Tinggalkan komentar

Dokumentasi Tulisan tentang Tim Kemanusiaan Merdeka untuk Merapi #5

MERAPI 

tenang
tenang
sudah tenangkah dirimu?

perutmu yang bergolak
dan muntahan lewat batukmu
usaikah sudah?

ratusan orang terenggut nyawanya
ratusan ribu orang berpindah dari tempat tinggalnya
sudahi saja segenap kisah duka mereka

Merapi,
tenang,
tenang
tenanglah dirimu
tenanglah kami semua

Yogyakarta, 18 November 2010

_________________________

TUHAN, AKU YAKIN KAU TIDAK LELAH

bencana demi bencana yang melanda Indonesia
kuyakin bukan adzab darimu, Tuhan
tapi irama alam semesta yang tidak lagi berada dalam putarannya
lantaran ulah manusia dengan keserakahannya yang meraja
atau bahkan mungkin terlena dan larut dalam lupa
kuyakin itu, Tuhan,
sebab ketika semesta tercipta, telah kau lepas ia untuk bekerja

pada setiap bencana, selalu saja berulang kebodohan yang sama
tentang orang-orang yang selalu saja berkata-kata
tentang peringatan darimu, kepada para korban yang dinilai menjadi para pendosa
dan ini disiarkan dalam berbagai ruang-ruang agama
tentang ini, aku tidak yakin, Tuhan
walau dalam keyakinan, semuanya adalah atas kehendak-Mu
tapi manusia pulalah yang harus senantiasa menjaga keseimbangan
dan bersikap waspada terhadap berbagai kemungkinan ancaman bencana

pada setiap bencana, selalu saja berulang kebodohan yang sama
tentang para penguasa yang masih gagap,
suntuk bermain dalam ruang prosedur dan administrasi
sedang para korban butuh pengungsian yang aman, nyaman,
dan terjamin kelangsungan hidupnya

pada setiap bencana, anugrah dariMu, menjelma melalui hati dan sosok
ratusan orang-orang yang ringan bergerak membantu sesamanya
para relawan yang tak henti bekerja, ke dalam wilayah-wilayah bahaya
hingga kematian juga sering membayang-bayangi mereka

Tuhan, ketika nama-Mu digemakan, dengan berjuta permintaan
kutahu, kau tak pernah lelah, dan tak akan pernah lelah
karena diri-Mu memanglah tempat meminta

Yogyakarta, 19 November 2010

__________________________

MENU MAKANAN BAGI ANAK-ANAK PENGUNGSI

Hal yang biasanya terjadi di daerah-daerah pengungsian (akibat bencana ataupun konflik bersenjata) adalah ketidaksadaran mengenai menu makan bagi anak-anak. Berbagai dapur umum yang dibuat untuk kebutuhan pengungsi, baik yang didirikan dan dikelola oleh para relawan ataupun oleh para pengungsi sendiri, biasanya memasak untuk kebutuhan orang dewasa. Tatkala makan didistribusikan, barulah tersadar anak-anak tidak cocok dengan menu yang telah dimasaknya. Misalnya masakan terlalu pedas dan atau terlalu asin.

Pada akhirnya anak-anak hanya bisa menikmati nasi-nya saja. Para ibu, bila berkesempatan akan menggoreng lauk, biasanya telur, atau justru memasak mie instan yang sama sekali tidak sehat bagi anak. Pengulangan-pengulangan semacam ini terus saja terjadi, tanpa ada upaya untuk memperbaikinya. Berbagai pertemuan koordinasi baik yang melibatkan segenap pihak yang bekerja untuk para pengungsi ataupun pihak-pihak yang memang memfokuskan pada pengungsi anak-anak, hal ini kerap disinggung. Semua bisa menyadari, tapi setelah itu tidak ada langkah-langkah yang dilakukan.

Belajar dari pengalaman penanganan korban gempa, Tim Relawan Kemanusiaan pernah mengembangkan Dapur Umum khusus untuk Anak. Dapur ini dikelola oleh kaum perempuan di masing-masing wilayah. Peralatan masak dan bahan makanan disupport oleh TKM. Menu dibahas bersama anak-anak di sela berbagai kegiatan harian yang terus dilakukan.

Pengalaman ini coba akan dipraktekkan lagi di dalam penanganan anak-anak korban bencana Merapi. Sayangnya, rencana ini tidak bisa berlangsung mulus. Mendiskusikan dengan pengelola dapur-dapur umum yang ada, mereka menyatakan telah sangat sibuk untuk mengurusi ribuan jiwa pengungsi. Pembedaan menu untuk anak-anak dinilai akan menyulitkan kerja-kerja mereka. Untuk melibatkan para pengungsi sendiri khususnya kaum perempuan, kendala juga dihadapi, yaitu basis pengungsian yang setiap hari berubah. Ada pengungsi yang sampai tujuh kali berpindah tempat.

Akhirnya diputuskan untuk mendistribusikan, walau tidak secara rutin, makanan tambahan bagi anak yang diselingi dengan makan besar. Beruntung ada satu katering yang bersedia membantu untuk memasakkan dan membungkusnya. Beruntung pula ada anggota masyarakat yang menyatakan kesediaan memberikan kontribusi bagi makan dan makanan tambahan bagi 300 anak. Semoga, di lain tempat ada pula yang melakukan kegiatan serupa.

Pada saat mengikuti beberapa distribusi buah-buahan, secara umum semuanya bisa berlangsung lancar. Anak-anak bersifat kooperatif, tidak berebutan, dan sabar menanti giliran. Hanya di salah satu lokasi yang membuat diri menjadi shock, ketika orang-orang dewasa menyerobot begitu saja, paket buah yang sudah ditangan anak, atau meraih paket-paket yang ada di keranjang. Sedangkan anak-anak sudah antri dalam tiga barisan secara teratur. Kami harus menahan sedih ketika anak-anak yang antri justru banyak yang tidak mendapatkan buah-buahan. Sedangkan paket yang disediakan sudah dilebihi sekitar 50-an paket. Beberapa anak yang belum dapat segera dicatat untuk disusulkan. Tapi wajah-wajah mereka tampak sedih menyaksikan anak-anak yang lain telah menikmati buah-buahan.

Sejak kemarin, perkembangan Gunung Merapi dinilai sudah lebih membaik. Batas wilayah bahaya telah diturunkan. Sejak kemarin, pengungsi-pengungsi sudah mulai kembali ke desa tinggalnya atau berpindah ke lokasi pengungsian yang tidak jauh dari desanya. Beberapa pengungsian yang selama ini jauh dari daerah bahaya sudah mulai dikosongkan.

Semoga saja Merapi benar-benar sudah tenang, terlelap kembali. Masyarakat bisa berbenah membersihkan rumah-rumahnya dari debu. Bagi Masyarakat yang kehilangan tempat tinggalnya dapat segera mendapat bantuan untuk mendirikan rumahnya kembali.

Pada proses rehabilitasi, anak-anak tentunya masih membutuhkan perhatian. Menu makanan mereka juga harus dipikirkan. Bila masyarakat sudah berada di wilayah tempat tinggalnya, bukan hal yang tidak mungkin mengerahkan potensi masyarakat untuk secara khusus menyediakan menu-menu yang sehat bagi anak. Semoga saja……

Yogyakarta, 20 November 2010

_________________________

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: