaan rejim Orde Baru yang berhasil ditumbangkan melalui berbagai aksi massa di seluruh pelosok negeri dengan mencatatkan sejarah berdarah,  pembubaran berbagai lokalisasi di setiap kota/kabupaten atas desakan massa, dan berbagai peristiwa-peristiwa besar, saling silih berganti mewarnai pemberitaan. Pada masa-masa itu pula, kehadiran anak-anak yang dilacurkan di Semarang terlihat sangat menonjol.

Ciblek, nama sebuah burung yang mungil dan selalu berkicau, diplesetkan menjadi sebuah singkatan yang kepanjangannya adalah ”Cilik-cilik betah melek” atau dalam versi yang lain ”cilik-cilik iso digemblak”. Penggunaan istilah ini sendiri sebenarnya sudah muncul sejak pertengahan tahun 90-an ketika masyarakat Semarang tengah tergila-gila pada sosok burung ini. Namun pada tahun 2000-an istilah Ciblek semakin mengemuka dan dikenal tidak terbatas pada masyarakat Semarang namun bisa dikatakan menasional. Istilah ini menggeser sebutan yang telah ada sebelumnya seperti warrior dan aiwa.

Ciblek menunjuk kepada anak-anak perempuan yang berada di prostitusi. Untuk perempuan dewasa, ada istilah lain yang digunakan, yaitu ”prenjak” nama sebuah burung juga yang dijadikan singkatan yang kepanjangannya adalah ”perempuan nunggu di ajak”

Pada masa yang bersamaan, tampaknya fenomena anak-anak yang dilacurkan juga hadir di berbagai daerah. Hal yang dijadikan indikasi adalah adanya istilah-istilah khusus yang merujuk kepada mereka, seperti balok kosong, durian, rendan (kere dandan), dan sebagainya.

Kawasan Simpang Lima dan Jalan Pemuda menjadi dua tempat yang dikenal sebagai tempat untuk menemukan anak-anak yang dilacurkan. Keberadaan mereka lekat dengan menjamurnya ”warung teh poci” sebagai tempat mangkal.  Berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Shalahuddin (2000), pada tahun 1997 ditemukan 10 warung nasi dan teh poci, namun pada tahun 2000 sudah ada 25 warung teh poci hanya di seputaran lapangan Simpang Lima. Ini belum menghitung tumbuhnya warung-warung serupa di sepanjang jalan Pandanaran (jalan ke arah barat dari lapangan Simpang Lima). Di setiap warung, setidaknya ada 3-4 anak yang dilacurkan yang berbaur dengan perempuan-perempuan muda. (Bersambung)

3 Agustus 2010

____________________

Tulisan-tulisan terkait:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: