Tinggalkan komentar

Dokumentasi Tulisan tentang Tim Kemanusiaan Merdeka untuk Merapi #9

SURAT UNTUK PRESIDEN 

Harapan saya kepada Bapak SBY hanya ingin Pak SBY agar selalu mengingat rakyatnya dan membantu korban bencana Merapi yang menewaskan banyak orang. Dan Saya berdoa agar gunung berapi cepat tentram. Di sini saya mengungsi di Balai Desa Tlogo Prambanan. Saya juga berharap agar Pak SBY memberikan waktu luang untuk mengunjungi pengungsi tempat saya mengungsi. Semoga Pak SBY mendengar doa saya dan dapat mengabulkan permintaan saya.
(Ratna, 12 tahun)

Puluhan anak-anak berumur 6-14 tahun dari berbagai pos Pengungsian yang berkumpul di Sekolah Alam Marinir TNI AL di lapangan desa Tlogo, sibuk untuk membuatsurat yang ditujukan kepada Presiden. Kegiatan bersama anak-anak yang biasa dilakukan setiap hari yang didampingi berbagai organisasi termasuk TKM SAMIN, untuk kali ini lebih istimewa karena dilakukan bersamaan dengan penutupan sekolah alam. Para Marinir yang telah membantu para pengungsi selama masa tanggap darurat, sekitar sebulan lebih berpamitan.

Menulis surat merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan yang dilakukan pada hari Minggu (5/12). Kegiatan lain yang dilakukan adalah melukis bersama pada kain putih yang telah terpasang mengitari tenda sepanjang 25 meter, pementasan-pementasan dari anak, membuat topeng, workshop menari, dan membuat pohon harapan. Sekolah alam ini juga memberikan seluruh anak tas sekolah.

Naya,seorang anak Perempuan berumur 6 tahun yang masih duduk di kelas 1 SD, hanya menulis singkat: Saya minta kemiskinan tidak bertambah lagi. Terima kasih. 

Hal senada diungkapkan pula oleh Septi yang sebaya dengan Naya, juga masih duduk di kelas 1 SD: Saya minta agar kemiskinan bisa dituntaskan. Terima kasih presidenku. SBY-Budiono, tetap jaya.

Ada berbagai tulisan yang dibuat, menceritakan tentang bencana merapi yang melanda tempat tinggal mereka dan mengakibatkan kerusakan, situasi pengungsian, harapan dan permintaan-permintaan kepada presiden untuk memperbaiki Rumah, sekolah, dan juga memberikan mainan untuk anak-anak.

Salah satu surat yang dibuat oleh seorang anak perempuan bernama Putri yang masih duduk di kelas tiga SD, dibacakan di tempat itu.

Surat untuk Pak Presiden SBY…

Pak Presiden yang terhormat, 

Nama saya Putri Aji Wijayanti, kelas 3 SDN Glagaharho. Saya pengungsi dari Kokosan. Saya sedih sekali karena Rumah saya hancur diterjang awan panas. Rumah saya di Ngancar, Glagahharjo, Cangkringan, Selman. Umur saya 9 tahun. 

Saya juga sedih karena sekolahan saya juga hancur. Terus, paman dan ayahnya menjadi korban bencana gunung Merapi. 

Saya di pengungsian kalau tidur berdesak-desakan, mandi pun harus mengantri sampai malam. 

Sebelum Merapi meletus saya sudah mengungsi di tempatnya kakek saya. Di desa Ngancar semua rumah hancur tetapi yang ada di sebelah timur, sebagian rumah masih ada. 

Sekarang saya sekolah di SDN Pencar 2 di tempatnya kakek. Kalau mau berangkat sekolah, saya berangkatnya dari pengungsian.  

Saya ingin Pak Presiden menjenguk saya di Posko Pengunsian Kokosan. Saya juga ingin Pak Presiden membantu saya dan teman-teman supaya saya dan teman-teman bisa seperti dulu lagi. 

Walaupun saya rumah tidak ada lagi, tapi saya tetap bisa tersenyum, tetap semangat, dan akan terus belajar  

Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Presiden. 

Apakah presiden akan mendengarkan suara anak-anak yang terpaksa mengungsi meninggalkan tempat tinggalnya akibat bencana?

Yogyakarta, 9 Desember 2010

_________________________________

PENGUNGSI ANAK JADI KORBAN PELECEHAN SEKSUAL 

Tepat pada Hari Hak Asasi Manusia, 10 Desember, seorang relawan yang bekerja untuk anak-anak pengungsi sejak awal erupsi Merapi kepergok relawan lain tengah melakukan pelecehan seksual terhadap anak. Sang pelaku (36 tahun), relawan yang berasal dari Jawa Timur   yang biasa mengajari anak-anak mengaji, tak ayal sempat menjadi sasaran kemarahan warga, sebelum diamankan oleh Polres Klaten.

Peristiwa ini sontak menjadi bahan pemberitaan di berbagai media (lihat misalnya: DI SINI). Berdasarkan pengakuan pelaku, ia telah melakukan pencabulan kepada tiga anak laki-laki. Namun diduga ia telah melakukan kepada tujuh anak laki-laki yang berumur antara 10-14 tahun.

Peristiwa di atas, menepis pandangan bahwa kekhawatiran akan bahaya yang mengancam anak-anak seperti terjadinya kasus kekerasan seksual adalah sesuatu yang mengada-ada.

Kasus yang sekaligus telah menodai peringatan Hari HAM, bukan kali pertama dialami oleh anak-anak pengungsi. Seminggu sebelum peristiwa ini, saya membaca harian lokal di Jawa Tengah tentang terjadinya kasus pelecehan seksual di daerah Srumbung, Muntilan.

Pada hari ini (15/12), ketika menghadiri acara seminar ”Hasil Penelitian Cepat Situasi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat di Kabupaten Sleman”, yang diselenggarakan oleh UNICEF-Kementrian Sosial RI-Dinas Sosial Propinsi DIY-Sekber Perlindungan Anak DIY, dalam hasil yang dipresentasikan juga mencatat adanya kasus-kasus pelecehan seksual yang dialami oleh anak-anak pengungsi.

DR. Supartini, M.Si, peneliti Kementrian Sosial RI selaku Koordinator Peneliti Cepat ini, mencatat adanya empat kasus kekerasan seksual. Satu kasus terjadi di Posko JEC, dan tiga kasus terjadi di Posko Stadion Maguwoharjo.

Di JEC, seorang anak perempuan (17 tahun) mengaku sering diintip oleh oknum aparat ketika sedang mandi. Hal ini terjadi berulang-ulang. Sang korban yakin bahwa apa yang dialaminya juga dialami oleh anak-anak perempuan lainnya.

Di Stadion Maguwoharjo, pelecehan seksual dialami oleh seorang anak perempuan yang masih duduk di SMP. Pelakunya adalah seorang relawan lembaga kemanusiaan yang cukup terkenal. Kasus lainnya adalah kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh para anak laki-laki kepada anak-anak perempuan. Terungkap pula seorang perempuan (18 tahun), yang telah menjadi korban kekerasan seksual sejak usia SD, namun tindakan tersebut juga berlanjut di pengungsian.

Berkaca pada kasus-kasus di atas, pelaku kekerasan seksual terhadap anak adalah relawan kemanusiaan, oknum aparat, anggota keluarga dan sesama anak. Dengan kata lain, ancaman bisa datang dari siapapun tanpa kecuali.

Melihat kondisi pengungsian, kita bisa menyaksikan orang dewasa dan anak-anak baik laki-laki dan perempuan bisa tidur berjejeran. Selain itu kondisi penerangan di pos-pos pengungsian yang tidak memadai juga membuka peluang bagi terjadinya kekerasan seksual.

Tampaknya tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi di pos-pos pengungsian namun tidak mengemuka.

Kekerasan, terlebih kekerasan seksual terhadap anak, telah menjadi perhatian bagi organisasi-organisasi yang bekerja bersama anak-anak. Hampir seluruh organisasi non pemerintah internasional telah mengembangkan child protection policy, yang salah satunya memuat tentang tindakan kekerasan terhadap anak merupakan pelanggaran berat yang dapat berakibat pemecatan kepada staf-staf atau pemutusan hubungan kerja kepada konsultan-konsultan organisasi tersebut. Sebagian Ornop anak di Indonesia juga telah mengembangkan kebijakan perlindungan anak semacam itu. Termasuk dalam hal ini, kegiatan-kegiatan bersama anak, seluruh orang dewasa yang terlibat dituntut untuk menandatangani pernyataan kebijakan perlindungan anak.

Pada situasi emergency, potensi ”pelanggaran” terhadap hak-hak anak, terutama atas perlindungan dari kekerasan dan eksploitasi seksual merupakan ancaman nyata yang banyak terjadi dalam berbagai peristiwa pengungsian baik yang terjadi karena konflik bersenjata atau karena bencana.

Sebelum kita melakukan kampanye kepada orangtua/masyarakat guna mencegah terjadinya kekerasan seksual dan melakukan pemantauan untuk mendeteksi dugaan-dugaan terjadinya kasus-kasus semacam itu, memang diperlukan bahwa para relawan tidak sekedar menyatakan komitmen untuk bekerja bersama anak, melainkan juga menandatangani kebijakan perlindungan anak. Melanggar kebijakan merupakan pelanggaran yang bisa berakibat adanya teguran lisan dan tertulis hingga pemecatan terhadap relawan.

Memang relawan datang dengan keinginan tulus untuk membantu, tidak dipaksa dan tidak juga mendapatkan imbalan. Namun mempersiapkan prosedur termasuk juga melakukan pendataan terhadap para relawan serta meminta salinan identitas mereka tentulah bukan dilandasi oleh prasangka buruk. Itulah prosedur demi melindungi anak-anak, termasuk kemungkinan ancaman yang datang dari para relawan.

Yogyakarta, 15 Desember 2010

_____________________________

SAATNYA BERPISAH

HL di Kompasiana

Sayang, saya tidak berkesempatan hadir, ketika rekan-rekan dari Tim Kemanusiaan Merdeka Yayasan Sekretariat Anak MerdekaIndonesia(TKM-SAMIN) yang bekerja bersama anak-anak korban letusan Merapi melakukan acara perpisahan dengan anak-anak. Setidaknya sekitar 20 orang relawan yang berasal dari berbagai kota masih bertahan (selebihnya datang dan pergi) melakukan kegiatan bersama anak-anak secara rutin, yang telah dimulai sejak tanggal 28 Oktober 2010 atau dua hari setelah bencana Merapi.

Ribuan anak telah tersentuh dan pernah berkegiatan bersama sejak masa-masa di pengungsian hingga mereka bisa kembali ke desa asal atau di tempat hunian sementara. Total lokasi yang pernah tersentuh di atas 50-an lokasi. Namun ketika keadaan beralih normal dan sebagian besar pengungsi sudah bisa kembali ke desa asal, TKM SAMIN membatasi kegiatan hanya di 22 komunitas saja.

Hasil karya anak yang dipamerkan

TKM memilih dua kegiatan utama yaitu, pendampingan kepada anak untuk psiko-sosial dan distribusi makanan tambahan yang sesuai dan sehat bagi anak-anak. Distribusi kebutuhan logistik tidak menjadi prioritas. Hanya saja, TKM tidak menolak adanya bantuan-bantuan dari berbagai pihak untuk disalurkan atau didistribusikan kepada yang berhak.

Selama empat bulan lebih kegiatan yang dilangsungkan, TKM telah menerima dukungan dari berbagai pihak baik dukungan financial maupun barang-barang logistik. Ini seperti dari Terre des Hommes Netherlands, Jakarta Japan Network, Kinderfield, World Vision Indonesia, Alumni SMP 36 Jakarta Timur, kelompok-kelompok keluarga mahasiswa, komunitas seniman Kendal, komunitas anak jalanan semarang, dan para individu-individu yang peduli terhadap kehidupan anak-anak korban merapi.

“Temu Anak Merdeka”, itulah tema yang digelar, mempertemukan anak-anak dalam satu kegiatan yang dilangsungkan pada tanggal 27 Pebruari 2011 bertempat di Bumi Perkemahan Garongan, Wonokerto, Turi, Sleman. Diikuti sekitar 300-an anak dari 11 dusun di Desa Wonokerto, Girikerto, dan Donokerto Kabupaten Sleman dan dusun di Desa Srumbung.

Pada acara ini ditampilkan karya-karya anak yang pernah dihasilkan selama proses kegiatan, dilakukan workshop-workshop, dan pementasan-pementasan. Antusias anak-anak sangat tinggi dan bersemangat untuk mengikuti kegiatan. Dukungan dari orangtua, masyarakat, dan pemerintah setempat juga sangat terlihat. Hal ini seperti adanya sumbangan untuk panggung dan peralatan musik yang disediakan oleh masyarakat sendiri, berbagai kostum pementasan, keterlibatan bekerja bakti untuk menata ruang lapang yang digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara.

Mendengar kisah dari para relawan atas acara itu membuat saya sangat terharu. Betapa mereka telah meninggalkan segenap kegiatannya untuk hadir dan berbagi bersama anak-anak. Sebagian tidur seadanya di sekretariat SAMIN dan setiap hari harus mempersiapkan bahan-bahan, pergi menuju lokasi, dan melakukan berbagai kegiatan bersama anak dan masyarakat. Mereka datang dengan hati, tidak menjanjikan apapun, menempatkan diri sebagai kawan, sahabat, dan saudara. Rentang waktu yang terbangun telah membangun jalinan hubungan antar manusia yang intens.

Maka tidaklah mengherankan apabila pada puncak acara tersebut, anak-anak banyak yang menjerit, menangis, dan tidak menginginkan adanya perpisahan. Hal ini juga berpengaruh pada para relawan yang tak kuasa pula menahan tangisnya.

Memang, ada perjumpaan ada pula perpisahan. Perpisahan yang bukan sesungguhnya sebab komunikasi masih bisa dilanjutkan. Kesempatan ke depan untuk singgah dan disinggahi masih sangat terbuka.

Saya sendiri harus mohon maaf kepada seluruh relawan TKM, tidak bisa hadir dalam acara tersebut karena tengah berada di luar kota, dan hingga saat ini masih melakukan perjalanan.

Terima kasih dari saya dan segenap keluarga besar SAMIN kepada seluruh relawan yang telah mendedikasikan dirinya untuk kepentingan anak-anak. Percayalah, bahwa apa yang telah dilakukan, pastilah memiliki makna bagi kehidupan anak-anak itu.

Selamat jalan para relawan, selamat kembali ke kota masing-masing dan kembali melakukan kegiatan yang telah lama ditinggalkan. Bila kelak ada kesempatan datang ke Yogyakarta kembali, janganlah ragu untuk singgah. Pintu senantiasa terbuka!

Yogyakarta, 3 Maret 2011

___________________________


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: