Tinggalkan komentar

Dokumentasi Tulisan tentang Tim Kemanusiaan Merdeka untuk Merapi #4

Relawan Juga Manusia

Pada berbagai kasus bencana yang melanda, keberadaan para relawan sangat dominan berada di garis terdepan dan kerapkali bahkan lebih dahulu dibandingkan kehadiran aparat Negara. Pekerjaan yang dilakukan tak jarang penuh resiko dan bisa mengancam keselamatan jiwa mereka.

Pada bencana letusan Merapi, ribuan relawan telah hadir, bergerak dan bekerja di berbagai sektor. Ada yang berkonsentrasi pada upaya-upaya evakuasi, pendistribusian logistik untuk memenuhi kebutuhan ratusan ribu pengungsi, memberikan pelayanan kesehatan, mendampingi anak-anak, dan sebagainya.

Sungguh mulia, patutlah penghargaan diberikan kepada mereka yang telah rela meninggalkan kesibukannya untuk bisa berbagai kepada para saudara-saudaranya yang tengah dirundung duka.

Namun, relawan juga manusia. Seringkali situasi darurat yang dihadapi secara terus menerus dapat mengakibatkan ketegangan-ketegangan dalam pikirannya. Hal mana bila dipaksakan bisa berakibat buruk terhadap relawan itu sendiri. Karena itu, berbagai organisasi sosial sering menerafkan batasan periode tertentu bagi kerja relawan di lapangan. Menariknya untuk memberi waktu beristirahat, kemudian menempatkan kembali.

Cara lain yang juga dilakukan adalah dengan memberikan sarana pelepasan melalui berbagai metode terapi, sharing dan refleksi bersama. Inilah yang dilakukan oleh, salah satunya, Tim Kemanusiaan Merdeka (TKM) SAMIN, yang bergerak melakukan pendampingan terhadap pengungsi anak-anak.

”Mereka harus diberi pelepasan dan pencerahan. Bila tidak, akan berbahaya. Bila relawan tidak bisa berpikir jernih, maka keputusan-keputusan yang diambil bisa juga membahayakan kepentingan para korban,” demikian dijelaskan Hening Budiyawati yang memfasilitasi  workshop ini.

Diikuti oleh sekitar 25-an relawan yang diistirahatkan dari seluruh lokasi, pada tanggal 10 November 2010, selama satu hari penuh mereka diajak bermain-main, sharing pengalaman, merefleksikan pengalaman di lapangan, dan mendiskusikan gagasan-gagasan yang bisa dilakukan ke depannya.

Semoga hasilnya bisa sesuai harapan, dan langkah selanjutnya bisa lebih baik lagi mendampingi anak-anak dengan berbagai metode yang beragam, membuat anak-anak berbahagia. Lebih dari itu, harapan kita semua agar para pengungsi dapat segera kembali ke desa asalnya.

Yogyakarta, 13 Desember 2010

_________________________

YANG TERBAIK BAGI ANAK

Niat baik tidak selalu menghasilkan sesuatu yang baik. Beberapa hari ini saya sering sekali mendengar keluhan sekaligus keprihatinan terhadap kondisi anak-anak di berbagai lokasi pengungsian, khususnya di Yogyakarta. Terutama yang terkait dengan kegiatan-kegiatan mereka.

Banyaknya kelompok/organisasi yang memiliki kepedulian terhadap anak-anak, ini tentunya suatu situasi yang menggembirakan. Namun bila banyak organisasi melakukan kegiatan serupa terhadap anak-anak di satu tempat pengungsian dengan jadwal yang berbeda-beda di hari yang sama sedangkan kegiatan dan tujuannya hampir serupa, maka anak-anak merupakan kelompok yang paling padat memiliki acara. Dari pagi hingga malam hari.

Tentu dibutuhkan koordinasi bukan hanya antara pengelola pengungsian dengan masing-masing organisasi, melainkan juga antar kelompok/organisasi. Bila mana perlu, masing-masing kelompok/organisasi bisa bekerjasama dan melangsungkan kegiatan bersama, tidak perlu sendiri-sendiri.

Suatu jaringan yang dibentuk atas inisiatif dari Dinas Sosial Propinsi DIY bersama UNICEF dan didukung oleh World Vision Indonesia, Plan Internasional, Save the Children, dan Yayasan SAMIN, yaitu Sekretariat Bersama Perlindungan Anak Propinsi DIY, kiranya bisa menjadi jembatan bagi koordinasi antar kelompok/organisasi yang bekerja bagi anak-anak.

Sekber Perlindungan Anak tengah mengadakan Workshop Perlindungan Anak yang  diselenggarakan di aula lantai II Dinas Sosial untuk tiga angkatan, yaitu pada:

  1. Kamis, 11 November 2010
  2. Sabtu, 13 November 2010
  3. Senin, 15 November 2010

Pada workshop yang difasilitasi oleh Ali Aulia Ramly (UNICEF), Pitoyo Susanto (WVI) dan Hening Budiyawati (TKM-SAMIN), setiap angkatannya melibatkan sekitar 60-an relawan dari berbagai organisasi, seperti: Lembaga Perlindungan Anak, Tim Kemanusiaan Merdeka Yayasan SAMIN, SAKTI Peksos, Rumah Singah Anak Mandiri, Rumah Singgah Ahmad Dahlan, Tim STKS Bandung, TK Model, SD Tumbuh, Ikatan Guru TK Indonesia (TGTKI), Pondok Anak Ceria, Komunitas Anak Ceria, Himpunan Paud Indonesia (HIMPAUDI), Titian Silaturrahmi, PW NU DIY, dan sebagainya.

Workshop yang berisi materi mengenai konsep tentang Hak Anak, Gender, Kekerasan, perlakuan salah, perdagangan orang, anak yang terpisah dan tanpa pendamping, serta langkah-langkah untuk melakukan dukungan psyco-sosial ini, juga menjadi ruang pertemuan bagi para relawan yang kemungkinan besar saling bertemu di lokasi-lokasi pengungsian.

Nah, bagaimana kelanjutannya untuk saling bekerjasama sehingga anak memang benar-benar bisa menikmati kebutuhan dan hak-haknya dengan hati riang, sehingga mengabaikan duka yang tengah menyelimutinya. Dengan demikian, mengedepankan kepentingan yang terbaik bagi anak menjadi syarat utama yang tak bisa ditawar! Kami Tunggu!

Yogyakarta, 15 November 2010

_________________________

BELAJAR JADI RELAWAN (1)

Bara, anak keduaku, yang masih duduk di kelas 1 SMP,  bikin ulah lagi. Beberapa hari ini ia berusaha agar mendapat ijin dari ibunya untuk mandi di kali code. Nah, loh…! Tentu saja larangan segera datang, termasuk main sepeda bersama kawan-kawannya. Khawatir saja, main sepeda, sampai pula ke kali code. Bukankah ancaman banjir lahar dingin sudah berkali diingatkan?

Kini ia libur satu minggu karena peringatan Hari Raya Idul Adha. Kembali ia mendatangi ibunya.

“Aku mau ikut jadi relawan. Kalau gak boleh, aku mandi di Kali Code,” katanya.  “Aku mau kok angkat-angkat,”

Kami pikir, ya sudahlah. Kebetulan hari ini ada distribusi paket buah-buahan untuk anak-anak di tiga lokasi pengungsian di Masjid Agung Sleman dan GOR Pangukan dan Bumi Perkemahan Babarsari.

Ia kemudian ikut rombongan ibunya. Aku bersama kawan-kawan lain menyusul. Ketika di GOR Pangukan, rombongan ibunya akan menuju Bumi Perkemahan Babarsari, sedangkan rombonganku akan ke Muntilan mengambil barang-barang sumbangan dari Surabaya yang dititipkan truk dan diturunkan di Pom Bensin Muntilan. Bara memilih ikut ke Muntilan.

Aku melihat ia mencoba menikmati perjalanan. Aku mengingatkan untuk memakai masker dan helm. Selepas tempel hingga Muntilan jalan masih sangat berdebu. Pandangan mata menjadi terbatas. Di pinggiran jalan, terlihat rumah-rumah yang penuh dengan debu, pohon-pohon yang ambruk, dan pohon-pohon kelapa yang daunnya tidak tegar lagi. Pohon kelapa seperti payung yang sedang dikuncupkan.

Sampai di Pom bensin Muntilan, terlihat tumpukan rapi karung-karung pakaian bekas, beras, mie instans, dan kardus-kardus lainnya. Kulihat Bara sangat bersemangat berusaha mengangkat karung-karung itu ke atas truk..

”Bara berharap Merapi segera tidur lagi. Anak-anak dapat sekolah lagi,” demikian kata Bara ketika kutanya harapannya.

Sekitar pukul 8 malam kami telah tiba di sekretariat. Ketika kawan-kawan melakukan koordinasi harian, Bara sudah tergeletak pulas di antara tumpukan karung pakaian. Kelelahan sekali ia. Semoga saja ia bermimpi indah…..

Yogyakarta, 16 November 2010

_________________________

BELAJAR JADI RELAWAN (2)

Tidak mau kalah dengan adiknya yang belajar jadi relawan untuk mendistribusikan bahan makanan untuk anak-anak pengungsi, anakku yang pertama, Annisa Shavira Agusti Mardhika, yang sudah duduk di kelas 1 SMA, hari ini menyatakan akan ikut belajar jadi relawan berkegiatan bersama anak-anak..

Siang itu, ia turut bersama rombongan relawan yang melakukan kegiatan di desa Taji dan menjenguk Sekolah Alam yang dikelola oleh para Marinir di Prambanan-Klaten. (Selengkapnya lihat di bawah)


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: